Jangan Pernah Lelah Memelihara DNA Bangsa Indonesia

Jangan Pernah Lelah Memelihara DNA Bangsa Indonesia
info gambar utama

Pasti kita semua mafhum, Indonesia begitu kaya dan punya banyak sekali budaya dari berbagai daerah. Pakaian, makanan, bahasa, lagu atau kesenian khas suatu daerah. Tak hanya itu. Tata karma, sopan santun dan berbagi hal yang baik juga termasuk dalam budaya Indonesia dan telah mengakar sejak lama. Ini sebenarnya DNA bangsa Indonesia.

Sama seperti saat pertama kali mendapat informasi akan ada acara Bincang Budaya hari Sabtu lalu yang merupakan rangkaian kegiatan Festival Keraton dan Masyarakat ASEAN 2018 yang diadakan oleh @kemenkominfo @djikp di kota Sumenep. Bukan membahas tentang masalah sejarah dan budaya yang pernah kita dapatkan di sekolah dulu, ternyata jauh lebih dari itu.

Gawai saat ini bukan merupakan barang mahal yang hanya bisa dibeli oleh segelinitir orang, sebagian besar orang yang kita temui pasti sedang membawa dan menggunakan gawainya. Gawai kita adalah ‘the extension of our life”, perpanjangan dari kehidupan kita sehari-sehari. Bahkan, saat membaca tulisan ini pun, mungkin kawan-kawan menggunakan gawai juga.

Hasil survey Kominfo tahun 2017 pun ada sebanyak 54,68% pengguna internet aktif di Indonesia dan sebanyak 49,52% berada di rentang usia 19-34 tahun. Ibu Sofi dari Dinas Kominfo Provinsi Jatim menyampaikan data ini. Lalu apa hubungan gawai dengan budaya?

Pernah mendengar istilah no-violence communication culture?

Materi ini disampaikan oleh D. Zawawi Imron, salah satu narasumber. Sebagai seorang sastrawan dan budayawan daerah, beliau menyampaikan ke seluruh peserta, yang sebagian besar adalah generasi milenial, di era digital saat ini jangan sampai kebudayaan tata krama dan akhlak menghilang dari diri kita.

Bahkan berulang kali beliau mengingatkan dan memberikan contoh tentang kejujuran dan penggunaan bahasa yang santun, yang menjadi salah satu budaya di Indonesia. Menurutnya, kemuliaan seseorang itu saat lidah atau lisannya terpelihara. Dan hal ini juga berlaku dalam interaksi kita di media sosial, jangan sampai apa yang kita sampaikan di media sosial bisa menyakiti orang lain.

Ah, semakin kagum saya dibuatnya, di usia 73 tahunnya beliau masih semangat mencintai budaya Indonesia, terbukti saat disela-sela penyampaian materi, beliau beberapa kali berpantun sederhana dalam bahasa Madura dan membacakan puisi hasil karyanya.

Tak hanya itu, membaca dan menulis juga merupakan budaya yang harus terus kita tumbuhkan dan kembangkan. Mira Sahid, seorang Indonesian Lifestyle Blogger, berbagi tentang bagaimana cara menulis konten kreatif, dan hal ini bisa kita mulai dengan memperbanyak kosakata kita dengan banyak membaca.

Menulis bisa dilakukan melalui banyak media. Bahkan menulis atau berbagi cerita di media sosial, ini juga merupakan langkah awal kita para pemula untuk membuat konten kreatif, sebelum akhirnya kita benar-benar fokus menulis di blog atau media lain yang lebih besar.

Pemilihan judul tulisan yang unik adalah kunci dari sebuah konten kreatif. Tapi tak hanya itu, kita juga perlu memperhatikan isi tulisan kita, apakah yang kita tuliskan itu hal yang benar, bermanfaat, dan tidak menyakiti seseorang. Yes, you are what you write!

Dengan gawai yang kita miliki saat ini, apapun yang kita tuliskan di media sosial, penting sekali mengingat 2 pesan ini: "Saring sebelum Sharing" dan "Think sebelum posting". Karena menjadi tugas kita bersama untuk menjaga, mencintai dan melestarikan budaya di Indonesia. Setuju?


Sumber:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini