Mendambakan Anak Sehat dan Cerdas? Perhatikan 1000 Hari Pertamanya

Mendambakan Anak Sehat dan Cerdas? Perhatikan 1000 Hari Pertamanya
info gambar utama

“Kapan punya momongan?"

"Anaknya sehat dan cerdas banget, rahasianya apa ya?"

Dua pertanyaan yang mungkin sering diterima oleh para pasangan muda dan yang sudah punya momongan.

Memiliki buah hati adalah harapan setiap pasangan suami-istri yang sudah menikah. Apalagi dengan kondisi anak sehat dan cerdas, merupakan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri yang tak ternilai harganya bagi kedua orangtuanya.

Tapi perlu diingat bahwa antara harapan dan tanggung jawab harus berjalan beriringan. Apalagi dengan keinginan memiliki seorang anak yang sehat dan cerdas, tentu harus dibarengi dengan perhatian dan tanggung jawab yang penuh dari orangtua.

Bisa Anda bayangkan!

Banyak pasangan suami-istri yang sudah menikah, mendambakan anak, tapi karena faktor kesehatan atau yang lainnya, mereka tidak mendapatkan kesempatan itu. Bahkan tidak sedikit yang harus mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta untuk mendapatkan momongan. Sementara bagi sebagian orang, ada saja yang menelantarkan dan menyia-nyiakan anak.

Intinya, kalau Tuhan sudah menganugerahkan anak, maka sebagai orangtua wajib hukumnya untuk bertanggung jawab dan mengemban amanah tersebut.

Orangtua harus menunjukkan wujud tanggung jawab melalui kasih sayang. Beberapa tindakan nyata sebagai wujud kasih sayang orangtua terhadap anak, seperti merawat, melindungi, memenuhi kebutuhan, serta mendidik anak hingga mandiri.

Pentingnya 1000 Hari Pertama

Dari semua itu, ada satu hal yang tidak kalah penting. Bagaimana sesungguhnya merawat seorang bayi hingga 1000 hari pertamanya. Sebab kalau sudah melewati masa itu, maka tidak ada kesempatan lagi untuk mengulanginya. Banyak orangtua yang menyesal kehilangan masa-masa penting seperti itu hanya karena sibuk, ketidakpahaman atau mungkin karena kelalaian.

Mengapa 1000 hari pertama bagi seorang anak penting diperhatikan?

1000 hari pertama ternyata merupakan masa-masa pertumbuhan dan perkembangan yang paling mendasar bagi seorang anak. Tepatnya 270 hari (9 bulan) dalam kandungan serta 730 hari setelah dilahirkan (2 tahun). Jadi, kegagalan merawat dalam 1000 hari pertama, artinya sedang menyia-nyiakan atau menghancurkan puluhan ribu hari, ribuan minggu, ratusan bulan, bahkan puluhan tahun berikutnya, yang akan dijalani anak tersebut.

Kegagalan merawat anak dalam 1000 hari pertama, bukan saja akan mengganggu kesehatan yang bersifat sementara, tapi dapat mengganggu seluruh aspek kehidupan anak secara permanen atau hingga dewasa. Baik itu secara fisik, mental, rohani, dan sosialnya.

Ketika berbicara tentang kegagalan dalam merawat anak 1000 hari pertama, mungkin pembaca sering mendengar istilah stunting. Bahkan pemerintah sekarang sangat serius dan tidak henti-hentinya mengkampanyekan untuk bersama-sama memeranginya.

Sebab jika kondisi ini terus meningkat dan berlanjut, tentu dapat menurunkan tingkat produktivitas anak bangsa kelak. Begitu pula dengan kreativitas. Otomatis hal itu akan memengaruhi daya saing sebuah bangsa. Apalagi generasi yang lahir saat ini merupakan generasi emas. Generasi yang akan memimpin Bangsa Indonesia ketika memasuki "Indonesia Emas 2045".

Sesungguhnya, apa yang dimaksud dengan stunting?

Stunting merupakan kondisi seorang anak yang mengalami gagal tumbuh kembang, baik pertumbuhan secara fisik maupun otak. Hal itu dapat terjadi akibat kekurangan gizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, serta buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani yang di konsumsi. Sehingga, anak tersebut secara fisik lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Dari sebuah situs departemen kesehatan mengatakan bahwa "Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6% di atas batasan yang ditetapkan WHO (20%)."

Jadi masalah itu harus menjadi perhatian bersama. Memang utamanya untuk urusan asupan gizi dan vitamin harusnya menjadi tanggung jawab orangtua. Tetapi peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam membuat berbagai regulasi serta pengadaan fasilitas pendukung.

Tidak tertutup kemungkinan pemerintah juga memberikan bantuan makanan bergizi kepada anak, mengingat masih banyak masyarakat (orangtua) yang kurang beruntung, artinya belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan gizi makanan yang baik bagi anak mereka.

1000 Hari Pertama Si Sulung

Sebagai orangtua muda yang baru mau memiliki anak pertama pada tahun 2006 silam, sesungguhnya kami belum pernah mendengar istilah stunting sebelumnya. Kami hanya tahu bahwa kami harus benar-benar memperhatikan janin yang dikandung oleh istri.

Ternyata apa yang sudah kami lakukan waktu itu, tidak jauh berbeda dengan anjuran pihak kesehatan yang sering disampaikan akhir-akhir ini di berbagai media. Bahwa 1000 hari pertama anak harus benar-benar diperhatikan dengan baik.

Sambil melakukan 'audit' pengalaman, saya dan istri berusaha mencoba mengingat hal-hal apa yang kami lakukan masa 1000 hari pertama anak sulung kami. Baik itu yang berhubungan dengan pola makan, pola asuh maupun sanitasi.

Ketika istri mengandung anak pertama, istri memang benar-benar serius memperhatikan apa yang hendak dikonsumsinya. Memperhatikan benar-benar asupan gizi dan vitamin dari makanan yang hendak di beli. Kemudian istri memperbanyak mengkonsumsi sayur dan buah, minum susu, serta makan telur dan daging.

Tidak lupa pula selalu memperhatikan makanan atau minuman yang harus dihindari oleh seorang ibu yang sedang mengandung. Ini bernar-benar sangat terkontrol. Sebab kami sadar bahwa apa yang di konsumsi istri, itu pula yang akan di konsumsi janin di dalam kandungannya.

Untuk pemahaman tentang gizi, maka kami pun belajar. Belajar dari literasi, meminta saran kepada dokter saat melakukan konsultasi. Kemudian sering bertanya kepada orangtua dan orang yang lebih berpengalaman. Pengalaman mereka tentu besar manfaatnya, walaupun terkadang hanya sekedar pembanding atau yang menguatkan informasi yang sudah kami peroleh dari sumber lainnya.

Setelah anak kami lahir, mulai bertumbuh dan berkembang, tugas kami pun bertambah. Bukan hanya memperhatikan asupan gizi dan vitamin ibunya saja. Saatnya kami juga memerhatikan makanan pendampingnya. Tetapi untuk masa enam bulan pertama, istri tetap berkomitmen memperhatikan asupan utamanya yakni ASI. Kata ilmu kesehatan, ASI eksklusif. Setelah enam bulan kedua, barulah kami benar-benar memberikan makanan pendamping seperti bubur dan sari buah yang memenuhi unsur gizi, itupun atas anjuran dokter anak.

Selain yang berhubungan dengan gizi, kami juga selalu memperhatikan pola asuh dan sanitasi.

Ketika anak sudah mulai belajar merangkak dan berjalan, maka tempat-tempat yang dilaluinya kami selalu pastikan sudah aman dan bersih. Begitu pula dengan perlengkapan makan, minum, serta mainannya dipastikan steril dan minimal telah berstandar SNI, agar lebih aman. Itulah beberapa cara kami di 1000 hari pertama anak kami.

Hasilnya, anak sulung kami pun tumbuh dan berkembang sehat dan cerdas.

#1000HariPertamaAnanda

Sumber Referensi :

Http://www.depkes.go.id/article/view/18052800006/ini-penyebab-stunting-pada-anak.html (diakses 26 Oktober 2018)

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini