Melahirkan Imajinasi

Menulis adalah sebuah seni dan ekspresi jiwa, ketika kata tidak mampu lagi kita utarakan melalui lisan, menulis adalah salahsatu cara mengekspresikan kata-kata yang terbaik. Imajinasi kita muncul jika kita mulai memilih untuk menulis. Menulis adalah sarana kita mengepresikan sebuah pengalaman dan kisah hidup kita untuk dinikmati pembaca. Selain itu menulis juga merupakan sebuah sarana menyalurkan ide kita terhadap suatu masalah.

Bagi saya setiap kita memiliki sebuah pengalaman dan kisah hidup yang tentunya memiliki alur cerita yang menarik untuk dinikmati pembaca. Tapi apabila kita tidak tulis, apakah kisah tersebut dapat dinikmati oleh para pembaca? Tentu tidak. Kisah hidup kita hanya akan terkenang begitu aja untuk kita, dan tidak akan memberikan sebuah kenangan bagi orang lain. Padahal jika kita tuliskan tentunya lebih bermanfaat bagi kita untuk menyimpan kenangan dan upaya merefleksikan diri kita serta dapat menyenangkan pembaca hehehe.

Menulis adalah proses mengabadikan

Dalam suatu kesempatan Fiersa Besari berkata bahwa iya menulis karena ingin Membagikan pikiran dan perasaan. Berawal dari kegalauannya soal perasaan yang hanya ia bagikan melalui twitter, ternyata banyak yang meretweet cuitannya. Lantas ia berpikir untuk menulis yang jauh lebih panjang. Lalu banyak pertanyaan? Kenapa ia menulis. Jawabannya adalah beliau ingin mengabadikan . karena ia tahu manusia itu sangat pelupa. Ada bagian dalam diri fiersa besari yang sangat egois yang takut dilupakan oleh orang banyak dan ia takut sekali melupakan segala sesuatu. Jadi ia sering mengabadikan momentum-momentum tersebut dalam bentuk tulisan. Dan kalau kawan-kawan bertanya bagaimana caranya menjadi penulis adalah dengan membaca, karena semakin banyak kita banyak membaca, semakin banyak pula yang ingin kita keluarkan dari pikiran kita, juga hati kita. “Membaca untuk tahu apa saja yang ada di masa lalu. Menulis adalah memberitahu pada mereka yang ada di masa depan”. Beliau pun berpesan Jangan hanya ingin diterbitkan, jangan hanya ingin terkenal, itu cuma akibat bukan tujuan. Jangan berhenti menulis jangan berhenti mengabadikan.

Belajar dari Pramodeya Ananta Toer

Jika ditanya, siapa inspirator saya untuk menulis, beliau adalah Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan terbaik yang dilahirkan ibu pertiwi, hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara. Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun untuk menulis. Baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dibuang dan dibakar, tetapi ia tetap tak pernah berhenti untuk menulis.

Selama masa hidupnya sudah ada hampir 50 karya dan diterjemahkan lebih dari 42 bahasa asing. Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya masuk dalam daftar kandidat pemenang nobel sastra. Dalam hidupnya banyak sekali ia menangkap momen, bagaimana kondisi sosial, politik, budaya, hingga asmara yang layak untuk diabadikan.

Karenanya lah kita bisa merasakan bagaiamana kondisi Indonesia saat itu, dengan latar belakang dan suasana yang tergambar sama persis dengan kondisi sebenarnya. Imajinasi pembaca membayangkan bagaimana kondisi Indonesia saat itu, mereka merasa ditarik untuk ikut andil dalam bagian kisah setiap kata dan kalimat dalam tulisannya. Inilah yang saya sering sebut dengan “Mengabadikan Momen”.

Lantas apa alasan kita untuk tidak menulis? Menulis adalah belajar menangkap momen dan membagikan kondisi lingkungan sekitar bagi para pembaca di masa mendatang, tentunya dengan sebuah tulisan akan banyak manfaat yang bisa dibagikan untuk insan masa mendatang

Salam Menulis, Salam Mengabadikan

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu