Puluhan anak muda berbondong-bondong memenuhi pinggir jalan di Jl. Gatot Subroto, Surakarta setelah tengah malam pada 27 Oktober lalu. Seniman mural dari komunitas seni di Surakarta dan kota-kota sekitarnya, termasuk dari Fakultas Seni Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Institut Seni Indonesia. Pemuda tersebut berada di situ untuk berpartisipasi di Festival Seni Publik Urban bertema "Solo adalah Solo" Volume # 2.

Salah seorang seniman mural sedang menggabungkan cat yang akan digunakan untuk melukis mural | Foto:
Salah seorang seniman mural sedang menggabungkan cat yang akan digunakan untuk melukis mural | Foto: Stefanus Ajie / Jakarta Post

Dimulai pada tahun 2017, festival ini bertujuan untuk menyuntikkan sentuhan artistik pada mural yang ditemukan di sepanjang Jl. Gatot Subroto dan Jl. Slamet Riyadi, serta di gang Kemlayan dan Nonongan.

Di siang hari, Jl. Gatot Subroto adalah pusat kegiatan bisnis. Namun, menjelang malam, jalanan menjadi ruang publik bagi anak muda Surakarta.

Fransiska, seorang pelukis mural dari UNS, mengatakan dia sangat bersemangat untuk ambil bagian dalam Festival Seni Publik Urban. “Kami diberikan kesempatan dan ruang untuk mengekspresikan diri melalui mural. Kami juga gembira menemukan bahwa jalan yang dulunya sepi pada malam hari adalah tempat baru untuk hang out,” tambahnya.

Salah satu sudut di Jl. Gatot Subroto, Surakarta |
Salah satu sudut di Jl. Gatot Subroto, Surakarta | Foto: Stefanus Ajie / Jakarta Post

Di satu sudut lainnya, seniman mural Agung Nugroho dari komunitas Sebumi melukis seorang pria mengendarai sepeda, membawa barang-barangnya untuk dijual. "Saya ingin menceritakan kisah ketekunan dan kerja keras," katanya. Seiring dengan tema sosial dan budaya, seniman mural di acara tersebut menggambarkan topik perdamaian dan konservasi.

Ketika fajar datang di Jl. Gatot Subroto, sekelompok orang masih ditemui di sepanjang jalan. Sejumlah seniman melukis dinding toko, sementara yang lain menikmati pertunjukan live music dan pertunjukan seni. Ketika pagi tiba, beberapa mural diberikan sentuhan akhir, di tengah tembok kota yang memamerkan ekspresi pemuda.

Penampilan live music untuk menghibur pengunjung |
Penampilan live music untuk menghibur pengunjung | Foto: Stefanus Ajie / Jakarta Post


Sumber: Jakarta Post

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu