Owi-Butet, Perpaduan yang Meredam Ketegangan

Owi-Butet, Perpaduan yang Meredam Ketegangan

Lilyana Natsir dan Tontowi Ahmad © Sindo

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Terkadang, slogan Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda-beda tapi tetap sama, hanya terucap manis sampai bibir saja. Di kehidupan nyata, perbedaan di Indonesia seakan hal yang tak bisa ditoleransi, hingga akhirnya Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir meredam ketegangan itu.

Tontowi dan Lilyana bukan tokoh politik, bukan perwakilan dari organisasi tertentu, dan bukan utusan dari kayangan. Mereka “hanya” atlet bulu tangkis (badminton), yang berjuang mengharumkan serta mengangkat nama bangsa, melalui perbedaan masing-masing.

Owi dan Butet, begitu mereka akrab disapa, merupakan pemain ganda campuran. Mereka pernah menjadi yang terbaik di dunia selama tiga kali, pada BWF World Championship 2013, Olimpiade 2016, dan BWF World Championship 2017.

Di Asia mereka pernah jadi yang terbaik di tahun 2015, kemudian merajai Asia Tenggara di SEA Games 2011. Itu belum termasuk gelar-gelar lainnya yang didapat di kejuaraan negara, seperti French Open, Hong Kong Open, China Open, Malaysia Open, All England Open, dan Singapore Open.

Owi dan Butet | Breakingnews
Owi dan Butet | Breakingnews

Semuanya telah didapat oleh Owi-Butet di arena bulu tangkis. Mereka adalah salah satu yang terbesar sepanjang sejarah, kata Ainur Rohman Sports Editor di JawaPos. Owi-Butet pula, yang menjadi panutan bangsa Indonesia untuk meleburkan perbedaan.

Owi, panggilan akrab Tontowi Ahmad, adalah pria kelahiran Banyumas 31 tahun silam. Tingginya menjulang sampai 178 sentimeter, yang untuk ukuran Asia Tenggara sudah termasuk kategori jangkung. Agamanya Islam. Biasanya itu jadi salah satu yang paling dicari dari atlet-atlet internasional, bahkan masuk di suggestion search Google.

Entah apa tujuannya. Kalau ada atlet nasional yang berprestasi di dunia dan beragama Islam, kebanggaan akan naik berlipat ganda. Tapi kalau agamanya non-Islam, euforianya tidak terlalu besar.

Kemudian Butet, adalah nama sapaan Lilyana Natsir. Wanita yang kini berusia 33 tahun itu lahir di Manado dan penganut Katolik yang taat. Dia juga tergolong jangkung untuk ukuran perempuan Indonesia, dengan tinggi 168 sentimeter.

Semuanya berbeda. Jenis kelamin, ras, bahasa, agama, semuanya berbeda. Tapi perbedaan itu justru bisa menyatukan Owi-Butet, dan itu adalah sebuah keindahan tersendiri, di negeri yang katanya menjunjung tinggi toleransi, tapi nyatanya lebih sering mementingkan diri sendiri.

Lilyana dan Tontowi | IDN Times
Lilyana dan Tontowi | IDN Times

Berprestasi dengan toleransi

Perpaduan Owi dan Butet adalah bentuk wajah Indonesia yang sebenarnya. Tidak ada perbedaan gender, ras, bahasa, maupun agama. Keduanya bersatu padu, untuk membela kepentingan negara.

Ketika memenangkan pertandingan Owi menegadahkan tangannya ke atas, mengucap rasa syukur pada Tuhan yang diyakininya. Begitu pula Butet, ia menyilangkan tanda salib di dadanya, menandakan kesyukuran di agamanya. Tidak ada yang mempermasalahkan, tidak ada yang membeda-bedakan.

Pun dengan jenis kelamin mereka. Owi sebagai pria tidak menganggap dirinya lebih unggul dibanding Butet, wanita dan lebih pendek darinya. Mereka saling melengkapi, di negeri yang sangat patriarki, bahwa pucuk komando tertinggi ada di pundak laki-laki.

Demikian halnya dengan ras. Butet yang berasal dari Manado tidak segan maju unjuk diri, walau prestasi sukunya jarang disorot media nasional. Kemudian Owi yang asli Jawa tidak merasa lebih dominan dibanding partnernya, walau dia adalah bagian dari suku yang mendominasi Indonesia, sampai 60% lebih.

Sangat indah memang, dan layak dijadikan role model bagaimana seharusnya bangsa ini bersatu. Tapi seperti kata pepatah, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Senin kemarin (5/11), diumumkan bahwa perjalanan karier keduanya akan berakhir bulan ini.

Sejak 2010 keduanya berjuang bersama di atas arena, mengesampingkan segala perbedaan yang ada, dan membuktikan Bhinneka Tunggal Ika memang benar-benar ada. Duet Owi-Butet akan selalu dikenang sebagai ganda campuran terhebat yang pernah dimiliki Indonesia, dan semoga tidak sulit untuk menemukan penggantinya.

Terima kasih Owi dan Butet, yang telah mengharumkan nama bangsa. Kami sangat bangga pada kalian!


Sumber: Mojok.co, Twitter A. Ainur Rohman

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga87%
Pilih SedihSedih9%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi4%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Jodipan dan Warna-warna Kehidupan Sebelummnya

Jodipan dan Warna-warna Kehidupan

Sejarah Hari Ini (4 Juli 1927) - Pembentukan PNI oleh Sukarno dan Cipto Mangunkusumo Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (4 Juli 1927) - Pembentukan PNI oleh Sukarno dan Cipto Mangunkusumo

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.