Hubungan Pernikahan Dini Dengan Timbulnya Stunting

Hubungan Pernikahan Dini Dengan Timbulnya Stunting

Drs. Wiryanta MA selaku Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementrian Kominfo © abdurrachim

Dari pengalaman kami mendampingi masyarakat, ternyata pernikahan dini turut menjadi faktor banyaknya jumlah stunting di Bondowoso ' ungkap seorang pegiat dari Forum Anak Bondowoso pada acara #kopdarbaik : 1000 hari terbaik, di Orilla Cafe & Resto di Kabupaten Bondowoso pada sabtu, 3 November lalu.

Kegiatan yang dilakukan atas kerja sama Kementrian Kominfo dan Good News From Indonesia (GNFI) bertujuan untuk mengkampanyekan tekad dan program pemerintah untuk menurunkan jumlah penderita stunting di Indonesia.

Drs. Wiryanta MA selaku Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementrian Kominfo menjelaskan bahwa masalah stunting adalah kerja gotong royong semua pihak, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Berbagai kanal informasi telah digunakan pemerintah untuk menginformasikan masalah stunting ini, baik media massa cetak, media elektronik dan media digital, juga melalui pagelaran kesenian rakyat.

Masalah stunting di atas menjadi sangat penting bahkan mendesak dikarenakan Indonesia termasuk 5 besar negara di dunia dengan penderita stunting terbanyak.

Dari data statistik yang ada, seperti dirilis oleh Pemantauan Status Gizi (PSG) pada tahun 2017 diperoleh bahwa prevalensi balita stunting di Indonesia mencapai angka 29,6%. Angka ini terbilang tinggi dikarenakan batasan yang ditetapkan WHO sebesar 20 %.

Balita penderita stunting tersebut berkontribusi atas kematian anak sebesar 15 %, atau 1,5 juta jiwa yang meninggal dalam kurun waktu 1 tahun di dunia. Stunting mengakibatkan 55 juta anak setiap tahun kehilangan masa hidup sehatnya.

Untuk menekan angka tersebut, masyarakat perlu memahami faktor apa saja yang menyebabkan stunting. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Faktor - Faktor Timbulnya Stunting

Stunting menjadi masalah sangat penting dan serius. Stunting adalah kondisi dimana anak gagal tumbuh secara fisik dan kecerdasannya atau sel - sel otak tidak berkembang normal. Anak akan lambat berfikir, lambat bergerak, secara fisik tumbuh pendek dari anak kebanyakan, bahkan kesulitan koordinasi tubuh.

Stunting dimulai dari saat janin terbentuk di rahim hingga usia 2 tahun. Asupan gizi yang buruk, rendahnya asupan vitamin dan mineral, kurangnya sumber protein hewani juga tidak beragamnya menu makanan yang dikonsumsi.

Faktor di atas berpadu padan dengan aspek kurangnya akses terhadap makanan yang bergizi, akses informasi. pola asuh yang kurang baik seperti bayi tidak diberi ASI eksklusif, sang ibu berada dalam kondisi kurang nutrisi ketika hamil dan memiliki riwayat kurang gizi dimasa remajanya, gangguan mental pada ibu, termasuk ketika dalam masa kehamilan dan menyusui.

Ahli gizi dari Universitas Airlangga, Prof Merryana Adriani menjelaskan bahwa selain faktor di atas, kondisi lingkungan yang tercemar seperti sanitasi yang buruk berkontribusi tingginya angka stunting tersebut.


Hubungan Dengan Pernikahan Dini

Kasus stunting di Bondowoso boleh jadi mewakili sebagian besar dari kota yang termasuk miskin dengan mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah petani dan buruh tingi. Pernikahan dini terjadi karena faktor sosial dimana orang tua sudah memandang cukup pendidikan anaknya dan mengharapkan mereka berkeluarga meskipun baru lulus sekolah dasar. Ada pula anggapan bahwa jika anak belum menikah di usia 15 tahun, berarti anaknya tidak laku.

Angka pernikahan dini di bawah umur 18 tahun di Indonesia mencapai 23 persen dari jumlah pernikahan yang ada. Indonesia berada di peringkat 7 pernikahan dini terbanyak di dunia. Dibandingkan dengan prosentase pernikahan dini di Indonesia, jumlah pernikahan dini di Kabupaten Bondowoso, menurut data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PPKB), mencapai kisaran 42 %.

Jadi, dihubungkan dengan jumlah penderita stunting di Bondowoso akan ada korelasi antara pernikahan dini, dimana sang Ibu masih dalam fase pertumbuhan, dengan munculnya stunting pada balita. Selain, faktor sanitasi, informasi dan akses nutrisi yang turut berkontribusi pada gizi buruk bagi bayi dan ibu.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang40%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi60%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Festival Janadriyah: Indonesia Jadi Tamu, Negara Lain Cemburu Sebelummnya

Festival Janadriyah: Indonesia Jadi Tamu, Negara Lain Cemburu

Indonesia jadi Negara Terfavorit untuk Dikunjungi versi Conde Nast Traveler Selanjutnya

Indonesia jadi Negara Terfavorit untuk Dikunjungi versi Conde Nast Traveler

Abdullah Rachim
@abdurrachim

Abdullah Rachim

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.