Sebagai salah satu negara dengan keragaman yang unik, tentunya tak heran jika banyak hal menarik yang bisa dikulik dari negeri ini. Salah satunya mengenai hadirnya  aneka bahasa yang ada di Indonesia, yang kemudian membuat bahasa-bahasa tersebut menjadi warisan yang tak ternilai harganya.

Ialah Bahasa Tansi, yang pada Oktober lalu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WTBI). Bahasa Tansi yang berasal dari Sawahlunto, Sumatera Barat ini rupanya telah melewati seleksi ketat dari 169 bahasa yang didaftarkan.

Dalam acara Sarasehan Kebudayaan “Bahasa Tansi: Warisan Budaya Tak Benda Dunia” yang digelar di Universitas Gadjah Mada beberapa waktu lalu, seperti yang tercantum dalam Tirto, rupanya hadir untuk mengungkap kisah penemuan  bahasa  Tansi.

Bahasa Tnasi Sawahlunto Disahkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda | Sumber dok: Jurnal Sumbar
Bahasa Tansi Sawahlunto Disahkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda | Sumber dok: Jurnal Sumbar

Yakni Dr. Elsa Putri, “sang penemu” bahasa Tansi yang lahir di Sawahlunto, yang berhasil menemukan bahasa tersebut hingga mampu membuat kamusnya. Sejak kecil Elsa sering bertanya-tanya mengapa kata yang dipakai di daerahnya adalah duren, bukan durian. Seperti juga aer bukan air dan beberapa kata lainnya yang membuatnya penasaran.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kembali ia temukan dalam percakapan sehari-hari pada kawan-kawannya di SD Inpres Pasar baru Duren. Beberapa kosakata yang dilontarkan oleh kawannya membuat Elsa tidak begitu mengerti.

Di tahun 2005 tepat idul fitri, Elsa pulang dari perantauan di Riau. Saat kembali, ia sedang melakukan penelitian mengenai cara orang-orang Sawahlunto meminta tolong melalui pendekatan sosiopragmatik.

Dari penelitian yang ia lakukan, Elsa menemukan kenyataan kebahasaan mengenai kesantunan di Sawahlunto yang rupanya dipengaruhi oleh bahasa Jawa. Ia pun kembali bertanya-tanya mengapa bahasa Jawa, bukan bahasa Minang?

Di sisi lain, Elsa menemukan bahwa dalam komunikasi sehari-sehari, masyarakat banyak menggunakan bahasa Slunto yang kemudian disebut sebagai bahasa orang Tansi. Pertanyaan kembali menggelayuti Elsa; apakah bahasa yang ia dengar dari kawan-kawannya ketika SD ialah bahasa Tansi?

Berbekal rasa penasaran yang tinggi Elsa pun kemudian melakukan penelitian selama bertahun-tahun, yang membuatnya turut menemukan bahwa Sawahlunto ternyata merupakan wilayah pertemuan masyarakat yang mampu melahirkan bahasa campuran.

Oleh sebab itu, seperti yang disebut Elsa, bahwa bahasa Tansi atau yang juga disebut sebagai bahasa Slunto nyatanya merupakan bahasa kreol yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Bahasa tersebut diketahui dilatari oleh perburuhan tambang batu pada zaman Belanda sekitar abad ke-19.

Bahasa Tansi Sawahlunto Disahkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda | Sumber dok: Sawahlunto Culture
Bahasa Tansi Sawahlunto Disahkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda | Sumber dok: Sawahlunto Culture

Lebih dari itu, bahasa Tansi rupanya bukan hanya percampuran antara bahasa Jawa dengan Minangkabau, tetapi juga bahasa kreol yang dilatarbelakangi perburuhan di pedalaman Sumatera yang lahir dari percampuran tidak kurang dari sepuluh bahasa yakni Jawa, Sunda, Madura, Bali, Bugis, Batak, Cina, Minangkabau, Belanda, dan Melalyu sebagai bahasa dasar. Wah unik bukan?

Melalui penelitian yang telah dilakukan tak heran jika kemudian bahasa Tansi disahkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda. Kondisi senada juga disampaikan oleh Founder Pustaka Bergerak yang menduga salah satu pertimbangan mengapa UNESCO menjadikan bahasa Tansi sebagai warisan budaya ialah karena bahasa ini berbeda dengan bahasa kreol lainnya dan tentunya memiliki ciri khas tersendiri.

Di sisi lain, perkembangan bahasa Tansi pun boleh dibilang cukup unik sebab ia muncul karena dibentuk oleh keputusan politik juga ekonomi, di mana saat itu Belanda ingin membuka tambang besar di Sawahlunto sehingga mereka mendatangkan orang dari berbagai suku dan latar belakang. Yang artinya membuat orang-orang yang tidak saling mengenal membuat bahasa untuk dapat berkomunikasi secara langsung, yang kemudian terbentuklah bahasa Tansi.

Wah mengagumkan ya. Ternyata ada banyak sekali keunikan juga hal-hal menarik yang dimiliki Indonesia.

Bangga Indonesia!


Sumber:Tirto

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu