“Dunia membutuhkan sains, dan sains membutuhkan perempuan”

Slogan itulah yang diangkat dalam acara malam penghargaan L’Oréal-UNESCO for Women in Science, di Ballroom Raffles Hotel Jakarta (8/11). Dihadiri oleh Prof. Dr. Arief Rachman selaku Ketua Harian KNIU Kemendikbud, dan Umesh Padke yang merupakan Presiden Direktur L’Oréal Indonesia, acara ini adalah bentuk komitmen dalam mendorong kemajuan ilmuwan perempuan di Indonesia.

“Sejak 2004, kami berkomitmen untuk mendukung peran ilmuwan perempuan bagi kehidupan manusia, melalui penemuan mereka. Kami percaya bahwa perempuan yang berkecimpung di bidang sains, bisa mengubah dunia. Sebab dunia membutuhkan sains dan sains membutuhkan perempuan,” demikian yang disampaikan Umesh Padke pada acara semalam.

Ada empat perempuan hebat Indonesia yang diberi penghargaan L’Oréal-UNESCO for Women in Science ke-15. Mereka adalah Sylvia Ayu Pradanawati, Ph.D., Dr. Yessie Widya Sari, M. Si., Athanasia Amanda Septevani, Ph.D., dan Korri Elvanita El Khobar, Ph.D.

Apa saja temuan mereka di bidang sains yang membuatnya layak mendapat penghargaan? Berikut ini adalah profil singkatnya:

Sylvia Ayu Pradanawati | Aditya Jaya/GNFI
Sylvia Ayu Pradanawati | Aditya Jaya/GNFI

Sylvia Ayu Pradanawati, Ph.D.

Kepala Lembaga Penjamin Mutu Internal di Universitas Surya ini membuat inovasi pembuatan anoda baterai berbasis silikon, dari sekam padi. Sekam yang merupakan limbah penggilingan padi, secara teoritis bisa menjadi bahan baku pembuatan baterai, memanfaatkan kandungan Silicon Carbida (SiC).

Sylvia menganggap ilmuwan bukanlah profesi, melainkan passion, Ia dengan senang hati menjadi peneliti, bukan semata-mata karena materi tapi juga untuk membantu orang lain lewat temuan-temuannya.

“Pada dasarnya, dunia penelitian adalah sebuah passion. Seorang peneliti melakukan penelitian dalam setiap aspek kehidupan,” ucap alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan National Taiwan University of Science and Tech tersebut.

Athanasia Amanda Septevani | Aditya Jaya/GNFI
Athanasia Amanda Septevani | Aditya Jaya/GNFI

Athanasia Amanda Septevani, Ph.D.

Nanopaper berbasis biomassa serat nanoselulosa alami sebagai layar perangkat elektronik masa depan, menjadi temuan Athanasia Amanda Septevani, yang bekerja di Pusat Penelitian LIPI. Temuan ini diharapkan bisa menjadi pengganti layar perangkat elektronik seperti gawai dan televisi, yang bahannya kaku dan mudah retak, serta berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui.

Perempuan yang akrab disapa Amanda ini menjelaskan, selulosa yang diisolasi dan diproses secara kimia akan menghasilkan nanoselulosa. Senyawa tersebut kemudian diproses menjadi lembaran tipis transparan yang dikenal dengan sebutan Nanopaper.

Amanda menempuh pendidikan S2-nya di University of Queensland, Australia. Di pertengahan pendidikan ia kemudian ditingkatkan dari program master ke Ph.D. dengan seleksi super ketat dan persetujuan berbagai pihak.

Yessie Widya Sari | Aditya Jaya/GNFI
Yessie Widya Sari | Aditya Jaya/GNFI

Dr. Yessie Widya Sari, M. Si.

Dosen di Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, menemukan protein mikroalga sebagai material pintar pada pengemas produk makanan dan pertanian. Beliau menempuh studi S1 di IPB, S2 di Universitas Indonesia (UI), dan meraih gelar doktor di Wageningen University, Belanda.

Keinginan Dr. Yessie untuk menciptakan temuan ini dilandasi oleh masa simpan produk pertanian dan beberapa produk pangan yang singkat, akibat kemasan yang kurang mendukung. Dengan adanya bioplastik, diharapkan dapat memperpanjang masa simpan produk-produk tersebut, plus mengurangi limbah plastik.

Dr. Yessie menyebut penelitiannya sebagai kepedulian terhadap Triple P, yaitu People (membantu masyarakat), Planet (melestarikan lingkungan), dan Profit (tanpa mengurangi keuntungan).

Korri Elvanita El Khobar | Aditya Jaya/GNFI
Korri Elvanita El Khobar | Aditya Jaya/GNFI

Korri Elvanita El Khobar, Ph.D.

Sebagai peneliti di Laboratorium Hepatitis Lembaga Eijkman, Korri memfokuskan penelitiannya pada penyakit hati. Beliau menggunakan status metilasi Polo Like Kinase 1 (PLK1) sebagai biomarker untuk deteksi awal karsinoma hati seluler (HCC) pada penderita infeksi virus hepatitis kronis. Singkatnya adalah pendeteksi dini kanker hati.

Beliau mulai tertarik menjadi peneliti sewaktu kuliah S1 di Departemen Biologi FMIPA Universitas Indonesia, tapi karoer penelitiannya baru dimulai pada 2006 ketika bergabung ke Lab. Hepatitis di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Pada 2008 ia kemudian mendapat beasiswa studi magister di University of Melbourne, sebelum kembali ke Lab. Eijkman pertengahan tahun ini.

Acara Women in Science | Aditya Jaya/GNFI
Acara Women in Science | Aditya Jaya/GNFI

Wow... para perempuan yang sangat inspiratif, ya? Apakah Kawan GNFI berminat mengikuti jejak mereka?


Sumber: Dokumentasi GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu