Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Bersiap Menyambut Lebih Banyak Wisatawan Dengan Destinasi Baru

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Bersiap Menyambut Lebih Banyak Wisatawan Dengan Destinasi Baru

Gunung Bromo © Sumber: Wikiwand

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sedang bersiap untuk membuka dua Desa Wisata Edelweiss di Jawa Timur, yaitu Desa Ngadisari di Kabupaten Probolinggo dan Desa Wonokitri di Kabupaten Pasuruan.

Acara peluncuran, yang bertajuk "Festival Tanah Edelweiss", akan berlangsung di Paviliun Desa Wonokitri pada tanggal 10 November besok.

Kepala TNBTS John Kenedie mengatakan desa-desa wisata menargetkan untuk menanam bunga edelweiss di luar habitat alami mereka, yang ditemukan di seluruh area taman nasional.

"Selain itu, juga untuk melestarikan budaya Tengger lokal, karena bunga ini sakral dan melengkapi persembahan dalam tradisi ritual mereka, sementara juga memberikan kesempatan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat," kata John di Malang, Selasa.

Anaphalis javanica, jenis bunga Edelweiss yang dikenal sebagai Kembang Tana Layu, yang mengacu pada ketidak-mudahannya untuk layu, sehingga disebut bunga abadi | Foto: Nedi Putra AW / Jakarta Post
Anaphalis javanica, jenis bunga Edelweiss yang dikenal sebagai Kembang Tana Layu, yang mengacu pada ketidak-mudahannya untuk layu, sehingga disebut bunga abadi | Foto: Nedi Putra AW / Jakarta Post

John menambahkan bahwa ada tiga jenis edelweiss, yaitu Anaphalis javanica, Anaphalis visida dan Anaphalis longifolia. Anaphalis javanica secara lokal dikenal sebagai Kembang Tana Layu, mengacu pada fakta bahwa bunga ini tidak mudah layu, dan dikenal sebagai bunga abadi.

"Kondisi ini membuat edelweiss ini sangat dicari, terutama di kalangan anak muda," ia menjelaskan, menambahkan bahwa jenis khusus edelweiss ini dilindungi oleh pemerintah.

Dia mengatakan bunga yang dibudidayakan adalah generasi kedua, atau F2, menjelaskan bahwa benih diambil dari area taman nasional melalui serangkaian uji coba budidaya dan perkembangan sejak tahun 2014, dengan 5.600 benih disediakan untuk setiap desa.

"Proses ini dituangkan dalam surat keputusan dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)," tambahnya.

John mengatakan desa-desa wisata akan dikelola oleh pengasuh mereka sendiri, khususnya dari Kelompok Tani Edelweiss di dua desa.

Bunga Edelweiss Taman Nasional Bromo | Sumber: Dictio.id
Bunga Edelweiss Taman Nasional Bromo | Sumber: Dictio.id

Desa-desa memiliki tujuan untuk menawarkan pengalaman yang berbeda kepada wisatawan yang berkunjung ke Bromo selain menikmati panorama dan matahari terbit.

Kepala Desa Wonokiri Iksan mengatakan upaya budidaya edelweiss di desa itu juga menguntungkan secara ekonomi bagi masyarakat.

"Sebelum tahun 2007, penduduk desa kami murni mengandalkan pertanian tanaman, tetapi setidaknya 60 persen sekarang dapat melihat peluang layanan pariwisata," katanya.

Iksan menambahkan bahwa pariwisata edelweiss akan digabungkan dalam satu unit dengan perusahaan milik desa.


Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau25%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indonesia Undang Warga Korea Selatan Untuk Jajal Olahraga Ini di Indonesia Sebelummnya

Indonesia Undang Warga Korea Selatan Untuk Jajal Olahraga Ini di Indonesia

"Tanpanya,  Mungkin Saya Jadi Penjual Es di Tebet" Selanjutnya

"Tanpanya, Mungkin Saya Jadi Penjual Es di Tebet"

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.