Program untuk Ibu Hamil dari Banyuwangi Mendapat Penghargaan di Korea Selatan

Program untuk Ibu Hamil dari Banyuwangi Mendapat Penghargaan di Korea Selatan
info gambar utama

AKhir-akhir ini anak muda Indonesia mengharumkan negaranya dengan cara menunjukkan prestasinya di kancah internasional. Namun kali ini giliran Program buatan Puskesmas di Kota Banyuwangi yang mendapatkan penghargaan di Seoul, Korea Selatan.

Program yang bertujuan untuk menekan angka kematian ibu saat melahirkan di Banyuwangi ini berhasil mencuri perhatian di forum Open Government Partnership (OGP) Asia-Pacific Regional Meeting. Program yang bernama Laskar Stop Angka Kematian Ibu dan Anak (SAKINA) dari Puskesmas Sempu, Banyuwangi, ini terpilih sebagai "The Most Interested Innovation". Event tersebut diikuti inovator dari 79 negara di wilayah Asia-Pasifik, termasuk dari Indonesia yang diwakili oleh Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengatakan, ia berharap prestasi ini menyuntikkan semangat kepada Puskesmas dan berbagai institusi lain di Banyuwangi untuk terus berinovasi dan berkreativitas.

Program Laskar Sakina adalah program-program untuk menekan angka kematian ibu dan anak, dengan beranggotakan kader kesehatan, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, PKK, hingga aparat kepolisian. Para kader melakukan pendataan di lapangan terhadap kesehatan ibu, terutama ibu hamil berisiko tinggi, kemudian mereka mendampingi, dikumpulkan dalam jambore ibu hamil, hingga dilakukan antar-jemput para ibu hamil di masing-masing rumah.

Ilustrasi dari baltyra.com
info gambar

Target yang dimiliki Laskar Sakina adalah ibu hamil yang memiliki resiko tinggi dengan kriteria antara lain berusia kurang dari 20 tahun dan di atas 35 tahun, jarak kelahiran anak yang terlalu dekat, memiliki riwayat hipertensi, dan tinggi badan kurang dari 150 cm.

Program ini juga melibatkan para tukang sayur, mereka bertugas untuk mencari, menemukan, dan melaporkan ibu hamil baru yang memiliki resiko tinggi di daerahnya, karena mereka bekerja hingga ke pelosok kampung dan berinteraksi langsung dengan warga di kampung tersebut.

Para tukang sayur juga diberkali dengan fasilitas dari Puskesmas, seperti smartphone, pulsa, kerangan dengan tempelan berupa gambar edukasi tentang kehamilan, dan sepatu boot. Fasilitas tersebut dapat membantu mereka untuk mengirim informasi secara online saat menemukan ibu hamil berisiko tinggi.

--

Sumber : Detik

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini