Small Learning Community Perdana, MI Al Wathoniyah Indramayu Memulai dengan Cinta

Small Learning Community Perdana, MI Al Wathoniyah Indramayu Memulai dengan Cinta
info gambar utama

Indramayu, komitmen bersama September lalu dalam kegiatan School Strategic Discussion antara Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia dengan MI Al Wathoniyah sebagai mitra sekolah dampingan akhirnya terealisasi satu per satu di penghujung Oktober 2018, sala-satunya Small Learning Community (SLC) yang sekaligus sebagai checlist penutup timeline bulan ini.

Program SLC merupakan suatu komunitas belajar dalam skala kecil, antara guru-guru dalam lingkup sekolah dengan tujuan membangun budaya belajar dimana guru membangun sendiri pengetahuannya bersama jejaring di sekitarnya karena pada dasarnya guru adalah pembelajar yang secara terus menerus harus belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya. Dengan alasan tersebut, MI Al Wathoniyah menyambut baik program SLC yang menjadi ciri khas program literasi.

Teknis kegiatan dalam SLC beragam, bisa dalam bentuk bedah buku, sharing buku, sharing pengalaman mengajar, atau penyampaian materi yang sebelumnya telah disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. MI Al Wathoniyah dalam SLC perdanya memilih untuk melakukan sharing buku yang di awali langsung oleh Pak Rohmat Kholiq, S.Pd.I., M.Si. selaku Kepala Madrasah, buku yang dipilih adalah Pemimpin Cinta karya Edi Sutarto. Pak Kholiq mengambil sebuah kutipan pada bab daun cinta dari jalaluddin rumi bahwa “dengan hidup yang hanya sepanjang setengah tarikan nafas, jangan tanam apapun kecuali cinta”(2017:343), kutipan tersebut yang membuka kegiatan diskusi, setiap Guru diminta memberikan tanggapannya masing-masing dalam kaitannya dengan pendidikan khususnya pembelajaran sebagaimana tugas kita sebagai Guru.

Semua terlihat antusias, membahas cinta memang selalu membawa nuansa tersendiri yang mewarnai jalannya SLC, mengutip beberapa tanggapan/pendapat guru yang penuh cinta, Ibu Syaadah wali kelas 3 mengatakan bahwa “output dari pembelajaran hendaknya ditanamkan dalam hati, diucapkan dengan perkataan dan diaplikasikan dengan sikap yang baik”, Bapak Muh. Nawawi wali kelas 5 juga menyampaikan pendapatnya bahwa “yang pertama adalah modal sebagai kata kunci utama adalah cinta dalam setiap mata pelajaran, kemudian yang kedua adanya segmen sosial antar guru, siswa dan orang tua. Pendapat yang senada juga disampaikan Ibu Anih Syafaah wali kelas 1 mengatakan bahwa "cintai orang lain, maka orang lainpun akan mencintai kita, begitu juga dengan pekerjaan”.

Ada banyak tanggapan luar biasa dari guru-guru hebat yang tidak memungkinkan dijabarkan satu per satu namun point pentingnya adalah cinta, niat dan komitmen dalam setiap peran apapun yang kita lakoni harus terpatri dari hati karena apapun yang dari hati tentu akan sampai ke hati pula. Tiga point kunci tadi juga sejalan dengan nilai dan keyakinan dari Yayasan MI Al Wathoniyah dari kata ADIL (Amanah, Disiplin, Inovatif, dan Luruskan Niat) pada poin Luruskan niat. Beranjak dari pijakan niat yang benar mari memandirikan Yayasan MI Al Wathoniyah.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini