Sociopreneur Indonesia Asah Empati melalui Empathy Project 2018 di desa Sembulang, Batam

Sociopreneur Indonesia Asah Empati melalui Empathy Project 2018 di desa Sembulang, Batam

Foto keasyikan anak-anak di acara Be a Creative Innovator (BCreator) © SociopreneurID

Empathy Project merupakan rangkaian program yang diinisiasi oleh Sociopreneur Indonesia selama satu minggu (27 Oktober – 2 November 2018) di Desa Sembulang, Batam. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mewujudkan pembangunan ekosistem pendidikan entrepreneurship di Indonesia dan mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang ke-4 yaitu Pendidikan Berkualitas. Acara ini didukung oleh Elexmedia Komputindo, Universitas Internasional Batam, dan pihak Kelurahan Sembulang.

Keseruan anak AHAI menampilkan hasil kreasinya
Keseruan anak AHAI menampilkan hasil kreasinya

Ekosistem pendidikan entrepreneurship dalam Empathy Project ini diwujudkan dengan program-program yang ditujukan tidak hanya pada satu jenjang pendidikan saja. Pada tanggal 27 Oktober 2018, Anak Hebat Anak Indonesia (AHAI) dilaksanakan dengan melibatkan 83 anak kelas 4, 5, dan 6 dari tiga sekolah dasar di Sembulang, yaitu SD 001 Galang, SD Ignatius, dan SD 006 Dapur Enam. AHAI memiliki tujuan untuk menumbuh kembangkan kreativitas pada anak dan mengajak anak untuk memiliki impian yang tinggi. Program ini dilaksanakan melalui sejumlah permainan edukatif dan interaktif bagi anak dan lingkungan sekitarnya.

Dilanjutkan dengan program Be A Creative Innovator (BCreator) yang berlangsung sampai sore. Program ini ditujukan untuk anak-anak SMP. Pada Empathy Project kali ini, BCreator melibatkan 132 anak kelas 7, 8, dan 9 SMP 18 Sembulang, Batam. BCreator memiliki tujuan untuk melatih kepekaan anak akan kemampuan dirinya sendiri dan juga permasalahan yang terdapat di lingkungan sekitar mereka. Sehingga nantinya, diharapkan anak-anak tersebut dapat menjadi seorang innovator yang mampu menyelesaikan permasalahan melalui solusi yang tepat.

Selanjutnya pada tanggal 28 Oktober 2018, terdapat peresmian Micro Library yang merupakan hasil kerja sama antara kelurahan Sembulang, Sociopreneur Indonesia + Universitas Internasional Batam dan Elexmedia Komputindo. Pada peresmiannya, Rizal Lesmana selaku ketua lurah Sembulang menyatakan bahwa terdapat empat titik Micro Library di kelurahan Sembulang, yaitu di kantor kelurahan Sembulang yang berlokasi di kecamatan Galang, kecamatan Tanjung Banun, Sungai Buluh, dan Kuala Buluh. Ke-empat Micro Library tersebut telah mendapatkan bantuan suplai buku dari Elexmedia Komputindo melalui Sociopreneur Indonesia. Direktur eksekutif Sociopreneur Indonesia, Dessy Aliandrina juga memberikan pemaparan tentang arti penting dari membaca buku untuk membuka cakrawala berpikir.

Launching Micro LIbrary di 4 titik desa Sembulang
Launching Micro LIbrary di 4 titik desa Sembulang

Sociopreneur Indonesia menyadari bahwa pembangunan ekosistem pendidikan entrepreneurship di Indonesia tidak bisa dilakukan sendiri, pihak akademisi seharusnya dilibatkan untuk mengembangkan eksosistem pendidikan entrepreneurship ini dalam lingkungan akademis. Untuk itu, pada tanggal 29 Oktober 2018, Social Entrepreneurship Sharing Session (Three-S) digelar di Universitas Internasional Batam. Tema yang diangkat dalam sesi Three-S ini adalah Developing Ecosystem for Entrepreneurship Education yang disajikan berdasarkan pengalaman direktur eksekutif Sociopreneur Indonesia, Dessy Aliandrina, selama membangun ekosistem Pendidikan entrepreneurship di Indonesia.

Acara Three-S dihadiri oleh guru, dosen, dan mahasiswa yang berasal dari berbagai tempat di Batam. Selain itu, pihak Lembaga Layanan (LL) Dikti Wilayah X di Padang juga mengikuti Three-S via video conference. Selaku pemateri, Dessy memaparkan tentang membangun sebuah learning ecosystem dalam pendidikan entrepreneurship dari jenjang SD hingga perguruan tinggi. Dessy juga menceritakan pengalamannya saat bertukar cerita di the 7th UNESCO APEID Meeting 2018 tanggal 9-12 Oktober 2018 lalu. Ia memberikan update terbaru dari praktik pendidikan entrepreneurship di negara lain. “Pendidikan entrepreneurship tidak bisa hanya diterapkan pada satu jenjang pendidikan saja, melainkan harus diterapkan pada setiap jenjang pendidikan sehingga terdapat kebersinambungan dalam siklus pembelajarannya. Untuk itu, saat ini dibutuhkan sebuah ekosistem pembelajaran tentang entrepreneurship khususnya di Indonesia”, ujar Dessy.

Kemudian, pada 30 Oktober – 2 November 2018 Bootcamp for Young Technopreneur (BYTe) diadakan dengan melibatkan 30 peserta terpilih dari seluruh Indonesia. Bertempat di Desa Sembulang, Batam, BYTe melibatkan multi stakeholder seperti kelurahan Sembulang, tiga UMKM kuliner di Desa Sembulang, warga Desa Sembulang, dan 30 peserta BYTe. Tema yang diusung pada BYTe kali ini adalah “Sustainable Tourism”. Tema ini diangkat berdasarkan kondisi dan potensi dari Desa Sembulang yang sudah siap untuk menjadi desa wisata.

Peserta BYTe mencoba langsung pembuatan Kue Putu Piring di salah satu UMKM Desa Sembulang
Peserta BYTe mencoba langsung pembuatan Kue Putu Piring di salah satu UMKM Desa Sembulang

Ke-30 peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok untuk mengamati langsung lingkungan di sekitar Desa Sembulang dan mengunjungi beberapa UMKM kuliner yang ada di sana. UMKM pada BYTe kali ini yaitu UMKM Putu Piring, UMKM Otak-Otak, dan UMKM Bolu Cermai. Setelah turun langsung untuk terlibat dalam proses produksi kuliner di UMKM (experiential learning) dan melihat realita yang terdapat di sana, peserta kembali dipandu oleh Heru untuk mengidentifikasi masalah dan langsung mengembangkan ide yang mereka miliki untuk mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya, ide yang sudah dihasilkan harus dipresentasikan menggunakan prototipe sederhana yang mampu memberikan gambaran jelas atas ide inovasi dari masing-masing kelompok.

Acara puncak Empathy Project pada tanggal 2 November 2018 ditutup dengan acara tradisional melayu seperti Marawis dari anak-anak tahfiz Qur’an Al-Fajri, tari Bujang Telajak, tari Tanjung Katung, tarian Japin, dan tari Selayang Pandang. Melalui penutupan acara ini, besar harapan Dessy Aliandrina, selaku direktur eksekutif Sociopreneur Indonesia agar Desa Sembulang dapat menjadi desa pertama yang menerapkan circular economy. “Prinsipnya adalah segala sumber daya yang terdapat di desa ini dapat digunakan seefisien mungkin, sehingga tidak ada resource yang terbuang percuma”, pungkasnya. Ia juga berharap agar pihak akademisi lain dapat menerapkan Empathy Project dimana pun agar tujuan pembangunan ekosistem pendidikan entrepreneurship dapat terwujud.

Wakil Rektor II Universitas Internasional Batam, Meiliani, juga memiliki harapan besar atas keberlanjutan acara ini. “Saya berharap apa yang sudah dilakukan di Desa Sembulang ini memberikan dampak yang besar ke depannya dan semoga lebih banyak lagi pihak yang terlibat dalam acara seperti ini”, ujar Meiliani. Sementara itu, Rizal Lesmana, selaku ketua lurah Sembulang juga mengucapkan rasa terima kasihnya yang begitu besar kepada seluruh pihak yang terlibat dalam Empathy Project ini. “Saya berharap akan lebih banyak lagi kolaborasi untuk memajukan Sembulang ke depannya. Kami (warga Sembulang) merasa sangat beruntung dengan adanya akademisi yang mau turun membangun Desa Sembulang dan semoga ide-ide inovasi yang sudah dihasilkan melalui rangkaian acara Empathy Project 2018 ini dapat meningkatkan kesejahteraan warga”, kata Rizal.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Urusan Terbang Tepat Waktu, Indonesia Juara Satu Sebelummnya

Urusan Terbang Tepat Waktu, Indonesia Juara Satu

Sepak Terjang Perjalanan Cukur Rambut Asgar Selanjutnya

Sepak Terjang Perjalanan Cukur Rambut Asgar

Christian Setiawan
@christiantiti

Christian Setiawan

http://sociopreneur.id

Christian was passionate "Help People" to create endless impact for everyone. Its drove him to learn something new by looking the other perspective and capture the moment from travelling which to fulfillment his knowledge. Social issues encourage him to combine his ability to contribute in the social field.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.