Unrealized loss dan Langkah Tepat Pemerintah

Unrealized loss dan Langkah Tepat Pemerintah

Keterangan Gambar Utama © Pemilik Gambar thejakartapost.com

Pemberitaan mengenai kerugian yang dialami oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) disebabkan pelemahan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar, cukup santer di perbindangkan beberapa hari yang lalu. Media-media online maupun cetak banyak memberitakan kerugian yang dialami oleh PT. PLN ini. Seperti halnya media daring CNN Indonesia (30/10) misalnya, menulis bahwa hingga kuartal ketiga tahun ini, PLN mencatatkan rugi bersih mencapai Rp 18,46 triliun. Padahal pada kuartal ketiga tahun 2017, PLN masih membukukan laba sebesar Rp 3,06 triliun. Data keuangan yang dibeberkan tersebut merupakan data yang diambil berdasarkan laporan keuangan PLN melalui publikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, khawatir berita tersebut menimbulkan salah persepsi di mata publik, Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, dan juga Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, memberikan penjelasan yang lebih mendalam.

Mengintip sedikit tentang faktor utama kerugian yang diderita oleh PT. PLN (Persero), Rini Soemarmo selaku Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjelaskan bahwa urusan PLN itu karena ada rupiah yang melemah, sehingga ada yang dikatakan unrealized loss, kerugian yang belum terealisasi, namun tercatat dalam pembukuan. Sedikit pengetahuan untuk pembaca sekalian bahwa metode pencatatan dalam standar akuntansi yang berlaku umum, sebuah perusahaan di Indonesia yang punya utang dalam valuta asing, katakanlah dalam mata uang dolar AS, bila kemudian rupiah melemah, maka dalam pembukuan akan dicatat sebagai unrealized loss.

Kita ibaratkan saja di tahun lalu, saat nilai tukar satu dolar AS menyentuh diangka Rp 13.500. Apabila kemudian sebuah perusahaan mengambil pinjaman dari bank asing 1 juta dolar AS, maka waktu penyusunan laporan keuangan, pinjaman tersebut dicantumkan senilai rupiah saat itu, yakni Rp 13,5 miliar. Selain itu, jika kita kaitkan pada tahun ini, karena pinjaman tersebut masih belum dicicil dan jatuh temponya katakanlah masih 5 tahun lagi, tentu nilai pinjaman masih tetap 1 juta dolar AS. Hanya saja karena laporan keuangan harus disusun dalam satuan nilai rupiah, maka bila kursnya menjadi Rp 15.000 untuk setiap 1 dolar AS, alhasil nilai utang membengkak jadi Rp 15 miliar.

Adapun faktor lain yang mempengaruhi naiknya kerugian yang diderita oleh PT. PLN selain dari dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar adalah adanya kenaikan harga batubara dan BBM yang merupakan tenaga pembangkit bagi listrik yang dimiliki Indonesia. Kenaikan biaya produksi yang dialami oleh PT. PLN selanjutnya tidak di ikuti oleh kenaikan harga tarif listrik secara signifikan. Pemerintah selaku pemegang kebijakan, tidak menaikkan tarif harga pembayaran listrik dengan tujuan untuk menjaga pasokan listrik tetap terjangkau ke seluruh wilayah Indonesia.

Kebutuhan akan energi listrik yang semakin terus meningkat,membuat pemerintah harus menemukan alternatif penyelesaian masalah atas tingginya permintaan dan meminimalisir kerugian yang harus di tanggung oleh PT.PLN. Sebagai perusahaan penyedia jasa listrik, PT PLN (Persero) memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan listrik yang diminta oleh masyarakat sehingga menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan tenaga listrik. Selain itu, Ketersediaan pasokan listrik merupakan bagian penting yang menjadi faktor pendorong kemajuan perekonomian masyarakat Indonesia tidak hanya pada pulau atau kota maju,melainkan daerah-daerah perbatasan maupun terpencil juga menikmati manfaat adanya listrik untuk mendongkrak laju ekonomi daerahnya. Selama ini kebutuhan listrik di daerah kepulauan masih sangat kekurangan, baik kebutuhan Rumah Tangga maupun industri. Ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan tenaga listrik tersebut, menimbulkan krisis energi yang dapat mengganggu perputaran roda pembangunan dan pengembangan perekonomian wilayah yang berimplikasi pada berkurangnya pendapatan bagi kas negara.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi kerugian bagi PT. PLN salah satunya adalah dengan menaikkan tarif harga listrik. Namun disisi lain apabila tarif dari harga listrik mengalami kenaikan, maka dampak yang ditimbulkan akan semakin besar sehingga membuat permasalahan baru yang akan timbul. Oleh sebab itu, untuk mengatisipasi hal tersebut pemerintah terus mengutamakan suplay akan ketersediaan listrik tetap terjaga dengan tetap memberikan harga yang murah dan terjangkau bagi masyarakat. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat dapat meningkatkan potensi-potensi yang dimiliki untuk memajukan perekonomian daerahnya sehingga potensi tersebut dapat membantu pemerintah untuk mengisi kas negara yang selanjutnya pada awal tahun 2019 akan dipergunakan untuk menutup kerugian yang di derita oleh PT. PLN.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

PLN

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Investor Suntikkan Dana 6.4 T, Merpati #2019TerbangLagi ? Sebelummnya

Investor Suntikkan Dana 6.4 T, Merpati #2019TerbangLagi ?

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.