Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di luar negeri. Terbaru, tim UI yang diberangkatkan ke Amerika Serikat (AS) sukses menyabet medali emas dalam ajang International Genetically Engineering Machine (IGEM) Competition 2018.

IGEM 2018 adalah kompetisi rekayasa genetika terbesar di dunia dengan jumlah peserta 321 tim dari lebih dari 100 negara. Di kompetisi ini setiap tim mendapat kesempatan untuk merancang dan membuat sistem biologis, untuk dioperasikan ke dalam sel hidup. Selain itu tim juga dituntut untuk dapat mempromosikan dan mengaplikasikan sistem biologisnya untuk kepentingan masyarakat.

Tim UI yang terdiri dari 14 mahasiswa membuat inovasi berupa alat diagnosis difteri menggunakan bakteri rekombinan yang diharapkan mampu lebih mudah, cepat, dan murah. untuk memberikan penanganan diagnosis difteri yang baik untuk Indonesia.

Proyek penelitian yang bernama Finding Diphty ini kemudian dipresentasikan di hadapan Dewan Juri di Boston, AS, pada 24-28 Oktober lalu. Juri di perlombaan ini adalah para pakar di bidang genetic engineering dunia, seperti staf senior MIT Lincoln Laboratory, Bioengineering Group, Director of The Competition – IGEM Foundation.

Sementara itu untuk Tim UI, di perlombaan ini diwakili oleh Andrea Laurentius (FKUI 2016), Galuh Widyastuti (FKM UI 2016), Glory Lamria (FTUI 2015), dan Valdi Japranata (FKUI 2015) selaku ketua tim.

“Proyek penelitian ini bertujuan untuk mewujudkan alat diagnostik wabah difteri di Indonesia yang terjangkau dan aman. Kami meneliti metode alternatif untuk mendeteksi toxin difteria dengan mengintegrasikan sistem kemotaksis Escherichia coli dengan reseptor heparin-binding EGF-like growth factor (HB-EGF) dan system fluorescence resonance energy transfer (FRET), yang terdiri atas gen LuxAB dan enhanced yellow fluorescence protein (eYFP), “ terang Valdi dalam siaran pers yang diterima GNFI.

“Hasil dari penelitian kami ini dapat diintegrasikan sistem kemotaksis. Ke depannya jika ada investor yang tertarik, kita bisa integrasikan sistem ini ke e-coli. End product-nya bisa lebih mudah, murah, dan cepat.” pungkasnya.

Difteri sebagai infeksi menular yang biasanya ditemukan di amandel dan tenggorokan, memang bisa dicegah dan disembuhkan. Namun, angka kematian akibat difteri masih ada dan cukup tinggi di negara-negara berkembang, terutama Indonesia.

Kurangnya deteksi dini, lambatnya pengobatan, dan minimnya kesadaran mengenai difteri dan vaksinasi membuat difteri masih terus beredar di masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, Finding Diphty tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi saja, tapi juga melakukan penyuluhan ke warga-warga sekitar. Salah satunya adalah di Desa Cikidang, Jawa Barat.

Selamat untuk Tim UI, dan semoga inovasinya bisa bermanfaat untuk Bumi Pertiwi!


Sumber: Siaran pers Tim UI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu