Pengembangan eFishery tampaknya kian sukses. Bahkan kini meraih pencapaian pendanaan terbesar sejak didirikan pada 2013 lalu. E27 melaporkan startup teknologi perikanan asal Bandung itu baru saja mengantongi pendanaan terbesar dalam kategori teknologi agrikultur (AgriTech) di Indonesia

Pendanaan eFishery kali ini mencapai angka USD 4 juta atau sekira Rp 58,8 miliar. Dukungan dana putaran eFishery berasal dari jajaran investor-investor global seperti Aqua-spark, Wavemaker Partners, 500 Startups, Maloekoe Ventures, Social Capital, Unreasonable Capital, Triputra Group, dan institusi-institusi lainnya.

Menurut founder dan managing partner Aqua-spark Amy Novogratz, budidaya ikan menggunakan agrikultur perikanan (akuakultur) merupakan sistem produksi pangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Penerapan teknologi agrikultur (AgTech) dengan eFishery. Foto: Jawa Pos/eFishery
Penerapan teknologi agrikultur (AgTech) dengan eFishery. Foto: Jawa Pos/eFishery

“Kami rasa industri budidaya ikan ini akan meningkat tiga kali lipat dalam waktu 30 tahun ke depan. Sebanyak 80 persen industri akuakultur dunia letaknya di Asia,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/11), seperti dilansir DealStreetAsia

Gibran mengungkapkan, pemberian makan yang terlalu banyak (overfeeding) adalah isu utama yang mempengaruhi budidaya ikan air tawar dan udang. Pengeluaran untuk pakan ikan juga bisa memakan 70 persen dari ongkos peternakan secara keseluruhan.

Mesin eFishery yang berbasis data memberikan solusi langsung yang tepat guna dan hemat biaya bagi para petani. eFishery juga memungkinkan layanan-layanan baru yang bisa berkontribusi dalam membuat industri budidaya ikan dan udang di Indonesia lebih dapat diandalkan dan menguntungkan.

Penerapan agrikultur (AgTech) dengan eFishery. Foto: Jawa Pos/eFishery
Penerapan agrikultur (AgTech) dengan eFishery. Foto: Jawa Pos/eFishery

“Kami memiliki teknologi berbasis data yang memungkinkan pengumpulan data pada produksi ikan dan pola perilaku ikan dari seluruh wilayah Indonesia. Kami yakin bahwa data ini bisa dimanfaatkan untuk memecahkan isu-isu utama dalam sektor akuakultur, termasuk manajemen risiko, pasokan yang kurang efisien, kurangnya pembiayaan, dan akses pasar,” paparnya.

Sejauh ini, dia mengaku telah menjalankan proyek-proyek pilot dengan institusi pendanaan dan bekerjasama dengan beberapa restoran untuk memberikan harga yang lebih baik bagi para petani ikan.

“Kami berharap kami bisa meningkatkan layanan dan menawarkan lebih banyak lagi hal baru dengan menggunakan teknologi dan platform yang ada,” jelas Gibran.

Respons pasar terhadap eFishery sendiri, menurut Gibran, sangat positif. Perusahaan ini menjalankan kegiatan operasional di Indonesia, sambil menjalankan proyek rintisan di Bangladesh, Thailand, dan Vietnam.

Menggunakan teknologi pemberian pangan dari eFishery, petani ikan bisa menghemat 24 persen stok pangan di setiap musim. Foto: Shinya Sawai/Nikkei Asia Review
Menggunakan teknologi pemberian pangan dari eFishery, petani ikan bisa menghemat 24 persen stok pangan di setiap musim. Foto: Shinya Sawai/Nikkei Asia Review

“Di Indonesia, customer eFishery tersebar di 16 provinsi dan 67 kota/kabupaten. Sampai saat ini, eFishery memiliki basis pelanggan terbesar di Asia dibandingkan startup-startup akuakultur lainnya,” klaimnya pada Jawa Pos.

Dia menyebutkan, eFishery telah beroperasi di Jawa, Bali, Lampung, Bengkulu, NTB, dan Kalimantan Selatan. Pihaknya juga berencana menjangkau daerah-daerah lain di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dalam satu tahun ke depan, sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh lebih banyak petani di Indonesia.

“Dalam waktu dua tahun terakhir, pendapatan perusahaan telah meningkat 261 kali lipat dan secara konsisten menghasilkan profit hingga saat ini,” katanya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu