Tarian Ini Jadi Jembatan Budaya Yogyakarta dan Dunia Luar. Apakah Itu?

Tarian Ini Jadi Jembatan Budaya Yogyakarta dan Dunia Luar. Apakah Itu?
info gambar utama

Saat itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X memasuki pelataran Bangsal Trajumas, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta. Ia berjalan bersama Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas menuju kursi yang yang menghadap ke arah pengrawit.

Tak lama kemudian, musik gamelan mulai dimainkan. Tari Bedhaya Sang Amurwabumi siap dilakonkan oleh sembilan penari yang berbaris rapi sembari memasuki Bangsal Trajumas. Dua diantaranya ialah putri pertama dan keempat HB X, GKR Mangkubumi dan GKR Hayu, yang rupanya ikut serta dalam perlakonan Tari Bedhaya.

Gladi resik ini dilakukan demi persiapan lawatan HB X bersama tim kesenian ke Wesleyan University, Middletown, Amerika Serikat, dalam rangka misi budaya. Diketahui bahwa misi ini telah dijajaki sejak tiga tahun lalu oleh GKR Hayu dan suaminya, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro.

Seperti yang dikutip melalui CNN Indonesia, KPH Notonegoro menyebut bahwa misi budaya pada kaitannya terdiri atas beberapa kegiatan yang cukup komplit. Ada simposium, pelajaran tari, lokakarya, pementasan tari, pementasan wayang golek, dan pementasan wayang kulit. Di mana kesemuanya ialah budaya dan tradisi serta seni asli Indonesia.

Gladi Resik Tari Bedhaya | Sumber dok: KrJogja.com
info gambar

Dalam latihannya terlihat gerakan sembilan penari berlangsung secara kompak. Gerak tangan hingga kibasan selendang berlangsung secara bersamaan.

Ialah HB X yang rupanya telah menciptakan Tari Bedhaya Sang Amurwabumi, yang bercerita mengenai kebenaran juga kekuasaan dalam filosofi Jawa. Tarian tersebut mengisahkan bagaimana dalam diri manusia terdapat kebenaran yang lebih unggul daripada kekuasaan.

Setelah gladi resik, Gubernur DI Yogyakarta berpesan pada penari untuk menjaga kesehatan tubuh demi menghadapi misi budaya.

Di sisi lain, GKR Mangkubumi turut menjelaskan bahwa banyak universitas di AS yang memiliki dan memelajari salah satu alat musik tradisional Indonesia yakni gamelan. Oleh sebab itu GKR Mangkubumi tak henti menyampaikan untuk terus berbangga dengan gamelan dan tarian Jawa.

Dalam penuturannya, GKR Mangkubumi juga mengatakan jika pengenalan budaya hendaknya tidak hanya ada di Nusantara melainkan juga hadir di internasional. Sebab baginya, menjadi penting untuk memberi edukasi terhadap masyarakat internasional bahwa Indonesia memiliki tari klasik yang merupakan ciri khas dari bangsa ini.

Selain Tari Bedhaya Sang Amurwabumi, misi budaya kali ini turut membawa Tari Wayang Topeng – Klama Swandana Gandrung dan Tari Golek Menak Umarmaya - Umarmadi.

Diketahui pula bahwa tim kesenian Keraton sebagai bagian dari misi budaya juga bertandang ke Yale University untuk menggelar pertunjukan wayang kulit purwa dengan lakon Arjuna Wiwaha. Diakui bahwa momen tersebut menjadi situasi yang tepat sebab Yale University menyimpan koleksi wayang kulit Jawa terbesar di AS.


Sumber: CNN Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini