Pertemuan Dengan Seseorang yang Membentuk Karaktermu

Pertemuan Dengan Seseorang yang Membentuk Karaktermu

Pexels.com

Pertemuan adalah sebuah awal dimana kita bisa berinteraksi dengan orang yang sebelumnya belum pernah kita temui, lantas begitu penting dalam membentuk karakter dalam hidup kita. Pernahkah pembaca sekalian menghayati lebih jauh arti sebuah pertemuan? Ini terjadi bukan sebuah kebetulan. So dalam setiap pertemuan itu ada yang membekas dan menjadi perubah dalam karakter kita. Mau buktinya?

Dalam suatu kesempatan Fiersa Besari salahsatu penulis yang bukunya saya kagumi belakangan ini, menceritakan bagaimana awal beliau mulai menulis, dan itu terjadi saat perjalanannya ke Pulau Buru. Saat itu ia bertemu seseorang anak muda yang memberikan sebuah buku “ Anak Semua Bangsa karya Pramodeya Ananta Toer”. Anak muda yang memberikan buku ini adalah orang yang sangat kritis, dan ketika ia tahu kenapa anak muda ini begitu kritis, fiersa besari mengerti dari mana pikiran kritis itu berasal, tentu itu berasal dari buku-buku yang anak muda ini baca. Setelah kepulangannya dari Pulau Buru tersebut Fiersa Besari menjadi gemar membaca dan juga menulis. Tulisan-tulisannya pun menjadi lebih panjang dari sebelumnya, karena cakrawala wawasan menjadi sangat luas. Apakah pertemuan ia dengan anak muda di Pulau Buru itu sia-sia? Jawabannya tentu tidak. Berkatnyalah ia menjadi gemar membaca dan mengabadikan momen dalam hidupnya melalui tulisan. Inilah yang saya sering sebut dalam pembentukan karakter.

Lain halnya yang hal yang dialami oleh “Zainuddin”, tokoh yang digambarkan Buya hamka dalam novelnya berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”. Pertemuannya dengan “Hayati”, gadis minang yang begitu cantik paras wajahnya, membuatnya hanyut dalam menulis sebuah puisi dan karangan perihal wanita tersebut. Namun sangat disayangkan karena terjadi pergolakan budaya dan adat istiadat menyebabkan cintanya kandas terhadap Hayati. Berbulan-bulan ia mengalami sakit dan kehabisan akal untuk menulis, apalagi ketika ia tahu bahwa Hayati telah dipinang oleh lelaki lain, bertambah sakit dan jatuhnya ia. Lalu setelah kesembuhan ia, hadirlah “Muluk”. Dalam suasana hati yang masih kalang kabut, bang muluk memberikan nasihat “Tidaklah baik jika hidup yang mulia ini dikurung karena semata seorang perempuan, jika hati seorang lelaki dikecewakan, dia selalu mencari usaha menunjukan dihadapan perempuan itu, bahwa kita tidak mati lantaran dibunuhnya, kita masih bisa hidup dan masih sanggup tegak. Dan yang paling terngiang dalam novel tersebut adalah kalimat yang bunyinya seperti ini “bahwa banyak orang yang benar-benar kalah dalam percintaan, lantaran kekalahan itu ia ambil jalan lain, dia maju dalam politik, dalam mengarang syair, dalam mengarang buku, dalam perjuangan hidup, sehingga dia naik ke atas puncak yang tinggi, yang perempuan itu wajib melihatnya dengan menengadah dari bawah”. Ayolah mulai menulis Zainuddin, tak usah kau pikirkan Hayati. Disini tuan menangis tersedu-sedu, meratap terisak-isak, sedangkan Hayati sedang senyum gembira menyandarkan kepalanya dipangkuan suaminya. Sudahlah tuan berhentilah berlaku demikian. Begitu dalam nasehat-nasehat bang muluk dan begitu tajam makna yang terkandung didalamnya. Karena hal demikian, Zainuddin pindah ke tanah jawa. Disinilah lahirlah beberapa buku dan karangan hebat dari Zainuddin.

Dalam hidup saya sendiri, saya pernah bertemu dengan seorang yang membentuk karakater saya. Awalnya saya merupakan tipikal orang yang kurang suka membaca apalagi menulis, berbulan-bulan hidup saya berantakan, pelan-pelan energi habis hanya demi sebuah perhatian. Tanpa sadar hidup saya jadi kurang produktif. Hingga saya berfikir untuk menjadi lebih baik kedepannya. Saya mulai menyukai buku-buku, berkenalan dengan Ikrom Mustofa, Fiersa Besari, bahkan Boy Chandra. Tak hanya itu kegemaran saya belakangan ini adalah berkunjung ke toko buku, mencari sebuah sastra yang dapat mengolah rasa, biografi tokoh-tokoh, hingga buku-buku filsafat. Lantas apa yang membuat saya rajin membaca buku? Jawabannya adalah karena saya sadar, wajah saya pas-pasan. Jadi saya berfikir otak saya ga boleh pas-pasan. Saya sadar membaca adalah belajar dari pemikiran terdahulu, jadi saya bisa memperbaiki pemikiran saya di masa sekarang. Selain sadar bahwa membaca itu penting, saya juga tertarik untuk menulis, karena bagi saya setiap momen dalam hidup ini, akan lenyap ditelan zaman, kecuali bila dituliskan. Pertemuan dengan seorang tersebut tidak pernah kusesali, menjadi sebuah pelajaran. Kalau tidak ketemu, saya mungkin ga akan belajar menjadi diri yang kuat, bahagia, dan rajin membaca.

Terimakasih kepada para pembaca, saya tutup dengan sebuah kalimat luar biasa menjadi penutup tulisan sederhana ini“ Setiap pertemuan dengan seseorang, adalah cara Tuhan membentuk karaktermu, jangan pernah engkau sesali, jangan pernah engkau hindari”

Salam hangat

Fathurraman Jamil

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indonesia Akan Jadi Tuan Rumah Acara Tahunan Pameran Kuliner Internasional Sebelummnya

Indonesia Akan Jadi Tuan Rumah Acara Tahunan Pameran Kuliner Internasional

Kemeriahan Hari Pertama Jakarta Fair 2019 Selanjutnya

Kemeriahan Hari Pertama Jakarta Fair 2019

0 Komentar

Beri Komentar