Black Team, Kampung Film, dan Hollywood-nya Indonesia

Black Team, Kampung Film, dan Hollywood-nya Indonesia

Papan nama komunitas Black Team © Foto: Aditya Jaya

Amerika punya Hollywood, India punya Bollywood, Indonesia punya……?

Nah lho, Kawan GNFI. Ada jawaban untuk pertanyaan itu? Sudahkah Indonesia memiliki sebuah kawasan yang memusatkan industri perfilman sebagai area wisata? Atau adakah wilayah yang menyediakan pernak-pernik film khas Indonesia?

Ketiadaan tempat bertema film lokal itulah yang kemudian mendorong sebuah komunitas perfilman di Bandung untuk membuat konsep Kampung Film. Dikenal dengan nama Black Team, komunitas yang berlokasi di Arcamanik, Bandung, ini bercita-cita ingin mendirikan Kampung Film sebagai Hollywood-nya Indonesia.

“Keinginan saya di Kampung Film nanti ada tempat latihannya, sanggarnya, ada studionya untuk menyimpan kamera. Terus di sepanjang sungai dipajang foto-foto pemeran film, museum untuk mengenang film-film zaman dulu, dan ada tempat nontonnya juga,” ucap Gumilar Sayidul Akbar, pendiri komunitas Black Team.

Kang Gugum (dua dari kiri) sewaktu shooting film Wayang | Dok. Gugum SA
Kang Gugum (dua dari kiri) sewaktu shooting film Wayang | Dok. Gugum SA

Pria yang akrab disapa Kang Gugum itu menambahkan, bahwa Kampung Film berpotensi sangat besar untuk didirikan di Bandung. Mayoritas penggiat film Indonesia mulai dari para pemainnya dan kru-kru filmnya, banyak yang berasal dari Bandung.

Plus dengan identitas Bandung sebagai salah satu kota wisata, adanya Kampung Film akan semakin mengembangkan perekonomian kawasan Arcamanik.

“Sebagai contoh misal di sini ada museum (film), akan memicu lahan bisnis lainnya. Ada yang bikin warung, karena pengunjung pasti butuh makan atau minum. Ada yang jual kaos atau merchandise lainnya. Lalu bagaimana kalau di Kampung Film tidak cukup sehari? Pengunjung bisa bermalam di penginapan.”

Proses shooting film Aku Ingin Menjadi Penari Jaipong | Dok. Gugum SA
Proses shooting film Aku Ingin Menjadi Penari Jaipong | Dok. Gugum SA

Mengenal Black Team lebih dekat

Impian besar mendirikan Kampung Film sudah dicanangkan Black Team dan telah digarap konsepnya. Tapi sebelumnya, apakah Kawan GNFI sudah mengenal komunitas yang satu ini?

Black Team berawal dari sekelompok orang dengan kegemaran membuat film pada tahun 2012. Mereka belajar secara otodidak, seperti dari YouTube atau media lainnya. Alat-alat pembuatan film pun sangat terbatas saat itu, tapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berkarya.

Sebagai produsen film, Black Team lebih menekankan pada tema kebudayaan lokal. “Cina punya Kung Fu, pasti film Cina ada Kung Fu-nya. Nah di Indonesia khasnya apa nih? Kalau orang bilang khas film kita itu horor, berarti harus kita cari yang membedakan film horor Indonesia itu apa,” terang Kang Gugum.

Kang Gugum melanjutkan, kekhasan yang dimiliki film Indonesia adalah budayanya. Dengan mengangkat tema budaya, akan sangat jarang ada film lain yang meniru sama persis, sehingga bisa didapat kekhasan tersendiri dari film itu.

Salah satu contoh karya terbaik Black Team adalah film berjudul Aku Ingin Menjadi Penari Jaipong. Film berdurasi 11 menit itu sempat ditayangkan di bioskop CGV beberapa waktu yang lalu.

Sebuah perkembangan pesat dari Black Team, dari yang awalnya menayangkan hasil karyanya di layar tancap kampung setempat, berlanjut ke YouTube, dan tahun ini merambah layar lebar.

Selain Aku Ingin Menjadi Penari Jaipong, film-film lain karya Black Team diantaranya Sinden Onom, Copet, RupiaH, Setiap Detik, dan masih banyak lagi yang bisa kalian jumpai di kanal YouTube Kampung Film Black Team.

Rekor dunia

Perkembangan Black Team tak hanya sampai di penayangan film layar lebar saja. Mereka juga sempat menyabet rekor dunia, dalam kategori pembuatan film tercepat. Itu dilakukan saat mengadakan acara G1000S alias Gerakan 1000 Sineas.

Hanya dalam tempo 9 jam, G1000S sanggup memproduksi satu film. Tentu tidak mudah melakukannya, karena pembuatan film biasanya butuh waktu berbulan-bulan. Namun Kang Gugum punya cara tersendiri agar rekor itu terwujud.

“Seribu orang itu kita bagi ke lima lokasi. Bisa enam atau tujuh juga, tergantung kebutuhan naskah. Jadi seribu orang itu dibagi, adegan tawuran butuh berapa, adegan dialog butuh yang seperti apa, dan adegan kesenian butuh yang bagaimana. Setelah itu langsung diedit dengan komputer yang canggih.”

Penyelenggaraan G1000S menyedot minat besar dari masyarakat setempat. Beragam kalangan mulai dari petugas keamanan, komunitas motor, sampai warga sipil berbondong-bondong menjadi bagian pembuatan film.

Poin menarik lainnya adalah, keikutsertaan mereka tanpa upah tapi ikhlas membantu secara sukarela. “Mereka bawa nasi sendiri dari rumah, bawa kostum sendiri dari rumah,” tutur Kang Gugum.

Beragam penghargaan yang didapat Black Team | Foto: Aditya Jaya
Beragam penghargaan yang didapat Black Team | Foto: Aditya Jaya

Suksesnya kegiatan tersebut membuat Black Team mengadakan G1000S jilid dua. Bertempat di Soreang, Kabupaten Bandung, tema yang diangkat adalah Citarum Harum karena sedang banyak diperbincangkan masyarakat.

Meroketnya popularitas Black Team membuat komunitas ini mendapat persetujuan menjadi sebuah lembaga di tahun 2015. Dengan nama Lembaga Kampung Film Pemuda Black Team, Kang Gugum dan rekan-rekannya kini bersiap menggarap film terbarunya: Satu Porsi Seblak.

Seperti apa alur ceritanya?

Rahasia doong, biar nggak spoiler. Hehee…


Sumber: Dokumentasi GNFI

Pilih BanggaBangga36%
Pilih SedihSedih9%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli18%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi27%
Pilih TerpukauTerpukau9%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Private Museum Pembangkit Geliat Seni Surakarta [Bagian 2] Sebelummnya

Private Museum Pembangkit Geliat Seni Surakarta [Bagian 2]

Kupang-Dili Kini Terhubungan Penerbangan Langsung Selanjutnya

Kupang-Dili Kini Terhubungan Penerbangan Langsung

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.

Artikel Terkait