Private Museum Pembangkit Geliat Seni Surakarta [Bagian 2]

Private Museum Pembangkit Geliat Seni Surakarta [Bagian 2]

Salah satu lukisan yang ada di Tumurun Private Museum © Foto: Vita Ayu Anggraeni

Jika anda belum membaca bagian 1 dari artikel ini, anda bisa membacanya di sini.

Ada banyak sekali karya seni yang memikat perhatian saya saat berada di Tumurun Private Museum ini. Kebanyakan karena begitu simple namun rumitnya karya seni ini dengan membawa pesan masing-masing dengan ciri khas masing-masing seniman yang coba untuk disampaikan kepada penikmatnya dengan pemahamannya masing-masing.Seperti sebuah lukisan berjudul Proper and Property yang dibuat pada tahun 2003 karya Entang Wiharso, seniman Indonesia kelahiran 1967. Lukisan ini berisikan sebuah cerita mengenai era 1980 setelah reformasi dimana seorang mengenakan jas hitam yang digambarkan sebagai Presiden dan orang-orang lain yang mengelilinginya adalah masyarakat Indonesia, dengan satu orang sebagai pusat dari lukisan memegangi bunga matahari yang melambangkan harapan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Lukisan Proper and Property karya Entang Wiharso | Foto: Vita Ayu Anggraeni

Lukisan kedua yang saya kagumi adalah lukisan berjudul Crowded atau Ramai (2018) yang dibuat oleh Rangga A. Putra, seniman termuda yang karyanya disimpan dan ditunjukkan oleh Tumurun. Rangga merupakan seorang seniman kontemporer kelahiran 1995 yang melukis Lukisan Crowded ini dengan style abstrak menggambarkan ruang-ruang yang terlihat sesak nan ramai, ruang tersebut menggambarkan otak manusia yang sungguh tanpa berhenti memikirkan banyak hal dengan kapasitas pemikiran-pemikiran kita sebagai manusia.

Lukisan Crowded karya
Lukisan Crowded karya Rangga A. Putra | Foto: Vita Ayu Anggraeni

Adapula sebuah lukisan yang sesungguhnya adalah sebuah karya seni terbuat dari tembaga berbentuk seperti kanvas sehingga terlihat seperti lukisan yang memiliki berat 100 kg dibawa langsung oleh pak Wawan, sang pemilik Tumurun Private Museum ini dari Amerika ke Indonesia. Karya seni berjudul Type yang dibuat pada tahun 2017 ini dibuat oleh John Henderson pria berkebangsaan Amerika kelahiran 1984.

Karya seni berjudul Type yang terbuat dari Tembaga memiliki berat 100kg | Foto: Vita Ayu Anggraeni
Karya seni berjudul Type yang terbuat dari Tembaga memiliki berat 100kg | Foto: Vita Ayu Anggraeni

Sesungguhnya saya tidak sempat menanyakan kepada Sari, sang pemandu kunjungan di Tumurun Private Museum ini mengenai makna-makna tersirat yang ingin disampaikan dari semua karya seni yang dipamerkan disini, termasuk karya seni berjudul Type tersebut.

Saya mencoba memahaminya dengan pengetahuan terbatas mengenai dunia seni, dengan sebuah karya seni menyerupai lukisan namun bukan lukisan melainkan tembaga yang berjudul Type ini, saya simpulkan bahwa karya seni ini mencoba untuk menyampaikan bahwa di dunia ini terdapat berbagai macam jenis entitas. Ada yang memang secara kasat mata dapat didefinisikan sebagai apa, ada pula yang perlu ditelaah untuk diketahui apa sebenarnya definisi sesuatu tersebut. Terlepas dari semua itu sesungguhnya kita itu terkoneksi satu sama lainnya, sebagaimana digambarkan oleh patahan garis yang ada di tembaga tersebut. Sekali lagi ini hanya pemahaman saya pribadi mengenai karya seni tersebut.

Kemudian ada pula sebuah patung berukuran 350 cm x 170 cm terbuat dari aluminium dan resin yang menggambarkan seseorang dengan hidung yang panjang khas seperti Pinokio tertindih tumpukan bantal yang tinggi dengan banyak tulisan berisikan fakta sosial. Patung tersebut berjudul Potret Diri oleh seniman kontemporer Tisna Sanjaya.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Patung Potret Diri karya Tisna Sanjaya | Foto: Vita Ayu Anggraeni

Menyiratkan pesan bagaimana sesungguhnya manusia menjalani kehidupan fana (direpresentasikan oleh hidung Pinokio yang dikenakannya) di bawah seluruh tekanan kehidupan (dari bantalnya). Bantal-bantal tersebut sesungguhnya lembut, nyaman, dan ringan dalam bentuk aslinya, namun ekspektasi-ekspektasi yang hadir bersamanya di tulisan-tulisan tersebut tidak terlihat selembut, nyaman, dan ringan itu. Membuatnya lebih berat untuk dipikul, sehingga untuk bisa baik-baik saja dalam permainan kehidupan, seseorang harus setidaknya “bermain” di dalamnya.

Close up hidung Pinokio di patung Potret Diri karya Tisna Sanjaya | Foto: Vita Ayu Anggraeni
Close up hidung Pinokio di patung Potret Diri karya Tisna Sanjaya | Foto: Vita Ayu Anggraeni

Banyak sekali karya-karya lainnya yang sesungguhnya memiliki makna yang sangat-sangat mendalam mengenai kehidupan.

Dengan adanya museum serupa, saya rasa masyarakat Indonesia memiliki lebih banyak lagi wadah untuk mengembangkan potensi diri. Jika kalian berkunjung ke kota Solo, tidak ada salahnya untuk meluangkan waktu untuk melakukan reservasi untuk bisa mengunjungi museum ini.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Apa Saja Model-model Pesawat yang Dioperasikan Maskapai-maskapai Indonesia? Yuk Kenali Sebelummnya

Apa Saja Model-model Pesawat yang Dioperasikan Maskapai-maskapai Indonesia? Yuk Kenali

1001 Cerita Dari Tanah Lot Pulau Jawa Selanjutnya

1001 Cerita Dari Tanah Lot Pulau Jawa

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.