Mapala Silvagama Kehutanan UGM Telisik Karakteristik Biofisik Gambut di Taman Nasional Tanjung Puting

Mapala Silvagama Kehutanan UGM Telisik Karakteristik Biofisik Gambut di Taman Nasional Tanjung Puting

Foto bersama tim ekpsedisi dengan Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Puting dan Direktur Utama Orangutan Foundation International © Mapala Silvagama

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Indonesia adalah salah satu dari 162 negara di dunia yang meratifikasi Konvensi Ramsar atau Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterfowl Habitat. Sejak diratifikasi oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 48 Tahun 1991 pada tanggal 19 Oktober 1991, Indonesia telah mendaftarkan setidaknya tujuh lokasi yang kemudian lebih banyak disebut sebagai Situs Ramsar. Salah satu Situs Ramsar yang juga menjadi representasi kawasan lahan basah paling penting di Kalimantan Tengah adalah Taman Nasional Tanjung Puting. Kawasan ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjaga proses hidrologi, biologi, dan ekologi dari lahan rawa gambut serta menyimpan keanekaragaman hayati tinggi yang cukup menarik untuk dieksplorasi.

Bentuk tanah gambut yang ada di Taman Nasional Tanjung Puting

Hal tersebut menjadi salah satu alasan Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan UGM melanjutkan perjalanan Ekspedisi 50 Taman Nasional ke Taman Nasional Tanjung Puting. Ekspedisi 50 Taman Nasional merupakan salah satu program jangka panjang Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan UGM dalam upaya memperkenalkan hal-hal menarik maupun isu yang ada di setiap taman nasional di Indonesia yang dikemas dalam bentuk publikasi yang informatif untuk meningkatkan kesadartahuan melalui berbagai kajian ilmiah kepada khalayak umum. Pada setiap ekspedisi yang dilakukan mengangkat tema khusus sesuai dengan potensi yang dimiliki di setiap taman nasional. Karakteristik Biofisik Lahan Gambut merupakan tema besar yang diangkat dalam kegiatan ini. Taman Nasional Tanjung Puting adalah taman nasional ke-19 yang dikunjungi Mapala Silvagama dari 54 taman nasional yang ada di Indonesia. Taman Nasional Tanjung Puting ini juga merupakan taman nasional pertama di Pulau Kalimantan yang berhasil dieksplorasi.

Sepasang Bekantan (Nasalis larvatus) sedang bersantai dipinggir Sungai Sekonyer

“Ekspedisi Taman Nasional Tanjung Puting ini menjadi ekspedisi yang tidak biasa karena mengajak berbagai pihak untuk bekerja sama dalam pengambilan data di lapangan,” terang Arie Maya selaku Koordinator Lapangan Tim Ekspedisi Taman Nasional Tanjung Puting Mapala Silvagama. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 29 Oktober hingga 9 November 2018 dan diikuti oleh 12 anggota tim lapangan. Keduabelas anggota tim lapangan yang diberangkatkan tersebut antara lain Arie Maya Wijayanti, Adinda C. Milaba, Agus Kusmawanto, Astried Cantika Herdina, Rezky Putri Harisanti, Banu Wijaya, dan I Putu W. Nuarta yang merupakan anggota aktif Mapala Silvagama. Sedangkan 5 anggota tim lainnya adalah Fahmi Idris (Kehutanan UGM), Tri Dodi H. (Kehutanan UGM), Ferdaus H. (Kehutanan UGM), Putu Fahrudin (Fisipol UNY) dan Erlyn Mattoreang (Geografi UGM).

“Setiap anggota tim lapangan bekerja sesuai dengan bidang masing-masing. Tim sudah terbagi menjadi tim flora, tim fauna, tim tanah, dan tim sosial sesuai dengan target data yang diambil di lapangan,” tambah Maya.

Tim ekspedisi sedang menembus hutan untuk dapat menjangkau lokasi tanah bergambut di TNTP

Gambut diambil sebagai tema besar ekspedisi di Taman Nasional Tanjung Puting mengingat sebagian besar kawasan taman nasional ini berupa ekosistem rawa gambut. Biofisik berupa karakteristik tanah, flora, dan fauna diambil untuk mengetahui perbandingan keadaan ekosistem gambut yang tidak terganggu dengan yang sudah terganggu, misalnya dengan terdampaknya akibat kebakaran. Sedangkan data sosial diambil untuk mengetahui persepsi masyarakat sekitar terhadap lahan gambut yang ada di dalam kawasan taman nasional. Keberhasilan upaya pemulihan ekosistem sangat dipengaruhi oleh dukungan dan keterlibatan masyarakat sekitar. Ketergantungan masyarakat akan sumber daya hutan akan menimbulkan hubungan dalam hal sosial, ekonomi, maupun budaya. Aktivitas masyarakat juga akan berdampak pada kelestarian hutan. Begitupun sebaliknya, hutan akan mempengaruhi kebutuhan manusia.

Pengelolaan berbasis masyarakat dengan melibatkan stakeholder terkait diwujudkan dalam beberapa program seperti Masyarakat Peduli Api (MPA), Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Friends of The National Parks Foundation (FNPF), Orangutan Foundation United-Kingdom (OF-UK), dan Orangutan Foundation International (OFI) yang memiliki tujuan dan fungsi masing-masing.

salah satu ranger di TN Tanjung Puting tengah membantu tim mengukur besar pohon ulin di Kawasan Resort Pesalat

Pengelolan ekosistem yang spesifik seperti hutan rawa gambut perlu dibentuk ke depannya. Pentingnya manfaat yang diperoleh oleh masyarakat dengan adanya hutan rawa gambut perlu disosialisasikan dengan baik sebagai langkah awal untuk meningkatkan kesadartahuan masyarakat. Persepsi masyarakat sekitar terhadap hutan rawa gambut juga harus diakomodir dalam setiap tahapan pemulihan ekosistem.

Potret rumah yang ada di desa sungai sekonyer, desa yang masuk dalam kawasan taman nasional

Pengambilan data difokuskan ke dua resort yaitu Resort Pesalat dan Resort Teluk Pulai yang berada di SPTN (Seksi Pengelolaan Taman Nasional) Wilayah III Teluk Pulai. Ekspedisi yang didukung oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) Indonesia ini mendapat sambutan yang luar biasa dari Balai Taman Nasional Tanjung Puting. Terkait dengan permasalahan kebakaran yang pernah terjadi di tahun 2015, Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Puting, Ir. Helmi mengharapkan ekspedisi ini bisa melihat spektrum yang lebih luas sehingga hasilnya dapat menjadi solusi bersama untuk pengelolaan yang lebih baik. Selain itu dengan adanya ekspedisi ini diharapkan data yang terambil dapat menjadi sumber pelengkap informasi sebagai pertimbangan Badan Restorasi Gambut dalam mewujudkan program rewetting (pembasahan kembali), Revegetasi dan Revitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat.

Tim ekspedisi sedang memeriksa lahan gambut yang terdapat di Resort Teluk Pulai bersama Ranger Orangutan Foundation International


Sumber: Tim Lapangan Ekspedisi Taman Nasional Tanjung Puting

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga89%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang11%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Amandio Harumkan Indonesia Di D1GP Drift Sebelummnya

Amandio Harumkan Indonesia Di D1GP Drift

Membangun Pola Pikir Agile Dalam Tim Selanjutnya

Membangun Pola Pikir Agile Dalam Tim

Hamzah Ramadhani
@hamzahramadhani

Hamzah Ramadhani

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.