Siswa Indonesia berhasil mencapai 10 besar pada Olimpiade Internasional Astronomi dan Astrofisika (IOAA) Ke-12 yang diadakan baru-baru ini di Beijing.

Mereka mendapatkan satu medali emas, satu medali perak, dan tiga medali perunggu di kompetisi tersebut, yang diselenggarakan oleh Akademi Sains dan Teknologi Beijing dan Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Kota Beijing, seperti dikutip dari kompas.com.

Para siswa sekolah menengah atas tersebut merupakan peserta di antara 209 peserta, 71 pemimpin tim, dan 35 pengamat dari 39 negara yang berpartisipasi dalam acara tersebut, yang diadakan pada tanggal 3-11 November.

ke-5 delegasi Indonesia pada olimpiade astronomi di Beijing, China | Sumber: Kemlu
ke-5 delegasi Indonesia pada olimpiade astronomi di Beijing, China | Sumber: Kemlu

Ketua tim Indonesia bapak Hakim L. Malasan mengatakan bahwa dalam 10 hari, para siswa mampu melewati putaran teori, kompetisi tim, serta putaran pengamatan, dan analisis.

Putaran pengamatan dilakukan di dalam ruangan karena cuaca, dengan putaran analisis data selama lima jam dalam suhu di bawah nol derajat Celcius. Satu tim siswa diminta menentukan ketinggian bukit di belakang Holiday Inn. Mereka diberi waktu dua hari untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Kompetisi selama sepuluh hari ini diikuti 209 siswa dari 39 negara dan para peserta diharuskan melalui tiga ronde utama yang diperlombakan dalam ajang ini. Ronde teori dilaksanakan di Conference Room, Holiday Inn Resort pada tanggal 5 November 2018, diikuti ronde kompetisi tim dan ronde pengamatan yang terdiri atas dua bagian yaitu day time dan night time pada 6 November 2018. Selanjutnya ronde analisa data berlangsung lima jam pada 8 November 2018 di Conference Room, Holiday Inn Resort. Pada ronde teori, seluruh siswa bergelut dengan sebelas soal terdiri atas dua soal Betul-Salah, tujuh soal essay pendek-medium dan dua soal essay panjang selama lima jam. Sedangkan pada ronde analisa data sejumlah dua soal panjang harus diselesaikan dalam lima jam. Kecerdasan dan ketahanan siswa benar-benar diuji dalam ronde-ronde tersebut. Pada tanggal 6 November, siswa memulai ajang kompetisi tim yang dicampur dari berbagai negara.

"Cuaca minus 5 derajat ketika mereka melakukan putaran pengamatan, tetapi dengan kondisi seperti itu, semangat juang mereka luar biasa. Hasil mereka dalam putaran pengamatan ini cukup tinggi, bahkan hampir sempurna," kata Hakim dalam sebuah pernyataan.

Hasil tim tahun ini menandai lompatan besar dari 2017 ketika Indonesia membawa pulang empat medali perunggu.

Pemenang pada kompetisi tahun ini termasuk Nathanael Beta Budiman dari SMAN 2 di Jakarta yang memenangkan emas dan Muhammad Ikhsan Kusrachmansyah dari SMA Kesatuan Bangsa di Yogyakarta dengan satu perak, serta peraih medali perunggu Ahmad Izuddin dari SMAN Plus di Riau, Made Yongga Anggar Pangestu dari SMAN 1 Mataram Nusa Tenggara Barat dan Muhammad Fajril Afkaar Ali dari SMA Kharisma Bangsa di Banten, Jawa Barat.

"Saya sangat berterima kasih atas emasnya dan saya benar-benar tidak mengharapkannya," kata Nathanael.

IOAA 2018 dilaksanakan oleh Beijing Academy of Science and Technology dan Foreign Affairs of the People's Government of Beijing Municipality. Adapun Beijing Planetarium bertindak sebagai tuan rumah. IOAA 2018 ini bukan saja menjadi ajang kompetisi, namun telah menjadi wadah untuk mempertukarkan budaya dan menjalin persahabatan. IOAA 2019 akan dilaksanakan pada tanggal 2-10 Agustus di Keszthely, Hongaria.


Sumber: Jakarta Post | Kemlu

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu