Uniknya Dumbleg, Makanan Khas Kota Nganjuk

Uniknya Dumbleg, Makanan Khas Kota Nganjuk

https://i.ytimg.com/vi/y33opXanuL4/maxresdefault.jpg

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Dumbleg merupakan salah satu makanan khas Kota Nganjuk yang berbahan dasar tepung beras. Tak banyak orang yang tahu mengenai makanan khas Kota Nganjuk ini, bahkan warga Nganjuk sendiri. Hal ini disebabkan oleh kurangnya promosi dan penjual dumbleg itu sendiri. Namun hingga saat ini dumbleg masih laku dan banyak peminatnya di pasaran.

Menurut penuturan Minarti, seorang pembuat jajanan dumbleg, dumbleg pertama kali dibuat di Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk. Saat ini pemasaran dumbleg hanya pada pasar kliwon Kecamatan Rejoso dan pasar pon Kecamatan Gondang. Pasar kliwon merupakan pasar tradisional dimana pasar tersebut buka setiap kliwon (weton jawa) atau dalam hitungan hari berarti lima hari sekali, begitu juga dengan pasar pon. Saat memasarkan dumbleg, biasanya penjual menggunakan tumbu, yaitu wadah berukuran besar yang terbuat dari anyaman bambu untuk mewadahi dumbleg-dumbleg yang akan dijual.

Dumbleg merupakan makanan sejenis dodol atau jenang. Bahan-bahan untuk membuat dumbleg pun hampir sama dengan dodol atau jenang. “Bahan-bahan untuk membuat dumbleg adalah tepung beras, santan, gula merah, dan gula pasir.” ujar Minarti. Perempuan berusia 46 tahun itu menjelaskan bahwa cara membuat dumbleg adalah dengan mencampur semua bahan-bahan, yaitu tepung beras, santan, gula merah, dan gula putih yang kemudian setelah tercampur rata dimasukkan kedalam pelepah pinang yang telah dijahit bagian pinggirnya dengan tali rafia. Itulah yang membuat dumbleg menjadi unik dan berbeda dengan dodol atau jenang pada umumnya, yaitu dalam pengemasannya dumbleg menggunakan pelepah pinang.

Selain tampilan dalam pengemasannya, yang membuat dumbleg berbeda dengan dodol atau jenang adalah rasanya. Jika dodol atau jenang pada umumnya memiliki rasa yang sangat manis dan legit serta tekstur yang padat dan keras, dumbleg justru memiliki rasa yang tidak terlalu manis dan legit serta memiliki tekstur yang empuk. Harga dari dumbleg ini pun sangat terjangkau, yaitu berkisar antara Rp. 7000,- sampai dengan Rp. 8000,-.

“Ada dua jenis dumbleg, yaitu dumbleg merah dan dumbleg putih.” ujar Minarti. Yang membedakan antara dumbleg merah dan dumbleg putih adalah adanya gula merah dalam pembuatannya. Dumbleg merah menggunakan gula merah dalam pembuatannya, sedangkan dumbleg putih tidak menggunakan gula merah. “Dumbleg merah itu rasanya manis, sedangkan dumbleg putih itu rasanya gurih” ujar Minarti. Adanya gula merah dalam proses pembuatan dumbleg juga mempengaruhi rasa dari dumbleg.

Pengemasan dumbleg yang unik membuat dumbleg memiliki keunikan tersendiri. Bungkus dari pelepah pinang dipercaya dapat membuat rasa dumbleg menjadi lebih gurih. Cara membuat bungkus dari pelepah pinang itu pun tidak sulit, cukup dengan memotong pelepah pinang kurang lebih sepanjang 20cm kali 20cm, kemudian lipat menjadi dua bagian sehingga bertemu samping dengan samping, ujung dengan ujung dan membentuk lonjong, kemudian bagian samping dan ujung bawah pinang tersebut dijahit dengan tali rafia, sehingga menyisakan bagian ujung atas yang digunakan untuk tempat memasukkan adonan dumbleg.

Dumbleg merupakan salah satu makanan yang wajib dicicipi saat Anda berkunjung ke Kota Nganjuk, selain rasanya yang khas dan pengemasannya yang unik, dumbleg juga memiliki harga yang terjangkau dan ramah dikantong serta mengenyangkan.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga64%
Pilih SedihSedih7%
Pilih SenangSenang7%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi7%
Pilih TerpukauTerpukau14%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Puti Karina Puar, Pemenang International Emmy 2018 Sebelummnya

Puti Karina Puar, Pemenang International Emmy 2018

Hobbit dan Mata Menge, ‘’Manusia Purba’’ Flores yang Menyulut Perdebatan Arkeolog Dunia Selanjutnya

Hobbit dan Mata Menge, ‘’Manusia Purba’’ Flores yang Menyulut Perdebatan Arkeolog Dunia

Reni Kristiani
@reni_kristiani

Reni Kristiani

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.