Seperti yang kita tahu, di Indonesia banyak sekali terdapat warung-warung kecil yang beredar di penjuru wilayah Indonesia. Namun sekarang, Warung Tiga PutRI menjadi terobosan baru bagi Indonesia.

Konsep ini adalah gagasan Warung Pintar, sebuah start-up teknologi lokal yang telah mengubah lebih dari 1.000 warung dan penghitungan di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia.

Warung ini pada umumnya masih sama dengan warung-warung lainnya yang menjual rokok, makanan kecil, minuman dan sebagainya. Namun bedanya, dalam warung ini, penjual dapat memantau pemasukan dan pengeluaran dengan lebih efisien melalui aplikasi.

Selain itu, cara pembayaran yang sedikit berbeda dari biasanya juga menjadi daya tarik warung ini. Jika warung biasanya menggunakan uang tunai, kita bisa memilih untuk membeli barang di warung ini dengan menggunakan cara pembayaran non tunai sehingga untuk kita yang lebih suka cashless dapat dipermudah dengan adanya warung pintar ini.

Keunikan lainnya yang bisa didapatkan yaitu pelanggan di Warung Tiga PutRI  juga dapat menyewa bank listrik, menonton televisi, menggunakan Wi-fi gratis, membeli kereta api dan tiket pesawat, hingga mengisi daya ponsel mereka.

Untuk dapat meningkatkan pemasaran, distribusi dan keterlibatan, Harya Putra sebagai co-founder warung pintar menempatkan kamera CCTV untuk mengetahui berapa banyak orang yang berbelanja di sana, berapa banyak di antara mereka adalah pria atau wanita, dan berapa usia mereka.

Dari data demografis yang diperoleh, penjual jadi lebih mengetahui target pasar yang ia miliki dan barang-barang apa saja ang harusnya lebih banyak dijual.

Warung Pintar ini juga membuat penjual merasa lebih diuntungkan. Seperti misalnya Junaidi Salad pemilik warung yang juga merasakan manfaat dari adanya Warung Pintar ini. Keuntungan yang ia peroleh meningkat lebih banyak, bahkan sampai sekarang ia sudah memiliki mobil dan dua kios lainnya. Selain itu, ia juga dapat membiayai pendidkan ketiga putrinya dari hasil berjualan di warung pintar.

Keberadaan warung pintar ini juga diusung karena Indonesia adalah negara terbesar se-asia tenggara yang menggunakan internet ekonomi. Nilainya diperkirakan akan mencapai US $ 27 miliar pada 2018, dan naik 49 persen dari tahun-ke-tahun. Dari situ, berangkatlah warung pintar yang juga bersaing bersama minimarket bahkan department store lainnya.

Warung pintar ini diharapkan dapat mengikuti jejak e-commerce yang ada sebelumnya seperti alibaba dan JD.com yang mengalami evolusi warung dari kios sempit menjadi bisnis kecil yang didukung teknologi yang bisa memperkenalkan toko-toko yang menggunakan inovasi cashless serta menggunakan troli belanja cerdas. 

Pesaing Warung Pintar

Warung Pintar tidak sendirian dalam usahanya. Wahyoo, start-up lain, bertujuan untuk memodernisasi warteg yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Sama seperti Warung Pintar, Wahyoo sedang menyederhanakan rantai pasokan: para penikmat warteg (yang disebut Wartegowner) sekarang dapat memesan air kemasan, minuman, telur, minyak goreng, gula, tepung, teh, dan kopi melalui aplikasi Wahyoo.

Perusahaan tersebut sekarang memiliki lebih dari 2.000 wartegunder (nama warteg), yang bertambah 50 setelah Wartegunder pertama didirikan pada bulan April tahun lalu.“Hanya ada beberapa warteg yang benar-benar bersih, dan itulah yang menghalangi orang untuk makan di sana. Meskipun begitu, warteg selalu penuh,” kata pendiri Wahyoo, Peter Shearer, dikutip dari South China Morning Post.

"Kami memiliki keinginan menjadi operator warung digital terbesar di Indonesia. Di masa depan, kami ingin mengaktifkan sistem point-of-sale yang akan memungkinkan kami untuk mengetahui buku terlaris pada menu dan mengidentifikasi profil konsumen." lanjutnya.

Salah satu bentuk Warung Pintar | Foto : Reuters
Salah satu bentuk Warung Pintar | Foto : Reuters

Di samping itu, buta digital dan kurangnya kepercayaan merupakan tantangan besar bagi pemula, terlebih para pemilik warung yang masih awam akan teknologi juga masih menjadi perhatian. Perusahaan Start-up seperti Wahyoo dan Warung Pintar melihat pembelajaran berkelanjutan, untuk perusahaan dan klien mereka, sebagai kunci untuk mempercepat digitalisasi warung di Indonesia.

Kedua perusahaan mengirim seorang karyawan seminggu sekali untuk memeriksa warunginventories dan mengatasi kekhawatiran pemilik. Dengan begitu, perusahaan juga masih tetap terus belajar dan terus memperbaiki diri agar perusahaan dapat memberikan pelayanan yang terbaik.


Sumber: South China Morning Post

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu