“Dulunya di sini listrik belum ada. Kalau (di rumah) saya itu nyala listriknya jam 8. Kalau jam 5 sore gitu anaknya Pak Lurah nagih ke rumah-rumah untuk beli bensin. Tapi jam 10, jam 11 sudah padam, karena bensinnya sudah habis.”

Sepenggal cerita dari Tidore, Maluku Utara, itu menjadi awalan video pendek berjudul Pembangkit Harapan. Video berdurasi tiga menit yang menceritakan kehidupan warga Tidore, sejak sebelum listrik hadir di pemukiman sampai masuk dan menjadi bagian dari keseharian hidup mereka.

PT. Pembangkitan Jawa Bali (PJB) menjadi dalang di balik suksesnya listrik hadir menemani kegiatan sehari-hari warga Tidore. Sejak dioperasikan pada 2016. PLTU pertama yang beroperasi di Maluku dan Maluku Utara ini membuat kebutuhan listrik di Ternate dan Tidore semakin tercukupi.

Masyarakat bisa membuat acara bersama di malam hari, bisa mengadakan nonton bareng (nobar) setelah matahari tenggelam, dan beragam aktivitas lainnya yang memerlukan daya listrik. Tak perlu menunggu jam 8 malam lagi, dan anak Pak Lurah tak perlu berpatroli menagih uang bensi lagi.

Semua peralatan hanya tinggal ditancapkan ke stop kontak dan dinyalakan, untuk menunjang aktivitas. Kapanpun, secara leluasa, tanpa perlu menghitung jam berapa listrik nyala dan mati.

 Tak hanya bermanfaat untuk menunjang aktivitas, adanya PLTU Tidore juga menyerap cukup banyak tenaga kerja, dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka. Sebab, dengan bekerja di PLTU Tidore para pekerja tersebut turut berjasa mengukir senyum di wajah para warga Tidore, berkat listrik yang senantiasa hadir setiap hari.

Terima kasih PT. PJB, yang telah mendirikan #PembangkitHarapan!


Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu