YouthSpeak Forum: Tips Menjaga Etika di Media Sosial

YouthSpeak Forum: Tips Menjaga Etika di Media Sosial
info gambar utama

Etika penggunaan media sosial menjadi topik yang hangat di kalangan anak muda belakangan ini. Banyaknya informasi yang tersebar dan keinginan untuk menunjukkan diri, membuat etika terkadang sulit dijaga saat mengakses media sosial.

Berawal dari persoalan itu, AIESEC di Universitas Prasetiya Mulya mengadakan seminar YouthSpeak. Mengusung tema beretika di media sosial, acara ini dihelat pada Sabtu 24 November lalu, di William Soeryadjaya Building auditorium lantai 3.

Sebanyak em[at pembicara dihadirkan di seminar ini, untuk berbagi tips dan pengalaman dalam menjaga etika di media sosial. Sedemikian pentingnya etika di media sosial, karena aplikasi tersebut kini tak hanya menjadi sarana hiburan bagi penggunanya, tapi juga sarana mencari maupun mengunggah informasi.

Ryan Rahardjo di acara YouthSpeak Forum | Foto: Aditya Jaya
info gambar

Ryan Rahardjo menjadi pembicara yang mendapat kesempatan pertama untuk memberikan arahan dalam pemakaian media sosial. Pria yang bekerja di Google Indonesia bidang kebijakan publik menekankan pentingnya menanam niat positif sebelum membuka media sosial.

Niat positif di sini misalnya untuk mencari beasiswa, info sekolah, materi lain di bidang pendidikan, atau perbuatan lain yang bisa bermanfaat untuk sesama pengguna. Niatan ini tidak hanya dilakukan sekali, tapi harus berkelanjutan dan dilakukan evaluasi secara berkala.

“Kalau niatnya baik maka nanti yang didapat juga baik,” terang Ryan yang di acara ini memakai setelan blazer, celana jins, dan sepatu kets.

Galih Sikri di acara YouthSpeak Forum | Foto: Aditya Jaya
info gambar

Beralih ke pembicara kedua, Galih Sikri selaku dosen di salah satu perguruan tinggi ternama menjelaskan bagaimana menyikapi informasi yang tersebar di media sosial. Wanita berjilbab ini memberi tips yaitu “Post with intention. repost with caution” yang artinya unggah dengan kewaspadaan, sebarkan dengan kehati-hatian.

“Perilaku kita di media sosial itu dilihat banyak orang. Coba saja lihat followers kita ada berapa ratus, belum lagi kalau ada teman yang menyebarkan konten unggahan kita. Makanya etika harus dijaga,” ujar Bu Galih.

Kemudian di kesempatan lain saat berbincang dengan GNFI, Bu Galih turut menjelaskan bagaimana seharusnya menumpahkan curahan hati atau unek-unek di media sosial. Ini terkait maraknya curhatan pengguna media sosial yang diunggah ke InstaStory dan thread Twitter.

“Sebaiknya curhat itu jangan di media sosial, karena itu persoalan pribadi. Kalau memang harus dilakukan di media sosial, sebaiknya itu dijadikan last choice (opsi terakhir). Misalnya kalau sudah bicara ke pihak berwenang tapi belum ada tanggapan, boleh mengungkapkannya di media sosial, tapi tetap haru menjaga etika,” terangnya.

Di dua pembicara berikutnya sesi berbagi tips dalam menggunakan media sosial terus berlanjut. Antusiasme peserta cukup tinggi di cara ini, dengan banyaknya kursi-kursi yang terisi serta beragam bertanyaan di sesi tanya-jawab.

Bagaimana denganmu, Kawan GNFI? Sudahkah kamu menerapkan etika baik dalam bermedia sosial?


Sumber: Dokumentasi GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini