Taman Bumi Di Ujung Timur Jawa

Taman Bumi Di Ujung Timur Jawa

Pulau Merah Banyuwangi © Sumber: Travel Today

Kabupaten Banyuwangi di Jawa Timur telah dinyatakan sebagai taman bumi, atau taman geologi nasional (geopark), oleh National Geopark Community. Sertifikat status kabupaten dipresentasikan di Bogor pada hari Jumat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan deklarasi tersebut mendorong kabupaten Banyuwangi untuk mengoptimalkan pariwisata berbasis alam, seperti dikutip dari kompas.com.

“Status geopark [untuk Banyuwangi] akan melengkapi Api Biru Ijen dan Taman Nasional Alas Purwo yang telah dinyatakan sebagai cagar biosfer di bawah Jaringan Cagar Biosfer UNESCO. Ini juga memperkuat posisi Banyuwangi untuk ekowisata, ”kata Anas.

Api biru atau blue fire dari kawah Ijen | Sumber: dumbwanderer
Api biru atau blue fire dari kawah Ijen | Sumber: dumbwanderer

Sang Bupati mengatakan dia juga membidik Banyuwangi untuk terdaftar sebagai UNESCO Global Geopark setelah evaluasi tahun depan.

“Kami akan segera menindaklanjuti rekomendasi komite,” lanjut Anas.

Banyuwangi mengusulkan tiga situs sebagai geopark, yaitu Blue Fire di Gunung Ijen, Pulau Merah, dan Taman Nasional Alas Purwo.

Yang pertama adalah salah satu fenomena api biru yang paling menonjol dan kawah yang paling asam di dunia. Sementara itu, Pulau Merah dan kompleks gua Taman Nasional Alas Purwo terdaftar sebagai daerah mineralisasi tinggi, karena merupakan bekas sisa dari magma yang beredar di bawah gunung berapi kuno.

Penemuan batu di Pulau Merah membuat laboratorium geologi yang ideal untuk mempelajari perubahan dan mineralisasi emas tembaga. Selain itu, jejak geologi di gua Istana di Taman Nasional Alas Purwo mengungkapkan bahwa daerah itu dulunya merupakan laut dangkal yang berubah menjadi tanah.

Taman Nasional Alas Purwo | Sumber: Pariwisata
Taman Nasional Alas Purwo | Sumber: Pariwisata

Geopark Banyuwangi juga menampilkan keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya yang beragam. Empat belas flora dan 27 spesies fauna, termasuk enam mamalia, ditemukan di daerah Ijen, sementara Taman Nasional Alas Purwo adalah habitat bagi 700 tanaman, 50 mamalia, 320 burung, 48 reptil, dan 15 spesies amfibi.

“Dengan semua kekhasan geologi, flora, fauna, dan warisan budaya yang kami [Banyuwangi] miliki, kami telah mempromosikan ekowisata sebagai basis pengembangan pariwisata sejak awal,” kata Anas.

Indonesia sekarang memiliki empat geopark global UNESCO dan 15 geopark nasional. Semua geopark ini berkontribusi sekitar 35 persen terhadap total pendapatan ekowisata di Indonesia.


Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga93%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang7%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tenang Dulu, Ini Perbedaan Cendol Singapura dan Cendol Indonesia! Sebelummnya

Tenang Dulu, Ini Perbedaan Cendol Singapura dan Cendol Indonesia!

Sepak Terjang Perjalanan Cukur Rambut Asgar Selanjutnya

Sepak Terjang Perjalanan Cukur Rambut Asgar

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.