Ada gambar manusia, manusia setengah ikan, ikan, kura-kura, kadal, tikus tanah, sampah burung. Ada juga gelang, kapak batu dan motif geometris seperti lingkaran serta matahari. Begitulah antara lain gambar-gambar yang ada pada batu-batu hitam yang disebut batu gabro. Gambar-gambar ini dibuat dengan menggores.

Batu untuk menggores berjenis batuan beku peridiotit dari Pegunungan Cyclop. Para arkeolog mengatakan, inilah ekspresi pengetahuan manusia saat itu tentang alam sekitar. Itulah Situ Megalitik Tutari. Lokasi berada di perbukitan. Pohon kayu putih, batu-batu hitam, dan rumput ilalang memenuhi lokasi ini.

Ketiganya menghiasi kanan dan kiri jalan, mulai dari pintu masuk hingga lokasi situs tertinggi. Jalan yang dibangun memudahkan pengunjung menelusuri setiap bagian situs. Di beberapa titik tersedia pondok tempat istirahat. Beberapa pondok berada di ketinggian dengan pemandangan menghadap ke hamparan Danau Sentani.

Situs ini menyimpan sejarah kebudayaan masyarakat di pinggir Danau Sentani pada masa prasejarah, tepatnya zaman neolitik akhir. Pada zaman itu, manusia mulai hidup bercocok tanam, berkelompok, menetap, dan tinggal bersama dalam kampung. Sejarah kebudayaan mereka terlihat dari peninggalan-peninggalan di situs ini.

Situs Megalitik Tutari, terletak di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. Diberi nama Tutari karena berada di Bukit Tutari. Konon suku yang pernah mendiami wilayah sekitar situs ini adalah Suku Tutari. Suku ini memperoleh makanan dengan berburu, menangkap ikan, beternak, dan bercocok tanam.

Saat itu, situs ini sebagai tempat penyembahan. Suku Tutari sendiri sudah musnah karena perang suku. Masyarakat Doyo Lama, saat ini berdiam di sekitar situs bukanlah keturuan Suku Tutari. Mereka percaya, sebagian Suku Tutari menjelma jadi batu yang sekarang ada di situs ini.

Masyarakat Doyo Lama, percaya situs ini sakral hingga kini mitos tentang Suku Tutari dan nenek moyang masyarakat Doyo Lama diceritakan turun temurun pada generasi muda mereka.

Peninggalan di situs ini antara lain batu lukis, batu bongkahan berbentuk arca, batu berbaris, dan menhir (batu berdiri).

“Di Papua dan Papua Nugini (PNG) yang model begini hanya di sini. Kawasan luas dan peninggalan bisa dilihat langsung,” kata Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua.

Balai Arkeologi mengelompokkan peninggalan di situs ini jadi enam sektor. Sektor I, II dan III adalah lokasi batu lukis. Sektor-sektor ini paling awal ditemui saat berkunjung. Motif lukisan bervariasi.

Ada motif manusia, manusia setengah ikan, binatang, tumbuhan, dan benda-benda budaya seperti gelang, kapak batu serta motif geometris seperti lingkaran dan matahari. Semua adalah ekspresi pengetahuan manusia saat itu tentang alam sekitar.

Makna motif-motif ini tertulis dalam Jurnal Arkeologi Papua berjudul Makna Motif Lukisan Megalitik Tutari. Motif manusia berkaitan dengan tokoh-tokoh atau nenek moyang Suku Tutari. Lukisan ini dipercaya memberi perlindungan dan kesejahteraan kepada masyarakat.

Batu lukis, di Situs Megalitik Tutari | Foto: Asrida Elisabeth / Mongabay Indonesia
Batu lukis, di Situs Megalitik Tutari | Foto: Asrida Elisabeth / Mongabay Indonesia

Motif manusia setengah ikan menggambarkan keseimbangan hidup. Ikan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Sentani. Ikan dipercaya sebagai nenek moyang dan sumber kehidupan. Motif binatang di sini antara lain kura-kura, kadal, tikus tanah, burung dan ikan. Binatang dalam lukisan, katanya, yang ada di sekitar dan dekat dengan kehidupan masyarakat Sentani. Motif binatang juga bermakna keseimbangan.

Lukisan-lukisan ini dihasilkan dengan cara menggores. Ada penelitian terbaru oleh Coralie Girard, mahasiswa Archéologiques Université de Bordeaux, Perancis, dalam tesisnya berjudul Prospection D’un Site D’art Rupestre Longtemps Oublie En Nouvelle-Guinee Site de Tutari.

Penelitian ini menyebutkan, batu untuk menggores dari Pegunungan Cyclop, berjenis batuan beku peridiotit. Batu-batu hitam sebagai media lukis disebut batu gabro.

Peninggalan berikutnya, batu bongkahan berbentuk arca. Batu bongkahan berbentuk arca ada di sektor IV. Bongkahan-bongkahan batu ini masing-masing berbentuk menyerupai kepala, leher dan badan. Disebut juga batu ondoafi dan berjumlah empat.

Keempat batu ini dipercaya sebagai representasi empat panglima perang ondoafi Uii Marweri yang mengalahkan Suku Tutari yaitu Ebe, Pangkatana, Wali dan Yapo.

Batu berbaris ada di sektor V. Batu-batu ini membentuk dua barisan dengan orientasi memanjang antara barat laut dan timur daya. Letaknya ada di antara batu lukis dan batu berdiri. Barisan batu ini dipercaya sebagai jalan penghubung antara dunia manusia dan alam tempat roh nenek moyang bersemayam.

Pada sektor VI merupakan lokasi situs paling tinggi. Pada masa prasejarah, tempat paling tinggi dipercaya sebagai paling sakal atau suci. Di sini ada 110 batu berdiri yang ditopang batu-batu kecil. Batu-batu ini berbentuk lonjong dengan ukuran bervariasi. Ia dipercaya sebagai tempat bersemayam roh nenek moyang.

Deminaus Marweri, Ubuafa (juru bicara) Ondoafi Busainerep di Kampung Doyo Lama berharap, situs ini terus terjaga dan lestari.

“Perlu ada sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat bahwa situs ini punya makna, punya nilai. Ini sejarah, ini peradaban yang pernah terjadi.”

Secara adat, ada empat suku dari Kampung Doyo Lama, yang bertugas menjaga situs ini, yaitu Wali, Pangkatana, Ebe dan Yapo.

Bekas kebakaran di Situs Megalitik Tutari. Foto: Asrida Elisabeth/ Mongabay Indonesia
Bekas kebakaran di Situs Megalitik Tutari | Foto: Asrida Elisabeth / Mongabay Indonesia

Kondisinya kini…

Letak situs tak jauh dari Bukit Teletubis. Bukit Teletubis adalah perbukitan di Danau Sentani, yang sedang jadi destinasi favorit warga Jayapura. Meski belum seramai Bukit Teletubis, Situs Tutari juga mulai dikunjungi warga. Mereka ingin menikmati keindahan alam sekaligus mempelajari kebudayaan masa lalu di tempat ini.

Infastruktur di Situs Tutari, sudah cukup lengkap. Ada rumah informasi. Areal situs juga diberi batas-batas untuk pengunjung. Jalan yang sudah dibangun cukup nyaman untuk menelusuri bagian-bagian situs. Ada juga staf khusus yang bertugas.

Mereka adalah warga Kampung Doyo Lama dan sudah aparatur sipil negara (ASN) di bawah Dinas Kebudayan Papua.

Namun, manajemen pengelolaan tampak belum berjalan baik. Saat berkunjung, tak ada petugas di rumah informasi. Rumah informasi juga tampak tidak terawat. Hampir tak ada informasi tersedia di rumah informasi maupun areal situs.

Kondisi Situs Tutari juga terancam. Kebakaran kadang terjadi saat musim panas hingga batu-batu ikut terbakar. Hal ini berdampak pada kondisi lukisan pada batu-batu. Di bagian lain, lukisan-lukisan juga mulai tertutup lumut dan jamur.

Jaringan Listrik PLN yang melintasi Situs. Foto: Asrida Elisabeth/ Mongabay Indonesia
Jaringan Listrik PLN yang melintasi Situs | Foto: Asrida Elisabeth / Mongabay Indonesia

Selain kondisi alam, ancaman lain datang dari manusia. Tampak jelas sampah-sampah botol plastik berserakan di lokasi situs. Ada juga pengunjung aksi corat-coret di batu.

Pembangunan infrastruktur juga jadi ancaman lain. Tower jaringan listrik PLN dibangun melintasi lokasi situs. Selain menghalangi pemandangan, kondisi ini sebenarnya melanggar ketentuan yang ditetapkan UNESCO soal larangan pembangunan di sekitar situs. Ada juga gedung gereja dibangun dalam areal ini.

Hans Pangkatana, petugas yang sempat ditemui mengatakan, belum pernah mendapat pengetahuan tentang bagaimana merawat situs. Situs yang luas membuat dia kesulitan merawat.

“Biasa kalau ada tamu mau datang, saya ditelepon dari kantor suruh siap dan antar.”

Berbagai lembaga pemerintah bertanggungjawab terhadap situs ini. Balai Arkelogi Papua bertanggungjawab untuk penelitian. Upaya pelestarian menjadi tanggungjawab Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate dengan wilayah kerja Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Sedangkan pemanfaatan oleh Dinas Kebudayaan baik Papua maupun Kabupaten Jayapura.

Batuan beku peridiotit yang dipakai untuk melukis. Foto: Asrida Elisabeth/ Mongabay Indonesia
Batuan beku peridiotit yang dipakai untuk melukis | Foto: Asrida Elisabeth / Mongabay Indonesia

Pengenalan situs ini ke masyarakat luas gencar oleh Balai Arkeologi Papua baik melalui media masa, jurnal, buku, sosialisasi maupun pameran-pameran. Upaya jadikam sebagai materi pelajaran di sekolah juga sedang dilakukan. Bahan ajar mengenai situs ini sudah tersedia dalam bentuk buku muatan lokal pada tiga sekolah pilot project yaitu SMPN 6 Kota Jayapura, SMPN 1 Sentani dan SMPN 2 Sentani.

Proses penyempurnaan sedang dilakukan sebelum nanti melalui Peraturan Gubernur Papua dan diajarkan di seluruh sekolah menengah di Papua.

***

Situs Megalitik Tutari, satu dari sekian banyak situs arkeologi yang ditemukan di Papua. Papua memiliki banyak peninggalan bersejarah dari masa prasejarah, masa kolonial maupun benda-benda budaya.

Dalam buku Prasejarah Papua disebutkan, penelitian arkeologi di Papua masih tertinggal kalau dibandingkan dengan Indonesia bagian barat, bahkan jika dibandingkan penelitian arkeologi di Papua Nugini. Di PNG, penelitian arkeologi sudah banyak dilakukan baik oleh arkeolog Australia maupun arkeolog PNG sendiri.

Penelitian arkeologi di Papua penting untuk melihat hubungan dengan budaya Melanesia khususnya dan Pasifik umumnya. Selain itu penelitian arkeologi di Papua juga bisa membantu melihat mata rantai arkeologi Pasifik dan arkeologi Indonesia.

Gambar kura-kura pada Situs Megalitik Tutari. Foto: dari video Asrida Elisabeth
Gambar kura-kura pada Situs Megalitik Tutari | Foto: dari video Asrida Elisabeth

Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu