Kehadiran sampah plastik memang mengkhawatirkan. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasinya, mulai dari pengurangan penggunaan hingga mendaur ulang, menjadikannya produk bermanfaat.

Dimas Bagus Wijanarko (42) adalah sosok pemuda dengan pemikiran inovatif. Bukan sulap, sampah plastik diubahnya menjadi bahan bakar minyak (BBM). Minyak dihasilkan berkat alat pengolahan sampah plastik yang dia ciptakan bersama komunitas yang diinisiasinya, Get Plastic.

“Awalnya kami kesulitan karena tidak membuahkan hasil. Sekalipun bisa, kualitas minyak tidak begitu baik. Hingga pada uji coba ke tujuh, kami mendapatkan apa yang diharapkan,” tutur pria kelahiran Surabaya kepada Mongabay Indonesia baru-baru ini.

Dimas mengungkapkan, butuh tiga hingga empat tahun untuk menyempurnakan alat yang ia namakan GP07. Produk yang hadir dari kegelisahannya akan sampah plastik yang semakin tak terkendali. Juga, pengolahan yang sejauh ini belum maksimal, hanya sementara.

“Meski demikian, bukan berarti saya tidak membenarkan pengolahan yang sudah dijalankan. Jika ada cara lebih baik dan menghasilkan produk bernilai tinggi, mengapa tidak dilakukan?” terangnya.

Sosialisasi pengolahan sampah plastik yang dilakukan Dimas Widjanarko | Foto: Get Plastic
Sosialisasi pengolahan sampah plastik yang dilakukan Dimas Widjanarko | Foto: Get Plastic

Pria tamatan STM Petra Surabaya ini menjelaskan, GP07 dibuat dari material-material yang mudah dijumpai, seperti pipa paralon dan tabung bekas. Meski sederhana, Dimas mengklaim mesin ciptaannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Berdasarkan uji laboratorium, nilai cetane yang terkandung lebih tinggi dari Pertamina Dex.

Alat tersebut melakukan proses pirolisis dengan metode destilasi kering untuk menghasilkan minyak. Pirolisis merupakan proses dekomposisi termokimia sebuah material melalui pemanasan suhu maksimal dengan sedikit atau tanpa oksigen serta pereaksi kimia lainnya. Pirolisis berperan penting pada tahap awal, mengubah material plastik menjadi gas. Proses pemanasan ini dilakukan pada rentang waktu 5 hingga 10 menit.

“Sederhananya, sampah plastik yang telah dipilah dan dibersihkan, dimasukkan ke tabung untuk dipanaskan pada suhu 400 hingga 500 derajat Celcius. Di dalam tabung kedap oksigen, plastik secara kimiawi akan merekah dan pecah, menjadi gas. Selanjutnya, setelah didinginkan, gas akan berubah menjadi cairan berupa bahan bakar minyak yang setara dengan bensin atau solar,” terang Dimas.

Menurut dia, minyak yang dihasilkan dari pengolahan GP07 dapat menjadi sumber energi alternatif selain fosil. Satu kilogram sampah plastik, dapat menghasilkan satu liter bahan bakar minyak mentah. Tak tanggung-tanggung, minyak ini memiliki nilai oktan RON 84. “Bisa digunakan untuk bahan bakar kendaraan bermotor, mesin diesel, dan kompor minyak. Paling bagus untuk mesin diesel,” tambahnya.

Butuh waktu empat tahun bagi DImas untuk bisa menciptakan alat yang dapat mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak | Foto: Get Plastic
Butuh waktu empat tahun bagi DImas untuk bisa menciptakan alat yang dapat mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak | Foto: Get Plastic

Keliling

Untuk membuktikan sekaligus mendemonstrasikan bahan bakar minyak yang dihasilkan bermanfaat, Dimas melakukan ekspedisi hingga ke Pulau Dewata dengan motor yang diisi minyak olahan GP07. Ekspedisi yang diawali dari maskas Get Plastic di Jalan Pengadegan Timur II 28C, Pancoran, Jakarta Selatan, pertengahan Mei 2018, juga digunakan sebagai ajang sosialisasi pengelolaan sampah yang tepat dan bernilai.

“Kami tidak sekadar berkunjung, melainkan juga mengadakan diskusi dan workshop pengelolaan sampah bersama instansi pemerintah serta komunitas lokal. Harapannya, mereka tergerak ikut,” katanya.

Dimas mengatakan, dari 12 kota yang telah dikunjungi dalam rangkaian perjalannnya itu: Bogor, Cimahi, Bandung, Rajagaluh Cirebon, Boyolali, Jepara, Karimunjawa, Rembang, Yogyakarta, Pati, Surabaya, dan Blitar, semua punya masalah sama. “Belum memiliki metode pengolahan sampah optimal.”

Dimas mengungkapkan, bahan bakar yang digunakan motornya selama ekspedisi itu jauh lebih irit. Perjalanan dari Jakarta ke Jawa Timur misalnya, hanya menghabiskan sekitar 45 liter. Bahkan sampai ke Bali, hanya memerlukan 70 liter.

“Selama perjalanan, motor saya tidak mengalami kendala berarti,” tuturnya.

Di Indonesia, plastik masih menjadi bagian keseharian masyarakat, dari wujud kantong hingga botol minuman kemasan. Data Badan Pusat Statistik (BPS)menyebut, pada 2015, produksi sampah tertinggi perharinya mencapai 3.346 ton dan meningkat menjadi 3.429 ton di 2016. Kebanyakan sampah-sampah itu dihasilkan dari kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Denpasar dan Makassar.

Jumlah tersebut bertambah seiring tingkat kesadaran masyarakat yang minim. Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbunan sampah plastik di Indonesia diperkirakan mencapai 24.500 ton perhari. Jika diakumulasikan, dalam kurun waktu satu tahun sekitar 8,96 juta ton. Total sampah Indonesia di 2019 diperkirakan akan mencapai 68 juta ton.

Jenna R Jambeck pada 2015, menyebut Indonesia merupakan negara peringkat kedua di dunia penyumbang sampah plastik ke laut setelah China. Dalam publikasinya berjudul Plastic waste inputs from land into the ocean, Indonesia berkontribusi sampah plastik sebanyak 187,2 juta ton.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu