Cerita Membangun ‘Surga Karang’ di Pulau Bontosua

Cerita Membangun ‘Surga Karang’ di Pulau Bontosua

Proses penanaman medium tanam berupa rangka ‘spider’ di Pulau Bontosua, Pangkep, Sulsel. Metode ini dinilai jauh lebih efektif dan efisien dibanding metode restorasi terumbu karang lainnya © Foto: Mongabay Indonesia/Rison Syamsuddin

Laut di sekitar Pulau Bontosua terlihat bening kebiruan. Di kejauhan, puluhan orang sibuk mengikatkan sesuatu ke besi berbentuk heksagonal. Ketika yang satu sibuk mengikat, sementara warga lainnya memecah karang menjadi pecahan-pecahan kecil dengan palu.

Proses-proses itu dilakukan dengan cepat. Karang harus tetap basah, sehingga tak boleh terlalu lama terpapar matahari, maka harus diikat cepat dan dimasukkan kembali ke dalam air. Prosesnya hanya butuh waktu beberapa menit.

Rangka heksagonal tersebut, yang disebut spider, karena bentuknya seperti laba-laba, terbuat dari besi yang dilapisi serat kaca dan pasir. Berfungsi sebagai rumah karang. Disebut Mars Coral Spiders atau Laba-laba MARRS (Mars Accelerated Coral Reef Rehabilitation System).

Di bawah laut, kaki-kaki spider ini diikat satu sama lain sehingga saling menguatkan. Melindunginya dari hantaman ombak agar tak bergeser atau hanyut ke mana-mana. Struktur koral berupa rangka laba-laba digunakan untuk mencangkok terumbu karang yang berbentuk seperti laba-laba.

Semua proses pengikatan dan penanaman karang itu adalah bagian dari program restorasi terumbu karang yang dilakukan oleh Mars Indonesia di Pulau Bontosua, yang dimulai sejak 2017 lalu. Proses penanaman melibatkan warga, baik dari pulau ataupun dari luar yang berpartisipasi.

“Dalam periode September-Oktober ini kita tanam sekitar 500-an spider. Kalau mau ditotalkan sejak penanaman awal Mei 2017 hingga sekarang, total yang sudah kami tanam sekitar 3759 spider di lahan seluas 1 hektar. Target kami realisasi di 3 hektar akan tuntas di tahun 2020 atau 2021 dengan jumlah spider 13 ribu,” ungkap Saipul Rapi, Manajer Marine Sustainability Programme Mars Indonesia, Rabu (10/10/2018).

Proses pembuatan rangka ‘spider’ di Pulau Barrang Caddi Makassar. Rangka heksagonal ini terbuat dari besi yang dilapisi serat kaca dan pasir. Berfungsi sebagai rumah karang. Foto: Mongabay Indonesia/Wahyu Chandra.
Proses pembuatan rangka ‘spider’ di Pulau Barrang Caddi Makassar. Rangka heksagonal ini terbuat dari besi yang dilapisi serat kaca dan pasir. Berfungsi sebagai rumah karang | Foto: Mongabay Indonesia/Wahyu Chandra.

Dari hasil penanaman dilakukan setahun terakhir ini sudah bisa dilihat hasilnya di mana tutupan karang sudah mencapai 56 persen, jauh lebih baik dibanding kondisi awal yang hanya 15 persen saja.

Menurut Saipul penggunaan rangka spider ini sebagai rumah bagi karang memiliki keuntungan tersendiri dibanding metode lain. Karang perlu ditanam pada struktur yang keras yang jika diberikan substrat yang kuat, pertumbuhan akan terjadi dengan sendirinya. Untuk bisa hidup dan berkembang dengan baik karang ini membutuhkan sesuatu untuk dilekatkan.

Metode spider ini telah sukses di Pulau Badi, yang jaraknya tak begitu jauh dari Pulau Bontosua, yang juga dilakukan melalui program yang sama sejak tahun 2015 silam.

Menurut Saipul, keberhasilan metode ini telah diakui banyak pihak dan telah diadopsi di berbagai tempat, termasuk program restorasi yang dilakukan oleh pemerintah.

Dalam sebuah kunjungan penelitian pada Agustus 2018, Profesor David Smith dari Universitas Essex menyatakan kekagumannya atas apa yang telah dicapai melalui penggunaan metode ini di Pulau Bontosua.

“Selama 30 tahun saya menyelam, saya tidak ingat kapan terakhir kali saya melihat tingkat penutupan karang seperti ini. Dengan melihat tutupan karang seperti itu benar-benar memperbaiki kembali baseline ekologis. Banyak di antara kita mungkin harus mengubah pandangan kita tentang apa yang kita anggap sebagai terumbu karang yang berkualitas tinggi. Saya menjadi terinspirasi dan memiliki harapan baru untuk terumbu karang di seluruh dunia,” ungkapnya.

Proses penanaman medium tanam berupa rangka ‘spider’ di Pulau Bontosua, Pangkep, Sulsel. Metode ini dinilai jauh lebih efektif dan efisien dibanding metode restorasi terumbu karang lainnya. Foto: Mongabay Indonesia/Rison Syamsuddin.
Proses penanaman medium tanam berupa rangka ‘spider’ di Pulau Bontosua, Pangkep, Sulsel. Metode ini dinilai jauh lebih efektif dan efisien dibanding metode restorasi terumbu karang lainnya | Foto: Mongabay Indonesia/Rison Syamsuddin

Metode ini juga diperkenalkan secara luas dalam pembukaan acara tahunan IMF- World Bank Group di Nusa Dua, Bali pada 8 Oktober 2018 lalu, di mana Direktur Marine Sustainability Program Noel Janetsky menjadi pemandu pada sesi sebelum penanaman koral di Pantai Sofitel bertajuk ‘IMF Giving Together‘.

“Konservasi terumbu karang di kawasan pesisir Nusa Dua ini dilakukan ini mengadopsi struktur besi berlapis yang dikembangkan oleh program kami ini. Rencananya ini juga akan diadopsi oleh pihak Taman Nasional seluruh Indonesia,” ujar Saipul.

Restorasi menjadi penting karena tren kerusakan terumbu karang terus meningkat. Jika pada 1998 terdapat sekitar 16 persen dari terumbu tropis dunia mati pada maka pada 2016 meningkat menjadi 70 persen. Beberapa tempat tidak dapat diperbaiki. Sebanyak 30 persen dari Great Barrier Reef berubah menjadi lahan kritis tandus tahun.

“Sejauh ini kita telah kehilangan separuh terumbu karang dunia, dan salah satu ancaman terbesar adalah perubahan iklim yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Para ilmuwan mengatakan jika kita tidak melakukan apa pun, 90 persen dari terumbu tropis dunia akan hilang pada tahun 2050, bersama dengan semua ikan, satwa liar, dan manusia yang bergantung pada mereka,” jelasnya.

6 bulan setelah penanaman, kondisi karang mulai tumbuh perlahan, meski tetap harus dilakukan perawatan yang intensif menjaganya dari serangan lumut. Foto: Mongabay Indonesia/Rison Syamsuddin.
6 bulan setelah penanaman, kondisi karang mulai tumbuh perlahan, meski tetap harus dilakukan perawatan yang intensif menjaganya dari serangan lumut | Foto: Mongabay Indonesia/Rison Syamsuddin.

Komunikasi Ikan dan Karang

Upaya serius pengelolaan terumbu karang di Pulau Bontosua juga bisa dilihat dari adanya upaya pengembangan apa yang disebut Akustik Karang. Dalam ilmu pengetahuan mengenai ikan dan karang diyakini bahwa ikan dan karang itu berkomunikasi.

“Kita mau melakukan penelitian kerjasama dengan Essex University dari Inggris terkait hal ini. Salah seorang profesor di sana bernama David Smith telah meneliti bagaimana suara-suara ikan dengan komunikasi dengan ikan lain. Ini juga mungkin akan berlaku di karang,” katanya.

Menurut Saipul, upaya penerapan akustik karang ini adalah tindak lanjut dari proses restorasi dan penelitian terumbu karang yang sudah dilakukan di mana kemudian mereka menyadari bahwa terdapat hubungan tersendiri antara ikan dan karang melalui komunikasi suara.

“Biasanya secara kasat mata di mana ada karang yang bagus, itu pasti dari segi jumlah dan jenis. Asumsinya ada hubungannya, bukan karena bagus saja, tetapi ada hal lain. Kalau ikan tertarik bagaimana kemudian dia berkomunikasi? Kalau bersuara, bagaimana suaranya dan di gelombang frekuensi mana? Ini yang akan dipelajari. Kemarin sudah ada perekaman di berbagai titik. Sekarang dalam proses analisis.”

Proses pemgambilan data melalui perekaman ini dilaksanakan selama 11 hari pada Agustus 2018 lalu dan akan dilakukan lagi pada Maret 2019 mendatang.

“Dari data-data perekaman ini nantinya akan diketahui frekuensi yang dibutuhkan untuk setiap karang. Ada proses reduksi dari noise dari sumber suara lain.”

Masyarakat Pulau Bontosua turut terlibat dalam penanaman terumbu karang menggunakan metode spider. Selain turut menanam, mereka juga menjaga kesehatan terumbu karang tersebut, khususnya dari ancaman penggunaan bius untuk menangkap ikan dari nelayan-nelayan lain. Foto. Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia.
Masyarakat Pulau Bontosua turut terlibat dalam penanaman terumbu karang menggunakan metode spider. Selain turut menanam, mereka juga menjaga kesehatan terumbu karang tersebut, khususnya dari ancaman penggunaan bius untuk menangkap ikan dari nelayan-nelayan lain | Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia.

Metode ini sudah dilakukan di Australia, meski bukan dalam konteks restorasi, di mana suara rekaman karang di tempatkan di kumpulan karang mati. Hasilnya terlihat ikan-ikan mulai berdatangan, sehingga disimpulkan bahwa ada komunikasi antara karang dan ikan.

“Ikan-ikan datang bukan karena karang mati yang bertumpuk-tumpuk itu, tetapi karena ada suara yang diputar dengan frekuensi yang sesuai di bawah tumpukan karang-karang mati itu.”

Menurut Saipul, jika metode ini bisa digunakan maka akan sangat membantu dalam proses restorasi karang, khususnya di fase awal penanaman karang ketika tutupan karang masih sekitar 15 persen. Pada kondisi ini, ikan-ikan belum datang padahal keberadaannya sangat dibutuhkan untuk membersihkan lumut-lumut yang menempel karang.

Keberadaan suara artifisial ini diharapkan akan membuat ikan-ikan berdatangan dalam jumlah yang besar.

“Misalnya kita butuh ikan yang bisa makan lumut-lumut, kita putarkan saja suara karang yang memanggil ikan memakan lumut. Karang yang baru kita tanam itu kan harus kita bersihkan lumutnya, pekerjaan yang lumayan memakan waktu dan biaya. Di sini fungsi dari akustik karang ini, membantu merawat karang,” tambah Saipul.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pertama Kali, Kedidi paruh-sendok Terpantau di Indonesia Sebelummnya

Pertama Kali, Kedidi paruh-sendok Terpantau di Indonesia

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.