Pertama Kali, Kedidi paruh-sendok Terpantau di Indonesia

Pertama Kali, Kedidi paruh-sendok Terpantau di Indonesia
info gambar utama

Namanya kedidi paruh-sendok (Calidris pygmaea). Burung pantai migran ini berbiak di Timur laut Rusia lalu menjelajah ke beberapa negara di Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Pada 1970-an, jumlahnya tercatat 2.000 hingga 2.800 pasang. Namun, menurun drastis hanya 120 – 200 pasang saja di 2010. Pada 2017, IUCN (Badan Internasional Perlindungan Alam) memperkirakan populasi individu dewasanya di seluruh dunia, tersisa 240 hingga 456 individu. Hilangnya habitat di lokasi berbiak dan saat migrasi, beserta perburuan hingga efek perubahan iklim merupakan ancaman nyata kehidupan burung berstatus Kritis (Critically Endangered) ini.

30 Oktober 2018 adalah hari yang menggembirakan bagi pengamat burung di Indonesia. Untuk pertama kalinya, satu individu kedidi paruh-sendok terpantau di hamparan lumpur di Sumatera Utara yang sekaligus catatan pertama kalinya untuk Indonesia. Lima pengamat burung handal yang menyaksikannya langsung: Chairunas Adha Putra, Dessy Hikmatullah, Agus Nurza, Raja Banggas Rambe, dan Rizal.

Chairunas Adha Putra, koordinator komunitas pengamat burung Birding Sumatra, mengatakan kedidi ditemukan di luar kawasan konservasi yaitu di tambak ikan dangkal. Burung yang mirip kedidi-leher merah (Calidris ruficollis) ini mudah diamati karena paruhnya yang seperti sendok.

“Kami hanya menemukan satu individu. Ada bendera hijau lemon (leg flag) angka “07” dan cincin metal (metal ring) di kakinya. Individu ini telah melakukan perjalanan lebih dari 9.100 kilometer dari Rusia ke Sumatra,” terangnya, Minggu (11/11/2018).

Kedidi paruh-sendok yang terpantau di Sumatera Utara sekaligus yang pertama di Indonesia | Foto: Chairunas Adha Putra
info gambar

Berdasarkan situs www.saving-spoon-billed-sandpiper.com burung bernama “LIME 07” ditangkap pada 23 Juni 2013. Setelah diberi tanda pada kakinya, kemudian dilepasliarkan kembali. Pemasangan tanda dilakukan di bagian timur Meinypil’gyno, Chutkotka, Rusia oleh peneliti bernama Pavel Tomkovich. Ia dan timnya juga memasang bendera “08” dan cincin metal nomor berbeda pada pasangan jenis tersebut.

Selanjutnya, pasangan ini tidak terlihat pada 2014 dan baru terpantau di 2015, di sarangnya dengan beberapa butir telur. Pada 2016, tiga anakan pasangan ini berhasil ditandai dengan cincin metal. 7 Juli 2018, peneliti kembali menangkap LIME 07 untuk dipasangkan pemancar satelit agar diketahui jalur migrasinya.

Pada 19 Juli, tercatat LIME 07 sudah bermigrasi sejauh 1.285 km di Magadan, Rusia. Ia berhenti 8 hari untuk kemudian melanjutkan ke Sakhalin, Rusia dan berhenti 8 hari juga. Setelah itu, ia melanjutkan terbang ke Korea Utara pada 11 Agustus dan berada di sana selama 17 Oktober 2018..

Kemudian, LIME 07 terbang tanpa berhenti selama 51 jam sejauh 2.400 km ke Provinsi Guangdong, China. Sembilan hari di negeri ini, selanjutnya ia melanjutkan perjalanan ke Kamboja hingga akhirnya menuju Sumatra.

Kedidi golgol dan kedidi jari-panjang yang terpantau di perairan Sumatera Utara | Foto: Chairunas Adha Putra
info gambar

Yus Rusilla Noor, Head of Programme Wetlands International-Indonesiamenyatakan, penemuan ini sangat penting. Meskipun, secara teori sangat mungkin ditemukan di Indonesia, karena sebarannya sudah teramati di negara-negara tetangga.

“Jenis ini sudah banyak dicari oleh pengamat burung di Indonesia. Perlu dipertimbangkan untuk segera memasukkan jenis ini dalam daftar jenis satwa dilindungi di Indonesia,” jelasnya.

Menurut Yus, temuan ini akan mengundang pengamat lain untuk memantau pergerakannya. Untuk itu, etika pengamatan harus benar-benar diterapkan, agar tidak mengganggu kedatangan kedidi paruh-sendok lainnya. Pelatihan pengamatan untuk pemula harus terus dilakukan. Pengetahuan jenis-jenis burung di Indonesia, termasuk sebaran dan status globalnya harus disebarluaskan.

“Jangan lupa, citizen science harus diterapkan. Melalui konsep sukarela ini, siapapun bisa menjadi bagian program pemantauan di lokasi yang tidak umum didatangi pengamat profesional. Dengan demikian, data dan informasi akan lebih banyak terkumpul,” terangnya.

Jalur terbang LIME 07 yang dipantau melalui pemancar satelit. Sumber: Saving-spoon-billed-sandpiper.com
info gambar

Penandaan burung migrasi

Penandaan merupakan teknik untuk mempelajari burung liar hampir di seluruh dunia, sebagai salah satu metode penelitian. Penandaan, selain berguna untuk mengetahui jalur migrasi seperti yang pada kedidi paruh-sendok, juga dapat diketahui daur hidup jenis burung, perilaku dan struktur sosial, kelangsungan hidup, kesuksesan reproduksi, karakteristik fisik dan genetik, hingga pemantauan populasi. Keseluruhan, metode ini bermanfaat untuk manajemen suatu habitat.

Di Indonesia, penandaan burung sudah dilakukan sejak 1950-an, namun baru 2007 pembentukan Skema Penandaan Burung di Indonesia (Indonesian Bird Banding Scheme/IBBS) dibentuk, bernaung di Pusat Penelitian Biologi-LIPI.

IBBS sudah menjadi anggota jejaring International Bird Marking Group yaitu suatu kelompok kerja di bawah organisasi International Ornithologists’ Uniondan tergabung dalam PokJa Migratory Bird and Avian Influenza di Asia Pasifik dari Kemitraan Jalur Terbang Asia Timur & Australasia (EAAFP). Keikutsertaan IBBS dalam jejaring internasional maupun regional sangat penting, mengingat pergerakan burung bermigrasi tidak mengenal batas negara.

Kuntul kecil (Egretta garzetta) | Foto: Alfa Hardjoko
info gambar

Dewi Malia Prawiradilaga, Koordinator IBBS Puslit Biologi LIPI mengatakan, saat ini penandaan burung liar di alam Indonesia belum populer. Alasannya karena baru sekelompok kecil pencinta dan pelestarian burung di alam saja yang mengetahui hal ini. Atau, kegiatan penandaan burung tidak bisa dilakukan sembarangan, ada persyaratan dan dilakukan oleh yang sudah memiliki izin penandaan atau lisensi.

“Namun, bila masyarakat mengetahui atau melihat burung bertanda, sebaiknya lapor ke IBBS melalui e-mail ke ibbs@mail.lipi.go.id atau melalui website,” tandasnya.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini