Setelah Tuna, Perikanan Berkelanjutan Digenjot untuk Komoditas Udang, Seperti Apa?

Setelah Tuna, Perikanan Berkelanjutan Digenjot untuk Komoditas Udang, Seperti Apa?

Tambak udang di Selatan Pulau Jawa © Foto: Halim Danang

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok saat ini, seharusnya bisa dimanfaatkan sektor perikanan budidaya Indonesia. Salah satunya mengembangkan komoditas andalan ekspor yaitu udang.

Pemanfaatan peluang itu, kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, menjadi momen mengesankan, asalkan pengembangan produk dan komoditasnya mengadopsi prinsip berkelanjutan.

“Perikanan budidaya berkelanjutan itu penting untuk diterapkan, karena itu bisa menjamin kesuksesan bisnis budidaya, termasuk budidaya udang nasional,” ungkapnya akhir pekan lalu di Jakarta.

Dengan penerapan prinsip perikanan budidaya berkelanjutan, maka pembudidaya sudah mendukung kebijakan secara nasional untuk perekonomian yang ramah lingkungan. Untuk itu, Susi mengajak semua pihak berakselerasi bersama membangun perikanan berkelanjutan.

“Saya mengingatkan kembali, penggunaan lahan tambak sudah harus mengalokasikan area untuk bakau. Selain untuk menjaga abrasi, bakau juga merupakan benteng environment yang mem-filter kualitas air. Jadi sangat penting,” ucapnya.

Keuntungan lainnya, perikanan akuakultur berkelanjutan bermanfaat mempertahankan kapasitas daya dukung lingkungan. Tanpa ragu, dia mengatakan bahwa perikanan berkelanjutan juga akan menjaga komoditas seperti udang aman dari berbagai serangan penyakit. Kondisinya yang ditakuti para pembudidaya.

Tambak udang di pesisir Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Foto : DJPB KKP/Mongabay Indonesia
Tambak udang di pesisir Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat | Foto : DJPB KKP/Mongabay Indonesia

Media Lingkungan

Dia mencontohkan, penyebaran penyakit pada udang vaname, merupakan fakta yang tidak bisa dibantah lagi oleh siapapun. Namun, media penyebaran penyakit tersebut, bisa dipastikan bahwa itu melibatkan lingkungan yang kondisinya buruk. Oleh itu, dia mengingatkan kepada pelaku usaha akuakultur untuk selalu menjaga lingkungan, agar virus tidak menjangkiti udang yang ada di tambak.

“Saya mengingatkan anda semua, vaname ini kalau sudah out break sangat berbahaya. Kita masih diuntungan sebagai negara kepulauan, mungkin out break tidak terlalu fatal seperti di Ekuador dan Thailand. Namun, kita tetap waspada dengan memperketat karantina,” tuturnya.

“Anda juga harus bangun environment, tambaknya, bahkan untuk kecukupan pangan. Mestinya juga membuat improvisasi di pabrik pakannya. Contohnya, pakan mandiri untuk budidaya ikan tawar telah membawa perubahan terhadap peningkatan indeks nilai tukar pembudidaya ikan, sebelumnya selama puluhan tahun pertumbuhannya selalu flat,” tambahnya.

Jika bisa menerapkan prinsip perikanan berkelanjutan, Susi optimis komoditas udang bisa menjadi andalan pendapatan devisa Negara. Terlebih, jika Indonesia bisa memanfaatkan peluang ditengah berlangsungnya perang dagang yang melibatkan AS dan Tiongkok. Jika itu bisa dilakukan, dia yakin peluang pasar ekspor akan terbuka lebar dengan margin nilai yang besar pula.

“Udang juga merupakan komoditas yang mendominasi struktur perdagangan ekspor produk perikanan nasional,” tegasnya.

Untuk itu, Susi mengingatkan kepada semua stakeholder pada sektor akuakultur untuk bisa saling bekerja sama untuk memajukan perekonomian nasional melalui perikanan, baik tangkap di laut atau budidaya. Dari semua itu, dia menggarisbawahi kalau komoditas udang sangat layak untuk mendapat perhatian dari semua pelaku usaha, karena komoditas tersebut menjadi andalan nasional.

Sangkot, pendamping Kelompok Tani dan Nelayan Lestari Mangrove ini memberi makan udang di kawasan kelola hutan mangrove. Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia
Sangkot, pendamping Kelompok Tani dan Nelayan Lestari Mangrove ini memberi makan udang di kawasan kelola hutan mangrove | Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia

Lebih jauh Susi menerangkan, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, perikanan budidaya sudah menjadi tumpuan utama untuk perikanan dunia dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan dunia. Namun, seiring berjalannya waktu, dia menyebutkan, yang menjadi tantangan saat ini dalam mengembangkan sektor tersebut, bergeser menjadi masalah keamanan pangan.

Sementara itu, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Iwan Sutanto mengatakan, komoditas udang dari Indonesia bisa menjadi andalan dan mendominasi di pasar ekspor internasional. Hal itu, karena Indonesia udah memiliki teknologi selangkah lebih maju dari negara lain seperti Vietnam dan Thailand. Kedua negara tersebut, saat ini sangat diperhitungkan di dunia untuk komoditas udang.

Diketahui, dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), dalam lima tahun terakhir (2013-2014), ekspor udang Indonesia tumbuh rerata 6,43 persen. Hingga Oktober 2018, nilai ekspor udang tercatat USD1,46 miliar atau naik 3,2 persen dibanding periode yang sama pada 2017.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga sudah mengupayakan pencarian obat untuk penyakit udang yang diambil dari ekstrak tanaman bakau (mangrove). Penelitian dan uji sampel untuk pencarian obat, dilakukan oleh Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP).

Seekor udang yang terkena penyakit bintik putih (white spot syndromeI/WSS). Foto : KKP/Mongabay Indonesia
Seekor udang yang terkena penyakit bintik putih (white spot syndromeI/WSS) | Foto : KKP/Mongabay Indonesia

Penyakit Udang

Menurut Kepala BRSDM KP Sjarief Widjaja, penyakit udang bisa meningkatkan kematian pada udang saat masih berada di dalam tambak hingga 100 persen. Kondisi itu, bisa mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit bagi pembudidaya dan itu sangat ditakutkan jika terjadi. Dan, penyakit udang yang dimaksudkan, adalah penyakit bintik putih (white spot syndromeI/WSS) dan penyakit karena bakteri vibrio.

Kedua penyakit itu, diakui Sjarief Widjaja, adalah penyakit mematikan pada udang. Biasanya, udang yang sudah terpapar penyakit bintik putih, pada prosesnya akan langsung menyerang organ lambung, insang, kutikula epidermis, dan jaringan ikat hepatopankreas.

“Jika udang sudah terjangkit penyakit berat, maka berikutnya akan muncul bintik-bintik putih pada lapisan dalam eksoskeleton dan epidermis. Jika sudah demikian, maka udang tidak mau makan, dan berikutnya akan terancam kematian,” jelasnya.

Sadar akan ancaman tersebut, BRSDM terus mencari formula untuk menghadang penyakit udang. Cara tersebut, di antaranya melalui pemanfaatan tanaman mangrove sebagai obat penyakit tersebut. Sejak 2013, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros, Sulawesi Selatan, mulai melakukan penelitian mencari formula tersebut.

Pemilihan mangrove sebagai penawar obat penyakit udang, dilakukan karena Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan tanaman tersebut. Bahkan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2015 sudah menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara di dunia yang memiliki ekosistem mangrove terluas dengan cakupan mencapai 3.489.140,68 hektare.

“Ini menjadi menjadi peluang besar dalam fungsi sosial ekonomi bagi pembudidaya udang,” tutur dia.

Peneliti BRPBAP3 Muliani menjelaskan, pencarian formula dari mangrove untuk obat penyakit udang, saat ini sedang dilakukan melalui penelitian bersama tim khusus. Tim yang bergerak sekarang, fokus untuk meneliti jenis mangrove yang mengandung anti vibrio dan anti WSS sebagai alternatif pencegahan penyakit udang yang lebih ramah lingkungan dari pada penggunaan antibiotik.

“Kita memulainya pada 2013 dengan melakukan screening tanaman mangrove sebagai penghasil antibakteri. Pengambilan sampel mangrove untuk screening berasal dari Kabupaten Maros, Pangkajene Kepulauan, Luwu Timur, Takalar, Barru, dan Bone,” ungkapnya.

Menurut Muliani, dari 182 sampel yang sudah dilakukan screening, 103 sampel atau 56,60 persen dinyatakan positif mengandung anti Vibrio harveyi. Dari 103 sampel tersebut, 22 sampel berasal dari Maros, 38 sampel dari Pangkep, 20 sampel dari Luwu Timur, 6 sampel dari Takalar, dan 17 sampel dari Bone.

“Adapun jenis mangrove yang paling potensial mengandung anti Vibrio harveyi adalah Sonneratia alba, S. caseolaris, S. lanceolata, Bruguiera gymnorrhiza, danRhizophora mucronata,” papar dia.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pulau Pantara Di Sebut Sebagai Pulau Seribu Marine Resort Sebelummnya

Pulau Pantara Di Sebut Sebagai Pulau Seribu Marine Resort

Selama 5 Bulan, OTP Garuda Indonesia Terbaik Sedunia Selanjutnya

Selama 5 Bulan, OTP Garuda Indonesia Terbaik Sedunia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.