Bali: Beats of Paradise Tarik Perhatian di Walt Disney Animation Studios

Bali: Beats of Paradise Tarik Perhatian di Walt Disney Animation Studios
info gambar utama

Karya sutradara Indonesia Livi Zheng berjudul Bali: Beats of Paradise diputar di Walt Disney Animation Studios pada Kamis, 6 Desember di Burbank, California.

Dikutip dari Tempo.co bahwa di antara para penonton yang hadir terdapat produser film Moana dan story head film Frozen.

View this post on Instagram

IN THEATRES-November 16

A post shared by Livi Zheng (@livizheng) on

Sebelumnya, film dokumenter itu diputar di bioskop Amerika Serikat mulai 16 November, setelah pemutaran perdana diAcademy of Motion Picture Arts and Sciences di Beverly Hills pada 7 November.

Livi menghadiri pemutaran di Disney dan sesi tanya jawab sesudahnya, dengan Nyoman Wenten dan produser eksekutif Julia Gouw.

Sang sutradara mengatakan bahwa beberapa pertanyaan datang dari mereka yang telah menonton film dokumenter tersebut.

“[Mereka bertanya] apa arti ukiran pada instrumen gamelan, dan seperti apa pengalaman syuting di Indonesia,” kata Livi.

Dua hari setelah pemutaran film di Disney, Livi menerima penghargaan Duta Kebudayaan dari Gala yang Tak Terlupakan, sebuah acara yang didedikasikan untuk orang Amerika Asia di Amerika Serikat, seperti dikutip dari Antara.

Penghargaan lain di gala tersebut diberikan kepada orang-orang seperti Jon M. Chu (Crazy Rich Asians) dalam kategori Direktur, film Crazy Rich Asians di kategori Vanguard dan John Cho dalam kategori Aktor dalam Film.

Livi, mengatakan dalam pidatonya bahwa mengejar karir di industri film adalah hak istimewa, juga menyebutkan bahwa ia dan keluarganya berasal dari Blitar di Jawa Timur, sebuah kota kecil yang baru saja memiliki bioskop pertamanya tahun ini.

Bali: Beats of Paradise diputar di Laemmle Theaters Playhouse 7 di Pasadena, California hingga 13 Desember.

Laemmle menjelaskan di situs webnya bahwa film itu visioner, karena film itu mengkritisi kebijaksanaan dan bakat kolektif Judith Hill dan Nyoman Wenten. Kemudian, Laemmle menulis, film ini juga memberi penghormatan kepada musik dan tarian Bali yang sakral tetapi mulai dilupakan.

"Dokumenter asli ini menarik kembali tirai musik gamelan, gaya musik klasik Bali yang berirama," tulis Laemmle.

Sumber:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini