E-Sports, Ladang Bisnis dan Peluang Karier Baru di Indonesia

E-Sports, Ladang Bisnis dan Peluang Karier Baru di Indonesia

Mobile Legends, salah satu gim di e-sports © YouTube VY Gaming

Dulu gim hanya dianggap sebagai hiburan, tapi kini telah menjelma jadi ladang pendapatan. Evolusi gim bahkan membuat beberapa penggunanya bisa meniti karier, hingga meraih beragam penghargaan di tingkat nasional maupun internasional.

Melalui fenomena itulah kemudian lahir cabang olahraga (cabor) baru bernama e-sports. Sebuah cabor yang mempertandingkan para pemainnya melalui gim daring, tanpa harus menggunakan kekuatan fisik layaknya olahraga pada umumnya.

Tingginya peminat e-sports bahkan sampai membuatnya dimainkan di Asian Games 2018. Di ajang itu, ada enam gim yang dipertandingkan, yakni Arena of Valor (AoV), Clash Royale, Hearthstone, League of Legends (LoL), Pro Evolution Soccer (PES), dan StarCraft II.

Bicara tentang e-sports yang semakin digandrungi masyarakat terutama generasi milenial, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia pun menaruh perhatian khusus. Pengembangan terus digencarkan, dan di Olimpiade 2022 ditargetkan meraih emas.

“Oleh karena itu, kami dari pemerintah mengadakan kegiatan-kegiatan e-sports. Kemudian, kami juga sedang gencar untuk membentuk ekosistemnya,” ujar Triawan Munaf, Kepala Bekraf Indonesia, dalam acara diskusi “Games sebagai Peluang Usaha dan Profesi untuk Generasi Milenial”, dikutip dari Kompas.

Triawan melanjutkan, gim saat ini termasuk salah satu dari 16 sub-sektor yang menjadi prioritas Bekraf. Oleh karenanya, pemerintah rutin mengadakan kegiatan-kegiatan e-sports, beserta ekosistem yang terus gencar dibentuk.

Senada dengan Triawan, Ashadi Ang yang merupakan Direktur PT. Dua Puluh Empat Jam Online (penerbit voucher gim daring UniPin), membeberkan fakta tingginya minat masyarakat pada e-sports saat ini.

Contohnya di kompetisi South East Asian Cyber Arena (SECA) pada Oktober 2018 lalu di Mal Taman Anggrek, Jakarta. Di lomba yang berhadiah total Rp 1,4 miliar itu, diikuti pula oleh peserta dari luar negeri. Mereka bertanding di 10 gim berbeda, yakni Arena of Valor, Mobile Legends: Bang Bang, Dota 2, Player Unknown’s Battle Ground (PUBG), dan StarCraft II.

“Makanya, nanti kami juga akan membuat beberapa event pada 2019 yang melibatkan para gamers amatir, mahasiswa, dan pro-player. Nanti, kami pun akan mengundang juga Presiden Joko Widodo, karena e-sport ini bukan sekadar game, tetapi juga ada sisi lain yang berkaitan dengan ekonomi kreatif,” ucap Ashadi.

Tak hanya laris manis dari segi pemainnya, e-sports di Indonesia juga mulai mencuatkan gim karya anak bangsa yang sangat laku di pasaran dunia. DreadOut contohnya, yang kemudian diangkat jadi film layar lebar dan dijadwalkan tayang pada awal tahun 2019.


Sumber: Kompas.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ini Cerita Sukses Konservasi Pari Manta di Flores Timur Sebelummnya

Ini Cerita Sukses Konservasi Pari Manta di Flores Timur

Tiga Negara dalam Satu Kota Surabaya Selanjutnya

Tiga Negara dalam Satu Kota Surabaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.