Di Kampung Ini, Anda Bisa Nikmati Kopi dan Wisata Batik

Di Kampung Ini, Anda Bisa Nikmati Kopi dan Wisata Batik

Kampung Kauman © Sumber: Beritagar

Sebagai pusat batik di kota Surakarta, Jawa Tengah, Kampung Kauman memiliki cara sendiri untuk memasarkan kain tradisionalnya. Selain bangunan bersejarah yang direvitalisasi, kawasan ini menarik wisatawan melalui kafe-kafe kuno, yang khusus menjual kopi dan dikelilingi oleh butik-butik batik.

Jumlah kafe telah berkembang pesat di daerah tersebut, yang merupakan rumah bagi 40 industri rumah tangga batik. Terletak dekat dengan Istana Kasunanan Surakarta, kafe-kafe tersebut menawarkan minuman dan makanan tradisional dengan suasana yang khas.

Salah satu kafe di Kampung Kauman yang menunjukkan salah satu pengunjungnya bagaimana membuat batik | Foto: Ganug Nugroho Adi / Jakarta Post
Salah satu kafe di Kampung Kauman yang menunjukkan salah satu pengunjungnya bagaimana membuat batik | Foto: Ganug Nugroho Adi / Jakarta Post

Kedai Kauman, salah satu kafe yang ada, sangat dipengaruhi oleh gaya etnik dan retro di interiornya. Menggunakan kursi dan meja vintage dari tahun 1970-an, disertai dengan sepeda onthel, radio antik, dan lemari tua yang diisi dengan cangkir dan gelas antik, dekoratif. Kedai Kauman juga memiliki gebyok (dinding kayu Jawa) yang mengingatkan pada rumah tradisional Jawa.

Terletak di tengah-tengah ribuan kain batik, Kedai Kauman menyajikan minuman tradisional, seperti beras kencur, wedang jahe, dan wedang wuh. Minuman ini dapat dinikmati bersama makanan lokal, termasuk getuk (camilan berbasis singkong dengan gula aren cair dan dilapisi kelapa parut), serabi (tepung panekuk dengan santan), dan pecel ndeso.

"Kami tidak hanya ingin pengunjung berbelanja batik, tetapi kami juga ingin mereka tahu sisi lain Surakarta, termasuk makanan, minuman, dan sejarah batik di Kauman," kata Gunawan Setiawan, perwakilan dari butik dan café, pada 25 Desember.

"Batik dijual bersamaan dengan sejarah di desa ini."

Kafe lain yang patut dikunjungi adalah Kedai Gunasti. Interior dan eksteriornya menampilkan kombinasi gaya retro, Jawa kuno, dan kolonial. Terletak di sebuah bangunan kolonial, kafe-butik menawarkan dawet telasih, saparila, dan temulawak dalam botol.

Pengunjung menikmati waktu mereka di Kedai Gunasti di desa Kauman di Surakarta. Daerah ini dikenal dengan bangunan bersejarah, kafe kuno, dan butik batik | Foto:Ganug Nugroho Adi / Jakarta Post
Pengunjung menikmati waktu mereka di Kedai Gunasti di desa Kauman di Surakarta. Daerah ini dikenal dengan bangunan bersejarah, kafe kuno, dan butik batik | Foto: Ganug Nugroho Adi / Jakarta Post

"Untuk saat ini, hampir semua rumah-rumah butik di daerah ini memiliki kafe-kafe kecil di dalamnya - ada sekitar 15 kafe," kata Supriyadi, anggota Komunitas Kesadaran Pariwisata (Pokdarwis) desa Kauman. “Pemiliknya merancang kafe dengan cara yang unik. Ini bagus untuk pariwisata."

Tradisi pembuatan batik di desa Kauman berasal dari tahun 1800-an dan 1900-an, ketika sejumlah besar abdi dalem istana tinggal di daerah tersebut. Juga sebagai pembuat batik, mereka cenderung melestarikan pola klasik, termasuk Sidomukti, Sidoluhur, Parang, dan Truntum. Berbeda dengan batik yang diproduksi di desa Batik Laweyan, yang cenderung menggunakan pola modern.

Desa Kauman juga memiliki bangunan bersejarah, seperti rumah joglo, limasan, dan arsitektur yang dipengaruhi oleh desain Jawa dan Belanda.


Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indahnya Taman Bunga Nusantara Cianjur Bogor Sebelummnya

Indahnya Taman Bunga Nusantara Cianjur Bogor

Indonesia jadi Negara Terfavorit untuk Dikunjungi versi Conde Nast Traveler Selanjutnya

Indonesia jadi Negara Terfavorit untuk Dikunjungi versi Conde Nast Traveler

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.