MIKIR, Inovasi Pendidikan untuk Mengasah Soft Skill

MIKIR, Inovasi Pendidikan untuk Mengasah Soft Skill

Ilustrasi peralatan sekolah © Tim Gouw/Unsplash

Sistem pembelajaran di sekolah dengan memakai buku paket dan tatanan meja kursi yang menghadap depan perlahan mulai ditinggalkan beberapa sekolah. Sebagai gantinya, inovasi-inovasi di bidang pendidikan pun diterapkan, contohnya di MIN 1 Balikpapan.

Di sekolah ini, ada metode MIKIR yang merupakan singkatan dari Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi. Program ini diperkenalkan oleh program PINTAR Tanoto Foundation, yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama

Tujuan utama metode MIKIR adalah mengasah soft skill para siswa, seperti kemampuan berpikir kritis, berkreasi, berkomunikasi, berkolaborasi, dan tampil percaya diri. Poin-poin tersebut sangat penting untuk mempersiapkan para murid jelang era industri 4.0.

Lalu bagaimana pelaksanaannya di kelas?

Bu Wiwik Kustianingsih, guru kelas 1V, menunjukkan penerapan metode MIKIR di kelasnya. Beliau mengambil contoh di pelajaran fungsi tubuh hewan, para muridnya yang sudah dibagi berkelompok diwajibkan membawa hewan ke kelas. Baik yang masih hidup maupun sudah mati.

Sebuah kelompok membawa ikan sebagai contoh hewan yang sudah mati | Foto: Dok. Tanoto Foundation Kaltim
Sebuah kelompok membawa ikan sebagai contoh hewan yang sudah mati | Foto: Dok. Tanoto Foundation Kaltim

Ternyata dari lima kelompok siswa di kelas itu, mereka semua sangat antusias membawa hewan. Ada yang membawa kucing dan burung sebagai hewan hidup, ada pula yang membawa ikan bandeng, ikan tongkol, dan udang sebagai hewan yang sudah mati.

“Setelah membaca dan diskusi untuk mengerti garis besarnya, saya minta mereka mengamati secara berkolompok hewan yang mereka bawa dan menuliskan pada lembar kerja tugas hari itu yaitu menyebutkan bagian-bagian tubuh dan fungsinya,” terang Bu Wiwik.

Para murid sengaja diperintahkan untuk membawa hewan ke kelas, agar pelajaran mengenali bagian tubuh hewan jadi lebih menarik. Berbeda dengan mempelajarinya dari buku paket, yang membatasi siswa tidak bisa mengenali bagian tubuh hewan secara langsung.

Suasana di kelas Bu Wiwik | Foto: Dok. Tanoto Foundation Kaltim
Suasana di kelas Bu Wiwik | Foto: Dok. Tanoto Foundation Kaltim

Metode MIKIR yang dipraktekkan Bu Wiwik terbukti bisa mengubah suasana pembelajaran jadi lebih menyenangkan. Seperti yang diungkapkan Dika, salah seorang anggota kelompok yang membawa kucing.

“Belum pernah pembelajaran seperti ini. Kami membawa kucing, hewan yang begitu kami sukai, untuk kami teliti langsung. Kami sambil belajar bisa mengelus-elusnya agar tetap kucingnya senang bersama kami. Saya senang sekali belajar hari ini,” tuturnya.

Penerapan metode MIKIR tak sebatas sampai di situ. Setelah mengenali bagian-bagian tubuh hewan, Bu Wiwik meminta para muridnya mempresentasikan hasilnya pada kelompok-kelompok lain. Mereka kemudian saling memberi tanggapan.

“Salah satu keuntungan membawa hewan ke kelas ini adalah siswa menemukan sendiri berbagai macam bagian-bagian tubuh hewan yang berbeda dengan fungsi-fungsi yang berbeda pula. Insang pada ikan, ekor berbulu pada kucing, bulu-bulu pada merpati dan lain-lain sehingga memperkaya pengetahuan mereka,” imbuh Bu Wiwik.

Kemudian di bagian akhir pelajaran, siswa-siswi diminta menyebutkan kembali bagian-bagian tubuh hewan tersebut secara bersama-sama. Terbukti, dengan metode MIKIR ini minat belajar siswa bisa ditingkatkan.

“Kami memiliki group WhatsApp dengan orang tua siswa. Salah satu orang tua selama ini melihat anaknya sangat pemalu, dan kurang percaya diri. Ketika saya kirim foto-foto aktivitas kelompok yang memperlihatkan dia terlibat aktif dalam pembelajaran, dia sangat gembira melihat anaknya jadi pemberani dan terlibat,” pungkas Bu Wiwik.

Metode MIKIR ini juga diharapkan bisa diadopsi oleh banyak pihak. Sebab dengan mendorong para murid melakukan analisis, dapat memunculkan kreativitas yang mana sangat dibutuhkan di era industri 4.0, ketika pekerjaan banyak diambil alih oleh mesin.

“Untuk menjadi kreatif, maka dibutuhkan pikiran yang analitis seperti yang telah dicoba kembangkan ibu Wiwik dengan meminta siswa mengamati dan menemukan sendiri pengetahuan. Selain itu, karena era Industry 4.0 itu mesin banyak mengambil alih pekerjaan, salah satu hal yang masih tidak bisa dilakukan mesin adalah kemampuan bekerjasama untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif. Hal ini juga telah dilakukan olehnya,” tutup Spesialis Pembelajaran Sekolah Dasar Tanoto Kaltim, Khundori.**

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi11%
Pilih TerpukauTerpukau56%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Perjuangan Lucas Cary, Pelajar Australia yang Menempuh Studi di Indonesia Sebelummnya

Perjuangan Lucas Cary, Pelajar Australia yang Menempuh Studi di Indonesia

Benteng  Ulantha , Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo Selanjutnya

Benteng Ulantha , Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

Tidak bisa masak tapi suka makan. Tidak bisa main bola tapi suka nonton bola.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.