Ada banyak suku-suku di Indonesia yang masih hidup secara tradisional dan memegang teguh kuat tradisi. Hal itu yang kemudian membuat suku-suku, seperti Baduy, Asmat, sampai Suku Dani menjadi buruan para turis lokal maupun mancanegara untuk melihat lebih dekat budaya langka tersebut.

Namun khusus untuk Suku Sasak di Lombok, ada keunikan tersendiri yang mereka punya.

Adalah kampung bernama Sade, sebuah kampung tertua di Lombok Selatan, yang merupakan wilayah dengan keaslian suku Sasak amat natural. Kampung Sade memiliki populasi sampai 700 orang dengan 150 rumah.

“Kampung kami sudah ada dari awal tahun 1000-an, jadi sudah ada sekitar 15 keturunan hidup di sini,” ujar pemandu wisata asli asal Sasak bernama Manaf.

Keunikan itu dimulai dari arsitektur setiap bangunan rumah di Sade. Setiap rumah beratapkan jerami dengan ubin dari semen. Jangan salah, ternyata ubin semen itu sedikit banyak merupakan campuran dari kotoran sapi.

“Itu adalah bagian dari tradisi dan kebiasaan Suku Sasak”, ujar Manaf.

Letak setiap rumah hampir dalam posisi berdempetan dengan jalan-jalan berupa gang. Di dalamnya tidak seperti rumah kebanyakan.. Sudah ada listrik di sini. Alas rumah tidak diberi ubin, hanya semen.

Perabotan juga tidak banyak, di mana semua rumah memiliki ukuran hampir sama. Tidak ada toilet untuk mandi atau buang air. Lalu di mana mereka membersihkan diri?

“Kami ada toilet khusus di luar rumah. Jadi kami gunakan ramai-ramai,” jelas pria yang juga keponakan kepala desa ini.

Mayoritas warga di sini hidup dari sektor pertanian. Namun karena sejak 1990-an dibuka sebagai bagian dari atraksi budaya lokal, hampir setiap rumah menjual hasil tenun.

Di dipan-dipan depan rumah, para ibu muda dan setengah baya, bahkan sampai tua pun sibuk menenun kain berbagai corak. Hasilnya mereka pajang dan jual. Dari variasi kegunaan mulai dari kain untuk dijahit, sampai kain jadi seperti sarung dan sejadah dijual mulai Rp 100.000.

Mungkin keunikan tadi belum seberapa. Tradisi pernikahan di Kampung Sade memperbolehkan anak perempuan berusia 14 tahun sudah menikah. Sementara rata-rata pria menikah mulai dari usia 19-20 tahun. Tradisi menikah muda ini bertambah nilai keunikannya tatkala ada sebuah tradisi khusus sebelum pernikahan berlangsung.

“Setiap perempuan mau menikah diharuskan diculik dahulu oleh calon mempelai pria sekitar tiga hari. Ke mana? Yang penting keluar Desa Sade. Tapi bukan berarti untuk diapa-apakan. Tidak terjadi hal apapun karena yang diculik sebenarnya dititipkan atau tinggal sementara di rumah kerabat. Biasanya di Kota Mataram. Tidak ada alasan khusus soal “penculikan” ini. Tapi ini adalah tradisi kami yang amat dihormati. Saya punya anak perempuan, calon diculik juga,” ujar Manaf sembari tersenyum.

Suku Sasak memang masih hidup dengan keasliannya dari nenek moyang mereka. Animisme masih dipercaya di sini. Namun, jangan salah, Suku Sasak ini adalah pemeluk Islam taat. Tidak heran karena Lombok adalah salah satu lokasi masif penyebaran Islam dahulu kala.

Setiap hari Rabu penduduk Sasak berbondong-bondong ke pemakaman leluhur yang mengawali menyebarkan Islam di wilayah mereka. Jadi jangan kaget ada masjid besar berlokasi di belakang Kampung Sade yang penuh dengan suara-suara pengajian.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu