"I AM GROOT!" Kata Si Pohon dengan Nada Kesal

"I AM GROOT!" Kata Si Pohon dengan Nada Kesal

Ilustrasi pepohonan di waktu senja © Johannes Plenio/Unsplah

Suara kicauan itu sekarang tidak sebanyak biasanya. Sangat sulit ditemui burung-burung yang beterbangan menghiasi tenggelamnya sang surya. Mereka tergantikan dengan gedung-gedung bertingkat dan infrastruktur lainnya.

Semuanya berubah cepat. Manusia yang hidupnya seharusnya berdampingan dengan hewan dan tumbuhan, seolah ingin hidup sendiri. Makhluk hidup yang diciptakan paling komplet ini seakan lupa, bahwa hidup tak sekadar menjalin hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia, tapi juga makhluk hidup lainnya.

Memang tidak semuanya. Masih ada manusia yang sangat memperhatikan lingkungan, baik dari segi flora maupun faunanya. Tapi berapa jumlahnya jika dibandingkan manusia yang memperhatikan buku tabungan?

Ratusan? Lebih. Jutaan? Mungkin tidak sampai.

Hingga akhirnya alarm untuk sadar diri pun berbunyi. Bernama global warming alias pemanasan global, manusia diwanti-wanti bahwa jika lingkungan tidak ikut dirawat, maka bumi sebagai planet tempat kita hidup, akan bergejolak.

Bumi akan “protes” dengan mencairkan es di kutub utara, meninggikan gelombang laut, dan, meningkatkan suhu udara. Sebuah penanda bahwa sudah seharusnya pelestarian lingkungan kudu tetap dilakukan, di samping penimbunan pundi-pundi perekonomian.

Kita bisa memulainya dengan menanam pohon.

Barisan pepohonan di hutan | Foto:  Imat Bagja Gumilar/Unsplash
Barisan pepohonan di hutan | Foto: Imat Bagja Gumilar/Unsplash

Kenapa harus pohon?

Lingkungan memang bukan pohon semata. Rumput termasuk bagian dari lingkungan, hewan pun salah satu elemen penting di lingkungan, bahkan sebagian dari mereka bisa mendatangkan nilai ekonomis tinggi.

Tapi apa gunanya kita punya uang kalau kita sulit bernapas? Di situlah fungsi utama pohon.

Pohon sebagai sumber oksigen. Kalimat klasik ini dibuat bukan hanya untuk seruan pelestarian lingkungan, tapi juga sebagai pengingat sesuatu yang sangat krusial keberadaannya di dunia ini. Kata kuncinya ada di “oksigen”.

Bagi semua makhluk hidup di bumi, oksigen adalah sumber kehidupan utama. Manusia, hewan, maupun tumbuhan masih bisa hidup walau dengan keterbatasan fisik. Tapi bagaimana jika tak ada oksigen?

Mentang-mentang tidak terlihat, kita kadang menyepelekan keberadaan oksigen. Mentang-mentang tersedia secara cuma-cuma, peran penting oksigen kerap dikesampingkan. Begitupun pohon, yang kerap dipandang sebelah mata keberadaannya, kecuali jika sering ada kejadian mistis di sekitarnya.

Sangat ironis. Ketika pohon seharusnya dipuja dan diperhatikan karena fungsinya sebagai penyedia oksigen dan habitat sejumlah makhluk hidup, tapi justru terkadang dikonotasikan negatif, apalagi jika ukurannya besar.

Akibatnya, penebangan dilakukan. Atau di skala kecil, pohon dijadikan sebagai tempat tempelan. Dipaku, dipatok, ditusuk benda-benda tajam, untuk menempelkan poster, spanduk, atau banner. Wahai kawan sadarlah, pohon juga makhluk hidup lho, kenapa dengan teganya kau tusuk?

Karena tidak berdarah? Karena tidak teriak? Kalau iya, apakah pohon harus bergerak seperti karakter Groot atau di film The Lord of The Rings, agar bisa ikut dianggap sebagai makhluk hidup?

Beragam manfaat bisa diberikan oleh sebatang pohon | Foto: Kristy Kravchenko/Unsplash
Beragam manfaat bisa diberikan oleh sebatang pohon | Foto: Kristy Kravchenko/Unsplash

Terdiam dengan beragam manfaat

Tapi beruntungnya pohon diciptakan tidak seperti itu, mas dan mbak, om dan tante, bapak-bapak dan ibu-ibu. Pohon diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk hidup yang terdiam, tidak bergerak, tapi memiliki beragam manfaat.

Sumber oksigen, habitat hewan atau serangga, dan bisa dimanfaatkan untuk dipetik buahnya. Bayangkan jika pohon bergerak, butuh berapa kandang untuk memagari mereka, dan butuh hutan seberapa luas sebagai habitatnya?

Untungnya pohon tidak bergerak. Dia juga tidak minta macam-macam, cuma butuh air dan sinar matahari saja untuk berkembang biak. Pupuk juga, kalau untuk tujuan budi daya.

***

Pada hari ini, 10 Januari 2019, merupakan hari sejuta pohon di dunia. Beragam kegiatan pun dilakukan, untuk menanam dan melestarikan keberadaan pohon-pohon di beberapa kota, desa, dan wilayah-wilayah tertentu.

Tapi satu hari tidak akan cukup untuk menanam sejuta pohon. Butuh jutaan hari-hari berikutnya, dan kalau kamu belum melakukannya, mulailah hari ini. Kalau sudah kemalaman, mulailah besok. Jangan ditunda-tunda.

Tentukan tempatnya mulai dari yang mudah dijangkau. Bisa di pekarangan rumah, di halaman sekolah, atau lahan-lahan kosong yang kalian temui (dengan catatan berstatus tanah tanpa pemilik). Kalau dia tumbuh, niscaya si penanam akan mendapatkan pahala karena merawat makhluk hidup, dan organisme di sekitarnya juga akan kebagian manfaat.

Ingat, mulailah segera! Sayangilah pohon, anggaplah seperti peliharaanmu. Jangan sampai dia terabaikan dan tiba-tiba bergerak, sambil berkata "I AM GROOT!" dengan nada kesal karena tidak diperhatikan keberadaannya.

Kita tidak punya Star Lord dan Rocket di dunia nyata, ghaes. Siapa yang bisa jadi pawangnya?

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indonesia Raih Penghargaan The Best Destination dalam Pameran Wisata Vakantiebeurs Sebelummnya

Indonesia Raih Penghargaan The Best Destination dalam Pameran Wisata Vakantiebeurs

Di Balik Paras Cantik Penari Gandrung Sewu Selanjutnya

Di Balik Paras Cantik Penari Gandrung Sewu

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

Tidak bisa masak tapi suka makan. Tidak bisa main bola tapi suka nonton bola.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.