Karst adalah medan dengan bentuk muka bumi dan pola aliran khas yang terbentuk pada batu gamping akibat pelarutan air (Kasri et al, 1999). Luas wilayah bentang alam karst di Indonesia berkisar 14,5 juta hektar. Dengan luas tersebut, Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara dengan kawasan karst terluas di asia tenggara.

Salah satu daerah yang memiliki ciri bentang alam karst unik adalah Kawasan Bukit Bulan seluas ±250 hektar di Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Lokasi ini berjarak 80 km dari ibukota Kabupaten Sarolangun, atau 260 km dari pusat ibukota Jambi.

Sebagian besar Batu Bulan berupa topografi karst yang tersusun batuan gamping berbentuk kerucut dengan relief sedang, terletak di ketinggian berkisar 270-330 mdpl dan kemiringan lereng ±36º (Oktriadi dan Tarwedi, 2011). Secara morfologi karst di wilayah ini tidak lepas dari keberadaan formasi batu-gamping warna kelabu muda-tua kristalin yang merupakan anggota mersip formasi peneta (Suwarna et al,1992).

Sebagai satu ciri khas topografi karst, batugamping di wilayah ini telah lapuk dan terlarutkan oleh asam lemah alami (H2CO3) yang menyisakan rekahan dan relung-relung alami (Soetoto, 2013). Adapun hasil pelarutan dan aktivitas geologi ini adalah banyaknya gua dan ruangan bawah yang saling terhubung, yang menjadi ciri morfologi karst (Jennings, 1985).

Potensi Endokarst

Hasil pendataan gua yang dilakukan oleh Mapala Siginjai, Universitas Jambi pada 2014 dan 2017 menjumpai 120 mulut gua di kawasan Bukit Bulan, baik gua yang berbentuk vertikal maupun horisontal. Masing-masing gua memiliki keunikan, seperti dari bentukan lorong, fauna yang hidup di dalamnya, hingga keindahan ornamen gua.

Sayangnya belum banyak masyarakat maupun Pemda yang mengetahui potensi serta fungsi menjaga kelestarian gua. Padahal pemahaman akan pentingnya gua dan besaran potensi yang ada di dalamnya menjadi alasan kuat sebagai upaya pelestarian gua di kawasan ini.

Tulisan ini hendak mengangkat empat gua yang memiliki karakteristik unik, yaitu Gua Kedundung, Gua Mesiu, Gua Pelindi dan Gua Dalam Sajo.

Gua Kedundung (ketinggian 270 mdpl)

Kiri: cave entrance; kanan: static pool di Gua Kedundung | Dok: Mapala Siginjai
Kiri: cave entrance; kanan: static pool di Gua Kedundung | Dok: Mapala Siginjai

Gua Kedundung dicapai dengan berjalan kaki 35 menit dari pemukiman warga, atau 15 menit jika mengendarai sepeda motor. Jalur menuju Gua Kedundung lebih dekat dan landai jika menyeberangi Sungai Ketari.

Gua Kedundung dikategorikan gua vertikal dengan kemiringan lorong vertikal 45º dan kedalaman sekitar 12 meter dari mulut gua ke lantai dasar. Panjang lorong vertikal dan horizontal yaitu 170 meter. Penelusuran Gua Kedundung membutuhkan perlengkapan dan keterampilan khusus, seperti penguasaan tekni Single Rope dan panjat tebing.

Keunikan dari Gua Kedundung adalah memiliki banyak chamber yang tergolong luas. Gua ini juga memiliki fungsi sebagai penyimpan cadangan air. Hal ini terlihat dengan ditemukannya static pool di dalam gua. Sementara itu ornamen gua yang menghiasi dinding, atap dan lantai gua masih terus tumbuh. Diantaranya guardam, stataktit, flowstone, stalakmit dan Pilar.

Pemanfaatan gua oleh masyarakat sekitar adalah hanya untuk pengambilan sarang burung walet. Tetapi saat ini pemanfaatan tersebut mulai berkurang dikarenakan jumlah populasi walet yang semakin berkurang. Belum ada aturan di dalam perlindungan gua ini.

Gua Mesiu (ketinggian 260 mdpl)

Ornamen di Gua Mesia | Dok: Mapala Siginjai
Ornamen di Gua Mesia | Dok: Mapala Siginjai

Gua Mesiu adalah gua yang paling populer di Dusun Napal Melintang, terletak di kaki Bukit Rajo sekitar 30 meter dari pinggir Sungai Ketari.

Terdapat jalan setapak yang bisa dilalui menuju Gua Mesiu dengan berjalan kaki ataupun sepeda motor. Jalan tersebut merupakan jalan utama masyarakat yang hendak ke kebun dengan lebar jalan sekitar 1,5 meter.

Gua Mesiu dikategorikan gua horisontal. Meski sebagian besar adalah lorong horisontal, namun di beberapa tempat terdapat lorong vertikal, yang beberapa diantaranya terhubung dengan mulut Gua Meriam. Berdasarkan data pemetaan, panjang lorong gua pintu Mesiu satu yaitu 185,55 meter, sedangkan panjang lorong di pintu kedua yaitu 254,73 m.

Pada Gua Mesiu tidak ditemukan air yang mengalir. Tapi di beberapa lorong dijumpai bekas sungai bawah tanah. Banyak ornamen yang menghiasi setiap lorong di Gua Mesiu di antaranya guardam, stataktit, flowstone, cowli flower, drapery, rimstone, straw, coloumn, dan stalakmit.

Dahulu masyarakat sekitar memanfaatkan gua untuk pengambilan sarang burung walet. Tapi seiring dengan berkurangnya populasi, masyarakat saat ini sedang berupaya untuk menjadikan Gua Mesiu untuk tujuan ekowisata dan cagar budaya.

Gua Pelindi (ketinggian 240 mdpl)

Kiri: aliran sungai di dalam Gua Pelindi; kanan: ornamen di Gua Pelindi | Dok: Mapala Siginjai
Kiri: aliran sungai di dalam Gua Pelindi; kanan: ornamen di Gua Pelindi | Dok: Mapala Siginjai

Gua ini dinamakan Pelindi karena menjadi asal sumber aliran air Sungai Pelindi. Sungai pelindi sendiri merupakan anak sungai dari Sungai Tombang.

Butuh waktu perjalanan sekitar 30 menit dari desa dengan berjalan kaki. Gua Pelindi termasuk gua horisontal. Berdasarkan data pemetaan, panjang lorong Gua Pelindi adalah 137,22 meter.

Penelusuran gua Pelindi tidak terlalu membutuhkan perlengkapan dan keterampilan khusus seperti penguasaan teknik Single Rope dan panjat tebing. Meski demikian butuh persiapan fisik yang baik karena akan melewati lorong lorong sempit dengan berjalan jongkok, merangkak, bahkan merayap untuk menyaksikan ruang gua yang lain.

Untuk menelusuri gua ini pun dibutuhkan antisipasi dari sengatan hewan berbisa yang kemungkinan berdiam di lorong sempit gua atau di dekat air sungai. Banyak ornamen menarik yang menghiasi lorong-lorong gua. beberapa diantaranya adalah flowstone, rimstone, stalaktit, stalakmit, marbel, dan gourdam.

Gua Dalam Sajo

Ornamen dalam Gua Dalam Sarjo | Dok: Mapala Siginjai
Ornamen dalam Gua Dalam Sarjo | Dok: Mapala Siginjai

Gua Dalam Sajo berada di lereng bukit dengan jarak tempuh berkisar 2,7 km. Waktu perjalanan dengan membawa beban dari camp sekitar 3 jam menaiki bukit pada kemiringan medan 28º menyeberang Sungai Ketari dan Sungai Taping.

Sementara jika berjalan dari permukiman warga butuh waktu sekitar 3 jam dengan jarak tempuh 2,7 km. Gua dalam Sajo termasuk gua vertikal dengan kedalaman sekitar 60 meter dari mulut gua ke lantai dasar. Penelusuran gua Dalam Sajo membutuhkan perlengkapan dan keterampilan khusus, seperti penguasaan teknik Single Rope dan panjat tebing.

Gua Dalam Sajo termasuk gua berair, bunyi aliran air dapat terdengar jelas ketika sampai di dasar gua. Beberapa ornamen menarik dari Gua Dalam Sajo adalah flowstone dan drapery. Ornamen tersebut masih terus tumbuh ditandai dengan muculnya tetasan air di permukaannya.

Pemanfaatan gua oleh masyarakat sekitar adalah hanya untuk pengambilan sarang burung walet. Tapi untuk saat ini pemanfaatan tersebut mulai berkurang sejalan dengan berkurangnya populasi. Belum ada upaya perlindungan pada gua ini. Juga belum ada kejelasan mengenai status kepemilikan lahan ini

Potensi dan Peluangnya

Gua-gua di kawasan Napal Melintang mempunyai potensi yang cukup tinggi. Secara ekonomi gua-gua di sini menghasilkan sarang burung yang cukup berkualitas yang dapat menambah pendapatan masyarakat. Sayangnya dari tahun ke tahun hasilnya semakin menurun seiring berkurangnya populasi.

Potensi lainnya adalah ekowisata. Untuk saat ini potensi tersebut hanya dapat dikembangkan dalam skala terbatas khusus untuk wisata minat khusus. Hal ini berkenaan dengan sulitnya pencapaian lokasi desa dari ibu kota kecamatan atau kabupaten.

Potensi berikutnya adalah riset dan pendidikan. Yaitu, pengelolaan kawasan ini untuk tujuan sebagai laboratorium alam. Keunikan endokarst dan eksokarst bisa menjadi pertimbangan dalam kajian kebijakan yang dilakukan. Termasuk kajian yang menunjang usulan agar kawasan Bukit Bulan menjadi kawasan lindung geologi.

Untuk kedepan, pemerintah dan masyarakat memegang peran penting dalam pengelolaan dan pengembangan potensi karst yang ada di Batu Bulan. Pengembangan infrastruktur jalan, sarana komunikasi, dan fasilitas desa perlu ditingkatn, dengan tetap berpegang pada berprinsip kelestarian dan keutuhan ekosistem didalamnya.

* Wildan Suprian Syah, penulis adalah pegiat cinta alam di Mapala Siginjai. Alumni Fakultas Ekonomi, Universitas Jambi


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu