Profesi ini sangat langka di Indonesia, tapi kebutuhannya sangat mendesak. Okupasi terapi namanya, dan para lulusan di jurusan ini akan sangat dibutuhkan di dunia kesehatan, lantaran andilnya dalam melatih pasien dengan gangguan jiwa dan fisik untuk mandiri di kehidupan sehari-hari.

Seorang okupasi terapis dapat bekerja di rumah sakit, klinik dan pusat rehabilitasi, sekolah khusus, industri dan perusahaan swasta, serta menjadi seorang pendidik dan konsultan. Ruang lingkupnya terdiri dari pediatrik (anak), geriatri (lansia), psikososial (gangguan jiwa), gangguan fisik, dan kesehatan kerja.

Profesi ini sangat langka di Indonesia, karena di perguruan tinggi hanya ada dua universitas yang membuka jurusan okupasi terapi. Salah satunya adalah Universitas Indonesia (UI) di Program Pendidikan Vokasi, yang menghasilkan Ahli Madya Okupasi Terapi.

Bahkan saking langkanya lulusan di bidang ini, sampai tahun 2018 100% lulusannya terserap di dunia kerja, yang tersebar di rumah sakit umum dan khusus, rumah sakit pemerintah dan swasta, sekolah khusus, klinik, konsultan okupasi, dan praktek dokter spesialis. Pun tak menutup kemungkinan berkarier di rumah sakit luar negeri.

Tingginya permintaan okupasi terapis di lapangan pekerjaan karena seluruh rumah sakit memerlukan okupasi terapis, dan satu pasien setidaknya perlu ditangani selama 60 menit. Itu belum ditambah sekolah anak-anak berkebutuhan khusus, atau pengelola yayasan geriatri.

“Okupasi terapis merupakan profesi kesehatan yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan pasien melalui aktivitas. Beberapa kondisi yang dapat ditangani oleh seorang okupasi terapis antara lain adalah gangguan perkembangan, gangguan sensori, gangguan sistem saraf, gangguan jantung, gangguan sistem, gangguan pada kulit, cedera, gangguan otot pada dan sendi, gangguan kognisi dan psikomotor, gangguan kesehatan mental,” terang Ketua Prodi Okupasi Terapi Vokasi UI, Gunawan Wicakcono, A.Md. OT, SKM, M.Si.

“Contohnya pasien stroke diajarkan pakai baju sendiri, lalu melatih anak-anak berkebutuhan khusus yang mengalami keterlambatan pertumbuhan. Contoh pada anak, okupasi terapis banyak berperan dalam membangun kemandirian anak-anak berkebutuhan khusus seperti Down Syndrome, Attention Deficit & Hyperactivity Disorders, Attention Difficult Disorder, Cerebral Palsy, Learning Disorder, dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Dalam kurikulumnya, UI menerapkan sistem 3:2:1 di prodi okupasi terapi. Artinya, 3 semester mahasiswa belajar praktek dan teori di laboratorium, 2 semester studi kerja di dunia industri, dan 1 semester magang.**

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu