Suara sudip (atau sutil nama lainnya) yang beradu dengan wajan memecah keheningan malam. Dimeriahkan dengan deru suara api dari kompor gas, menjadi penanda bahwa tukang nasi goreng sudah membuka jam operasionalnya.

Saya penggemar berat nasi goreng, yang saking doyannya, makan nasi goreng enak bisa langsung menaikkan mood, begitu pula sebaliknya. Boleh dibilang, saya adalah penganut paham “money can’t buy happiness, but money can buy food”.

Selama seperempat abad lebih saya menghirup udara di dunia ini, dan selama itu pula lidah saya sudah menjajal beragam rasa nasi goreng. Mulai dari yang berslogan rasa bintang lima harga kaki lima, rasa pak bos harga juragan kos, sampai yang rasanya ngalor ngidul (tidak jelas).

Tapi menurut saya sejauh ini, tak ada yang lebih unik dari berburu nasi goreng di kota Malang, Jawa Timur. Sebuah kota yang saya tinggali selama hampir tujuh tahun, ketika menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi di sana. (Sudah, tidak usah dihitung semesternya).

Nasi goreng di Malang ini unik karena banyak sekali macamnya. Salah satu gerobak di kawasan Universitas Merdeka (UNMER) misalnya, di daftar menunya tertera jenis-jenis nasi goreng yang panjangnya seperti daftar susunan pemain di tim sepak bola.

Ada nasi goreng biasa, nasi goreng telor, nasi goreng sosis, nasi goreng ayam, nasi goreng Jawa, nasi goreng kare, nasi goreng jamur, nasi goreng seafood, nasi goreng ikan asin, nasi goreng mawut, sampai nasi goreng “impor” bernama…… nasi goreng Hong Kong.

Nasi goreng yang dicampur mie, di Malang disebut nasi goreng mawut | Foto: Tribun Pekanbaru
Nasi goreng yang dicampur mie, di Malang disebut nasi goreng mawut | Foto: Tribun Pekanbaru

Beranjak ke tempat lain, ada nasi goreng ndeso, nasi goreng keju, nasi goreng Aceh, dan nasi goreng Padang yang dijual di kala peteng (gelap). Kata “padang” di bahasa Jawa berarti terang. Itu belum ditambah varian favorit golongan orang-orang anti-kecap, yaitu nasi goreng putihan.

Uniknya, sistem penjualan mereka hampir sama semua. Bermodalkan gerobak, satu kompor, menggelar tikar di emperan toko atau trotoar, dan hanya menyediakan minuman air putih. Jarang yang menyediakan minuman mainstream seperti teh dan jeruk, kecuali jika berkoalisi dengan warung minuman di sebelahnya.

Fenomena khas penjual nasi goreng kaki lima di kota Malang ini semakin menarik, kalau antara penjual dan pembeli bercakap memakai bahasa walikan. Ini adalah ragam bahasa di Malang yang membalik ejaan kata dari belakang. Misalnya begini…

Sam, oges ngerog siji yo. Nakam kene.

Terjemahan bahasa Jawa non-walikan: “Mas, sego goreng siji yo. Makan kene.” Terjemahan bahasa Indonesia: “Mas, nasi goreng satu ya, makan sini”. Terjemahan bahasa Inggris: “Hi, I want to have one fried rice for dine-in”.

Sang penjual nasi goreng pun menjawab, “Oyi, sam!

Terjemahan bahasa Jawa non-walikan: Iyo, mas.” Terjemahan bahasa Indonesia: “Iya, mas.” Terjemahan bahasa Inggris: “Consider it done.

Setelah nasi goreng nan kemebul disajikan, percakapan kemudian ditutup.

Orip, sam?” (Piro, mas? / How much?)

Holopes” (Sepuluh (ewu) / Ten thousand rupiah)

Nasi goreng Padang di perempatan ITN Malang | Foto: Estuarey
Nasi goreng Padang di perempatan ITN Malang | Foto: Estuarey

Kearifan lokal dalam butiran nasi goreng

Variasi nasi goreng yang dijual di kota Malang tentunya tidak semua khas kuliner Malang. Ada beberapa yang diadopsi dari resep di kota lain seperti nasi goreng Aceh, nasi goreng Padang, dan nasi goreng Hong Kong yang entah mulai masuk Malang sejak zaman dinasti apa di Tiongkok.

Namun itu tidak melunturkan kearifan lokal yang terkandung dalam butiran-butiran nasi gorengnya, karena dalam proses jual belinya disertai kekhasan-kekhasan kota Malang. Tak hanya sebatas boso walikan dan tempat makannya yang sederhana.

Di gerobak, misalnya. Untuk membedakan gerobak satu dengan gerobak lainnya, dan agar pembeli bisa lebih mudah mengenali penjual nasi goreng langganannya, setiap gerobak punya ciri khas masing-masing.

Ada yang dinomori, seperti 88, 69, 00, dan lain-lain. Ada pula yang dipenuhi stiker komunitas motor. Ciri khas gerobak ini juga memungkinkan pembeli untuk mencegat sang penjual dan membeli dagangannya, walau ia belum sampai di area mangkal.

Dari gerobak-gerobak nasi goreng itu juga kita bisa mengambil pesan moral. Tak sekalipun para penjual nasi goreng itu berkonflik satu sama lain, atau saling berebut pembeli, walau posisi berjualan mereka sangat dekat dan tak jarang bersebelahan.

Bahkan di daerah Sawojajar dekat lampu merah Jalan Ranu Grati, jelang tengah malam berkumpul deretan gerobak-gerobak nasi goreng. Salah satu wujud dari pasar persaingan sempurna.

Kekhasan dan kesederhanaan nasi goreng kaki lima di kota Malang tak jarang membuat pelangganya selalu rindu untuk menikmati kembali kelezatan hidangannya. Apa lagi jika ditambah bumbu nostalgia saat masa-masa tinggal di sana, rasanya tak salah menyebut oges ngerog sebagai makanan yang kane lop, jika disantap sambil nendes kombet.

Umak itreng kadit?

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu