Belajar 1 dari 300 Bahasa yang Ada di Papua

Belajar 1 dari 300 Bahasa yang Ada di Papua

Ketua IMAPA UI. Natalia, saat mempresentasikan materi © Aditya Jaya/GNFI

Polyglot Indonesia mengadakan acara Sehari Bersama Sahabat Papua, pada Minggu (20/1) kemarin. Acara yang bertema memperkenalkan keragaman budaya Papua ini menghadirkan Ketua Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA) Universitas Indonesia sebagai pembicara.

Bertempat di Hoshino Tea Time, Menara BTPN, Natalia selaku Ketua IMAPA UI mendapat kesempatan untuk menjadi pembicara pertama di acara ini. Ia menjelaskan keunikan Papua yang memiliki 7 wilayah adat dan terdiri dari berbagai suku. Banyaknya suku-suku tersebut membuat bahasa yang digunakan pun sangat beragam.

Setidaknya terdapat 300 ragam bahasa di Papua, dan yang terdaftar baru 270 bahasa. Wow… bisakah Kawan GNFI bayangkan, betapa banyaknya variasi bahasa yang terdapat di Papua, dan itupun belum semua terdaftar resmi!

Uniknya lagi, walau terdapat sekian banyak ragam bahasa di Papua, bahasa-bahasa ini bisa tetap eksis tanpa perlu khawatir hilang dari budaya para penuturnya. Sebab, ada kamus bahasa yang dipegang oleh Ondoafi atau ketua adat. Ondoafi berperan sebagai tetua di suatu suku yang sangat dihormati penduduk.

Selain memperkenalkan keragaman budaya Papua, Natalia juga menunjukkan tas khas Papua yakni Noken. Tas ini bisa digunakan saat jalan-jalan, yang cara memakainya sangat unik. Bisa dipakai seperti tas selempang, bisa juga dikalungkan di kepala.

Mengenal Noken, salah satu tas tradisional Papua | Foto: Phinemo
Mengenal Noken, salah satu tas tradisional Papua | Foto: Phinemo

Menarik ya, Kawan GNFI? Dan tahukah kalian, kalau tas Noken ini termasuk ke warisan dunia (world heritage) berupa benda, lho! Jadi kalau kalian sedang atau akan berkunjung ke Papua, coba sempatkan mengoleksi tas Noken ya!

Jelang akhir sesinya, Natalia juga memberi penjelasan mana yang benar, antara masyarakat Papua mengonsumsi ubi atau sagu sebagai bahan pangan utama? Ternyata, itu berbeda sesuai tempat tinggalnya. Masyarakat pegunungan mengonsumsi ubi, sedangkan yang tinggal di pantai lebih sering memakan sagu.

Belajar bahasa Nggalik

Di sesi kedua, giliran Naomi yang tampil sebagai pembicara menggantikan Natalia. Perempuan yang berasal dari Suku Nggalik di Papua ini mengajak para peserta untuk belajar bahasa Nggalik, mulai dari percakapan sehari-hari, menyebut anggota tubuh, dan berhitung.

Naomi saat memperkenalkan bahasa Nggalik pada para peserta | Foto: Aditya Jaya/GNFI
Naomi saat memperkenalkan bahasa Nggalik pada para peserta | Foto: Aditya Jaya/GNFI

Untuk memperkenalkan diri misalnya, diucapkan dengan kalimat “an nonuk” yang berarti nama saya. Jadi kalau “Nama saya Naomi”, bahasa Nggalik-nya adalah “An nonuk Naomi.”

Selanjutnya adalah memperkenalkan daerah asal, dengan mengatakan “an nowi (nama daerah) age.” Misalnya, “An nowi Jayapura age” berarti “saya dari Jayapura”, atau “An nowi Wamena age” yang artinya “saya dari Wamena.”

Nah kalau untuk menyatakan rasa cinta ke seseorang, bagaimana nih? Ada juga kalimat Nggalik-nya, tapi berbeda antara perempuan dan laki-laki. Jika laki-laki yang menyatakan cinta ke perempuan, ia berkata “an hole ai nahai”, tapi kalau sebaliknya maka yang dikatakan adalah “an nemi ai nahai.”

Kosakata yang sangat unik ya, Kawan GNFI! Bahkan untuk menyebut bilangan pun bahasanya sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Mesik, biren, henagan, uhan, huapen, hewariken, itu untuk menyebut angka satu sampai enam.

Hayooo… siapa yang bisa langsung mengucapkan tanpa mengeja pelan-pelan?

Lalu untuk menyebut anggota badan, Suku Nggalik juga punya bahasanya sendiri. Ini contohnya:

Kepala (nagul), tangan (negik), kaki (noyuk), mata: (nil), telinga (nesagok), hidung (nebiang), mulut (nemde), gigi (niat). Hmm… apakah semua diawali dengan huruf “N”? Oh tidak gaes, karena bahasa Nggalik untuk rambut adalah “asu”.

Ya, betul, “asu” tapi tentunya berbeda maknanya dengan “asu” di Jawa ya. Lalu jika mengatakan “rambut saya” berubah jadi “nasu”.

Acara Sehari Bersama Sahabat Papua dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta, yang terbagi ke beberapa kelompok bahasa, yaitu Inggris, Rusia, Belanda, Jerman, Prancis, Spanyol, Italia, Jepang, Mandarin, Korea, Hindi, dan Arab.***

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau33%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indonesia Ekspor 250 Kereta Api ke Bangladesh Sebelummnya

Indonesia Ekspor 250 Kereta Api ke Bangladesh

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019 Selanjutnya

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.