Kira-kira Ini Alasan Orang Filipina Mirip Orang Indonesia

Kira-kira Ini Alasan Orang Filipina Mirip Orang Indonesia
info gambar utama

Saat saya masih tinggal di Kuala Lumpur kira-kira tiga tahun yang lalu, suatu waktu saya menaiki transportasi online dan ketika memasuki mobil, sang pengemudi mengucapkan sebuah kata yang bukan merupakan Bahasa Inggris, Bahasa Melayu, maupun Bahasa Indonesia.

"Kumusta!" begitu ucapnya.

Saya kemudian mengernyitkan dahi dan menjawabnya, "Ah, I'm not from the Philippines, uncle." - "Saya bukan orang Filipina, pak."

Pada saat tinggal disana saya memiliki beberapa teman asal Filipina yang mengajari saya kata-kata dasar bahasa Tagalog, bahasa ibu masyarakat Filipina seperti Kumusta yang berarti sapaan semacam hai.

Pada momen serupa juga saat berada di Kuala Lumpur, Malaysia, saya menjawab panggilan dari pengemudi transportasi online yang saya pesan, ketika memasuki mobil, sang pengemudi menanyakan jika saya berasal dari Filipina, yang kemudian saya jawab ringan bahwa saya sering mendapatkan pertanyaan serupa.

Hal sebaliknya juga berlaku. 2018 lalu, saya berpergian di Bali bersama teman dari Filipina, tidak sedikit juga yang mengira ia adalah orang Indonesia.

Adakah dari kalian yang mengalami hal serupa seperti yang saya alami?

Saya mendapatkan artikel yang mungkin menjawab hal tersebut. Di artikel tersebut dijelaskan bahwa Filipina sejatinya sempat dipimpin oleh putera Indonesia asal Minangkabau, yakni Raja Sulaeman.

Kini memang Filipina sangat dikenal dengan pengaruh Spanyol yang kental karena Filipina pernah berada di bawah kedudukan Spanyol dalam kurun waktu yang cukup lama.

Masyarakat muslim Moro Filipina | Sumber: John Tewell CC
info gambar

Tak banyak yang tahu sebelum kedatangan bangsa Spanyol, Filipina berada di bawah kepemimpinan Raja Sulaeman yang juga merupakan pendiri Filipina. Pada awalnya, di bawah kepemimpinan Raja Sulaeman, agama Islam disebar ke seluruh pelosok negeri. Namun, adanya peperangan besar dengan pihak kolonial Spanyol merubah wajah Filipina secara besar-besaran yang bertahan hingga saat ini.

Pada pertengahan abad 16, wilayah Manila yang kini menjadi Ibu Kota Filipina diperintah oleh tiga pemimpin besar; Raja Sulaeman, Raja Matanda, dan Raja Lakandula.

Ketiganya memimpin wilayah yang berbeda-beda namun berada dalam satu kawasan. Area selatan Sungai Pasig yang saat ini bernama Manila dipimpin oleh Raja Sulaeman dan Raja Matanda, sedangkan bagian utara dipimpin oleh Raja Lakandula.

Para pembesar ini bahkan memiliki hubungan perdagangan dengan Kesultanan Sulu, Brunei dan Ternate di Cavite.

Patung Raja Sulaeman | Sumber: Plot Public Art
info gambar

Sejatinya, pemerintahan Islam di Filipina telah ada dan berkembang dengan sangat pesat. Jauh sebelum kedatangan bangsa Spanyol. Dalam disertasi ‘Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabu’ tahun 1974 yang dikutip dari takaitu.com, Mochtar Naim menemukan jejak-jejak mengenai orang-orang Minang yang merantau ke Kepulauan Sulu, Filipina. Salah satunya adalah jejak Raja Sulaeman dari Minangkabau yang merupakan pendiri kota Manila di Filipina. Hal ini juga diperkuat dari laman republika.co.id yang menuliskan, penamaan Kota Manila berasal dari kata fi’ amanillah, yang berarti di bawah lindungan Allah SWT.

Bangunan Intramorus Walle City yang dibangun oleh Raja Sulaeman | Sumber: Inside Manila
info gambar

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya di masa lalu, figur Raja Sulaeman diabadikan menjadi sebuah patung yang terletak di Rizal Park, Manila

Patung Raja Sulaeman di Manila | Sumber: Wikipedia
info gambar

Kira-kira seperti itu alasan kenapa saya sebagai orang Indonesia sering dikira orang Filipina di luar negeri dan kenapa orang Filipina dikira orang Indonesia saat berada di Indonesia. Ternyata satu rumpun.


Sumber: Boombastis

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini