70 Tahun Garuda Indonesia: Pejuang Kemerdekaan dan Segudang Penghargaan

70 Tahun Garuda Indonesia: Pejuang Kemerdekaan dan Segudang Penghargaan

Deretan pesawat Garuda Indonesia © The Jakarta Post

Ik ben Garuda, Vishnoe's vogel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw eilanden.

Kalimat tersebut diucapkan presiden Soekarno, saat diminta memberi nama pesawat yang akan membawanya dari Yogyakarta ke Jakarta. Soekarno saat itu hendak terbang untuk menghadiri upacara pelantikan dirinya sebagai presiden Republik Indonesia Serikat (RIS)

Kalimat yang diucapkan Soekarno tadi merupakan bahasa Belanda. Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, artinya “Aku adalah Garuda, burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu.”

Itulah awal mula penamaan Garuda Indonesia Airways (GIA) yang pada hari ini (26/1) merayakan hari ulang tahunnya yang ke-70. Sebuah maskapai penerbangan dengan sejarah panjang, yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan sampai meraih beragam penghargaan.

Namun di hari kelahirannya, Garuda Indonesia tidak langsung bernama seperti sekarang yang kita kenal. Ceritanya bermula pada 26 Januari 1949, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) menyewakan pesawat yang dinamai Indonesian Airways ke pemerintah Burma (sekarang bernama Myanmar).

Selama hampir setahun pesawat dan awak Indonesian Airways berada di Burma, dan baru bisa kembali ke Indonesia usai disepakati Konferensi Meja Bundar (KMB). Hasil KMB ini kemudian berperan besar dalam lahirnya maskapai Garuda Indonesia.

Sesuai kesepakatan KMB, Belanda wajib menyerahkan seluruh kekayaan pemerintah Hindia-Belanda pada pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS), termasuk maskapai KLM-IIB (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij- Inter-Insulair Bedrijf).

KLM-IIB adalah anak perusahaan KLM setelah mengambil alih maksapai swasta K.N.I.L.M (Koninklijke Nederlandshindische Luchtvaart Maatschappij) yang sudah beroperasi di Hindia-Belanda sejak 1928.

Peran penting KLM dalam kelahiran Garuda Indonesia tidak sebatas unit pesawatnya saja, tapi juga mencakup sumber daya manusianya. Saat itu Indonesia belum memiliki staf udara yang mumpuni, sehingga KLM berinisiatif menempatkan sementara stafnya untuk bertugas sambil mendidik staf udara Indonesia.

Indonesian Airways, sebelum berganti nama jadi Garuda Indonesia Airways | Foto: Kaskus
Indonesian Airways, sebelum berganti nama jadi Garuda Indonesia Airways | Foto: Kaskus

Terbang perdana dan berjuang demi Indonesia

Penerbangan pertama dengan nama GIA tercatat pada 28 Desember 1949. Dua unit pesawat Dakota (DC-3) lepas landas dari bandar udara Kemayoran, Jakarta, menuju Yogyakarta untuk menjemput Soekarno yang hendak dilantik menjadi presiden RIS dan memindahkan ibu kota Indonesia kembali ke Jakarta.

Sejak momen tersebut tiap tahunnya GIA mengalami perkembangan. Di tahun 1950 GIA menjadi perusahaan negara, dengan jumlah armada sebanyak 38 unit. Jumlah itu kemudian terus bertambah, hingga akhirnya mencatatkan penerbangan pertama ke Mekkah membawa jamaah haji Indonesia pada tahun 1956.

Setelahnya, GIA terus mengalami kemajuan. Di tahun 1963 GIA membuka rute penerbangan menuju Tokyo dengan transit di Hong Kong. Rute ini juga dikenal dengan nama Emerald Route.

Kemudian di tahun 1965 GIA melakukan penerbangan pertama ke Eropa, dengan kota Amsterdam di Belanda sebagai tujuan akhirnya. Rutenya saat itu dimulai dari Jakarta, menuju Bangkok, Mumbai, Karachi, Kairo, Roma, dan Frankfurt, sebelum mendarat di Negeri Kincir Angin.

Penerbangan bersejarah ini dilakukan GIA dengan pesawat tercanggih saat itu, Convair 990, pesawat jet dengan empat mesin yang lebih cepat dari pesawat sejenisnya seperti Boeing 707 dan Douglas DC-8.

Convair 990 milik Garuda Indonesia Airways | Foto: All About Plane
Convair 990 milik Garuda Indonesia Airways | Foto: All About Plane

Sepak terjang GIA di tahun 1960an bahkan tidak hanya sebatas terbang membawa penumpang sipil. Maskapai ini juga turut menjadi “pejuang” saat pergolakan Trikora untuk merebut kembali Irian Barat.

Tepatnya pada bulan Desember 1960, beberapa pesawat Garuda diperbantukan kepada AURI. Kemudian salah satu pesawat yakni Convair 240/340 dijadikan pesawat komando yang dipakai Komandan Operasi Mandala.

Kolaborasi Garuda dengan AURI kemudian berlanjut di penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta dan memperjuangkan intergrasi Timor Timur. Para penerbang Garuda diperbantukan ke AURI dan beberapa di antaranya menjadi perwira di WING 011 AURI.

Berawal dari situlah, Garuda Indonesia dijadikan sebagai kekuatan cadangan udara nasional di bawah pembinaan TNI AU. Keputusan ini tertera di UU no. 20 tahun 1982 dan sesuai keputusan Kepala Staf TNI AU nomor: Kep/27/IV/1986.

Tampilan klasik Garuda Indonesia Airways | Foto: pesawatinfo

Segudang penghargaan dunia

Jika dirunut ke belakang sejarah GIA memang sangat panjang. Sama halnya jika saat ini kita mengurutkan deretan penghargaan yang diraih maskapai ini. Sejak berganti nama menjadi Garuda Indonesia pada masa kepemimpinan R.A.J. Lumenta pada 1985, berbagai kemajuan terus dialami si ekor biru.

Dimulai dengan pemindahan pangkalan utama maskapai dari bandara Kemayoran dan Halim Perdanakusuma ke bandara Soekarno-Hatta, untuk perbaikan sistem manajemen dan penambahan rute. Tak lama berselang, Garuda Indonesia merintis penerbangan ke Amerika Serikat dengan tujuan Los Angeles. Penerbangan ini diberi logo spesial gabungan Continental Airlines dan Garuda Indonesia.

Inovasi-inovasi yang dilakukan membuat popularitas Garuda Indonesia semakin meningkat di dunia. Walau sempat diterpa larangan terbang ke Eropa pada tahun 2007, Garuda Indonesia langsung bangkit dan kembali mencuri perhatian dunia dari sisi positif.

Juni 2012 Garuda Indonesia menjalin kerja sama dengan Liverpool FC sebagai sponsor global. Logo Garuda Indonesia saat itu bisa kita lihat di jersey latihan Liverpool dan ­ads-banner di Anfield Stadium.

Kerja sama Liverpool FC dengan Garuda Indonesia | Foto: Yuniadhi Agung/Kompas

Setahun kemudian Garuda Indonesia mendapat dua penghargaan dari Skytrax, untuk kategori World Best Economy Class dan World Best Economy Class Seat. Lalu di pertengahan 2014, berlanjut dengan meraih penghargaan World Best Cabin Crew.

Di tahun 2014 pula tepatnya tanggal 5 Maret, Garuda Indonesia resmi bergabung dengan SkyTeam sebagai anggota ke-20, dan menjadi maskapai penerbangan pertama dari Indonesia yang melakukannya.

Rute-rute penerbangan Garuda Indonesia juga terus bertambah. Untuk rute internasional, di tanggal 30 Mei 2014 Garuda Indonesia membuka rute langsung (direct flight) ke Amsterdam. Kemudian tanggal 8 September 2014, Garuda Indonesia membuka rute ke London, Inggris.

Lalu yang terbaru di bulan Desember 2018, Garuda Indonesia mencatatkan ketepatan waktu kedatangan dan keberangkatan sebesar 89,9% dari 18.438 penerbangan. Itu merupakan catatan terbaik se-Asia Pasifik, menurut data dari OAG Aviation.

Capaian-capaian tersebut membuat Garuda Indonesia menjadi maskapai penerbangan kebanggaan Tanah Air. Sebagai unit transportasi publik yang mengharumkan nama bangsa di angkasa, juga sebagai prajurit yang turut serta menjaga perdamaian negara.

Dirgahayu, Garuda Indonesia!

Sumber: garuda-indonesia.com, apg.or.id, bandarasoekarnohatta.com

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tahukah Kamu, Jenis Burung Khas Indonesia Bertambah di 2018? Sebelummnya

Tahukah Kamu, Jenis Burung Khas Indonesia Bertambah di 2018?

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura Selanjutnya

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.