Inilah Pemenang Anugerah Sastra Rancagé 2019

Inilah Pemenang Anugerah Sastra Rancagé 2019

Pemenang Anugerah Sastra Rancage 2018 © Sumber: Menara62

Yayasan Kebudayaan Rancagé telah mengumumkan pemenang Penghargaan Sastra Rancagé tahunannya, yang terdiri dari para penulis dari seluruh Indonesia.

Pengumuman ini diumumkan pada hari Kamis, bertepatan dengan hari ulang tahun pendiri yayasan tersebut, Ajip Rosidi.

Sepanjang tahun lalu, hingga 110 buku dalam bahasa Sunda, Bahasa Jawa, Bali, Madura, Batak, Lampung, Banjar, Madura, dialek Jawa dari Banyuwangi bernama Using, Cirebon, dan Jawa-Banten, diserahkan ke yayasan, kata ketua Titi Surti Nastiti.

"Namun tahun ini kami hanya memberikan tiga penghargaan Rancagé kepada sastra Sunda, Jawa, dan Bali," kata Titi dalam sebuah acara pengumuman di Gedung Sunan Ambu, Institut Seni Budaya Indonesia di Bandung, Jawa Barat.

Di antara penerima penghargaan adalah Eris Risnandar, yang menulis koleksi puisi Sunda Serah; Sunaryata Soemardjo yang menulis novel Jawa Tembang Raras ing Tepis Ratri; dan I Ketut Sandiyasa, yang menulis kumpulan cerita pendek yang disebut Kupu-kupu Kuning Ngindang.

Masing-masing dari mereka menerima piala dan uang tunai Rp5 juta.

Selain itu, penghargaan Samsoedi untuk buku anak-anak Sunda diberikan kepada Ai Rohmawati untuk Pohaci Nawang Wulan.

Untuk menjaga kualitas karya sastra, panitia menetapkan batas memiliki minimal tiga buku dari tiga penulis berbeda untuk setiap bahasa daerah. Jika dalam satu tahun, hanya satu atau dua judul yang diterbitkan, acara akan ditunda ke tahun berikutnya.

7 Sastrawan Pemenang Anugerah Sastra Rancage 2018 | Foto: DKJ
7 Sastrawan Pemenang Anugerah Sastra Rancage 2018 | Foto: DKJ

Pada tahun 2018, penghargaan Rancagé diberikan kepada penulis Sunda, Jawa, Bali, Lampung, Batak, dan Banjar.

Titi mengatakan bahwa buku-buku yang ditulis dalam dialek lokal, seperti Sunda-Banten, telah dikenali oleh panitia selama dua tahun terakhir.

"Salah satu pemenang Rancagé pada 2017 untuk sastra Jawa adalah Agul-agul Belambangan oleh Moh. Syaiful yang menggunakan dialek Jawa, Using. Kami percaya bahwa bacaan yang baik akan tetap bagus terlepas dari bahasanya," katanya.

"Panitia juga berupaya untuk mencari tahu apakah buku-buku yang dikirimkan telah dipublikasikan untuk umum sehingga masyarakat dapat mengakses buku-buku itu dan disimpan di perpustakaan. Mereka tidak hanya dicetak demi memenuhi persyaratan penghargaan."

Ajip Rosidi, 81, memprakarsai penghargaan tersebut pada tahun 1989 dalam upaya untuk membantu melestarikan dan mengembangkan sastra bahasa daerah.

Sejak 2004, panitia telah membagikan piala dan hadiah uang tunai sebesar Rp5 juta untuk para pemenang, yang menurut Titi masih sangat kecil. "[Hadiahnya] sangat kecil dibandingkan dengan penghargaan sastra lainnya yang dapat menawarkan puluhan juta rupiah," tambahnya.

Yayasan percaya bahwa literatur bahasa daerah tidak hanya menampilkan perspektif etnografi suatu daerah tetapi juga mendorong tema baru, teknik, dan pengembangan ide. Oleh karena itu, para juri datang dari berbagai daerah sehingga mereka dapat memutuskan buku terbaik berdasarkan integritas dan keahlian mereka.

Sementara itu, aktor, penulis dan pendiri Teater Koma Norbertus "Nano" Riantiarno mempertanyakan penolakan Ajip untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam memegang penghargaan Rancagé.

"Jika pemerintah [terlibat], hadiahnya bisa lebih besar," katanya.

Menanggapi masalah ini, Ajip mengatakan dia tetap setia pada prinsipnya untuk tidak meminta bantuan dari pemerintah. "Saya menolak untuk melakukannya. Rancagé telah bertahan hingga hari ini. Jika pemerintah mau memberikan sesuatu, saya akan menerimanya. Tetapi sebaliknya, itu memberi saya pemberitahuan pajak," kata Ajip.

Waktu dan tempat untuk Penghargaan Literatur Rancagé 2019 dan upacara Penghargaan Samsoedi belum diputuskan, kata Titi. "Yayasan akan melakukan acara bekerja sama dengan pihak lain. Lebih banyak pembaruan akan diumumkan."


Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kontrak Hukum: Dari Startup untuk Startup Sebelummnya

Kontrak Hukum: Dari Startup untuk Startup

Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan dengan Gelar Pahlawan Selanjutnya

Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan dengan Gelar Pahlawan

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.