Grebeg Sudiro: Bukti Nyata Harmonisnya Antar Etnis di Surakarta

Grebeg Sudiro: Bukti Nyata Harmonisnya Antar Etnis di Surakarta
info gambar utama

Ribuan orang berkumpul di Pecinan dekat Pasar Gede di kota Surakarta, Jawa Tengah pada hari Minggu untuk parade budaya Grebeg Sudiro untuk menyambut Tahun Baru Imlek, yang akan berlangsung besok 5 Februari 2019.

Parade sepanjang 4 kilometer tersebut dimulai pada pukul 3 sore dengan berbagai sajian makanan. Dua gunungan nian gao (kue Tahun Baru Imlek, dikenal sebagai kue keranjang di Indonesia), gunungan buah-buahan, sayuran, dan hidangan lokal, termasuk bakpao, getuk (camilan berbasis singkong yang dilapisi dengan gula aren cair dan kelapa parut), dan onde-onde diarak di sekitar Kampung Surodiprajan.

Dikenal sebagai Pecinan kota Surakarta, Surodiprajan terdiri dari Pasar Pasar Gede, kelenteng Tionghoa Tein Kok Sie dan sejumlah desa, termasuk Balong, Kepanjeng, dan Ketandan, dimana asimilasi budaya telah terjadi selama ratusan tahun.Pertunjukan di daerah Kampung Sudiroprajan menarik perhatian banyak orang meskipun hujan turun. (JP / Ganug Nugroho Adi)

Pertunjukan di daerah Kampung Sudiroprajan menarik perhatian banyak orang meskipun hujan turun | Foto: Ganug Nugroho Adi / Jakarta Post
info gambar

Melibatkan sekitar 3.000 peserta, pawai tersebut menampilkan perpaduan antara pertunjukan Jawa-Cina, dari tarian reog ponorogo dan tari gunung hingga tarian liong (naga) dan barongsai (singa). Pertunjukan tradisional juga ditampilkan, termasuk tarian Lembu Sura, pertunjukan Joko Tingkir, kuda lumping, dan tari topeng ireng. Peserta lainnya berpakaian seperti dewa, pelawak, atau biarawan.

Meskipun hujan deras, pawai tersebut berhasil menarik kerumunan yang dimana orang-orang berduyun-duyun menuju daerah Pasar Gede, tempat utama acara tersebut.

Penampilan Liong dan Barongsai | Foto: Ganug Nugroho Adi
info gambar

Pembagian sajian makanan yang tadinya diarak menandai puncak Grebeg Sudiro. Orang-orang berlarian untuk mendapatkan bagian kue keranjang yang dibagikan dari lantai dua Pasar Gede. Sekitar 5 kilogram kue keranjang dikonsumsi selama acara.

“Saya menonton parade ini setiap tahun dan berdesak-desakan dengan orang lain untuk mendapatkan kue keranjang,” kata Rimati, 21, yang duduk di bangku kuliah pada sebuah universitas negeri di Surakarta. "Surakarta adalah satu-satunya kota di mana orang Jawa ambil bagian dalam perayaan Imlek."

Walikota Surakarta FX Hadi "Rudy" Rudyatmo mengatakan harmoni antar etnis di Surakarta telah ada sejak lama. “Grebeg Sudiro telah menghilangkan batas-batas antara Jawa-Tionghoa dan etnis lain. Surakarta adalah kota yang beragam, dan Indonesia dibangun dari keanekaragaman,” kata Rudy.

Sekitar 3.000 orang berpartisipasi pada Grebeg Sudiro tahun ini | Foto: Ganug Adi Nugroho / Jakarta Post
info gambar

Kota ini memiliki tradisi lain yang menampilkan perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa, yakni upacara syukuran Buk Teko, yang diadakan sebelum Grebeg Sudiro.

Ketua panitia penyelenggara Grebeg Sudiro 2019, Martono Hadi Pranoto, mengatakan parade ini menunjukkan toleransi dan keanekaragaman budaya. “Akulturasi lebih dari sekedar sosialisasi. Itu ada di level budaya dan aspek kehidupan lainnya, ”kata Martono.


Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini