Helmy Yahya dan Formula Anti-Aging untuk TVRI

Helmy Yahya dan Formula Anti-Aging untuk TVRI

Helmy Yahya © HW/balaikita.com

Perlahan tapi pasti TVRI mulai meninggalkan citra lawasnya sebagai televisi yang jadul, kuno, atau ketinggalan zaman. Stasiun televisi yang pertama sekaligus tertua di Indonesia ini kini telah berbenah, dengan wajah yang semakin kekinian.

Resep-resep TVRI agar tetap tampak awet muda meski di usia yang terus menua dibeberkan oleh Direktur Utama TVRI, Helmy Yahya. Saat berbincang langsung dengan GNFI di lantai 3 gedung TVRI, beliau menjelaskan panjang lebar tantangan yang dihadapi TVRI dan solusi pemecahannya.

Helmy Yahya tak memungkiri kalau kualitas sumber daya manusia (SDM) di TVRI belum maksimal. Ini terlihat dari usia mayoritas karyawan yang sudah menginjak setengah abad, atau melebihi 50 tahun! Selain itu beberapa peralatan juga sudah usang.

Ini mengakibatkan TVRI kesulitan bersaing dengan tv-tv swasta lainnya, karena selama bertahun-tahun lamanya para pegawai TVRI tidak terlatih untuk bersaing. Sangat memprihatinkan, karena dulu di awal masa berdirinya, TVRI merupakan primadona televisi.

Saat didirikan di tahun 1962 menjelang dimulainya Asian Games, TVRI tidak mempunyai satupun saingan. “Luar biasa itu, semua orang nonton TVRI karena nggak ada saingan,” ungkap Helmy Yahya.

Agar kejayaan TVRI bisa kembali, atau setidaknya mencoba beranjak dari tidur panjangnya, Helmy Yahya pun memutar otak. Ia mencari solusi, dan tercetuslah ide membuat tagar #WeFightBack.

“Karena TVRI tuh mestinya adalah sebuah tv yang memang harus dicintai gitu, didukung oleh semua stakeholder. Baik masyarakat publik maupun pemerintah, dan para pemangku kepentingan,” ujar saudara sekandung Tantowi Yahya ini.

Tagar ini juga berfungsi sebagai pembangkit semangat, sesuai slogan yang dulu sempat sangat terkenal, yakni “Tontonan yang Jadi Tuntunan”, yang merupakan penerapan dari konsep to educate, to inform, dan to entertain.

Peremajaan pun dilakukan, agar wajah TVRI semakin milenial. Tampilan layarnya mulai berubah, grafisnya berubah, dan cara menyusun pola juga berubah. Ada juga program-program untuk milenial, seperti live music band-band indie dan acara komedi Ria Djenaka Milenial. Pembawa berita atau anchor juga sangat milenial, yang membuat generasi milenial kembali melirik TVRI.

Penerapa awal formula racikan Helmy Yahya langsung berbuah positif. Ketika dibuka lowongan 150 tenaga honorer, yang mendaftar mencapai 21.353 orang. Jumlah yang sangat fantastis, dan menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia tak lagi menganggap TVRI sebagai stasiun tv yang katrok.

Inovasi juga meliputi pengadaan aplikasi TVRI Click, yang membuat siaran TVRI bisa diakses di manapun di seluruh dunia. Kemudian TVRI kini juga sudah memiliki empat kanal digital, yaitu nasional, lokal, pendidikan dan budaya, serta kanal 4 untuk sport yang gambarnya sudah HD.

Logo TVRI Sport-HD | Foto: tvri.go.id

Tantangan di depan mata

Walau penampilan TVRI kini terus membaik, tapi Helmy Yahya juga mengakui masih banyak PR yang harus diselesaikan. Contohnya dengan memperbaiki TVRI secara organisasi.

“Kita melakukan revisi banyak sekali, Kita melakukan reformasi birokrasi, menanamkan disiplin, mengelola SDM gitu yang tidak banyak yang muda-muda. Kalau memungkinkan secara aturan dan bujet, kita mulai merekrut anak-anak muda untuk memperbaiki layar kita, untuk memperbaiki medsos kita, untuk memperbaiki kreatif kita,” tutur pria yang memiliki julukan Bapak Kuis Indonesia ini.

Perubahan ini penting, lantaran TVRI merupakan tv publik yang harus meng-cover seluruh wilayah Indonesia, dan tidak boleh komersial. Menurut beliau, seharusnya dengan tantangan ini TVRI diberi anggaran yang lebih besar dari tv manapun di Indonesia, supaya bisa bersaing.

Sayangnya saat ini anggaran TVRI yang didapat dari APBN, jauh di bawah rata-rata industri televisi. Situasi yang sangat tidak ideal, lantaran TVRI memiliki 4.800 pegawai, 30 kantor plus 1 studio alam di Depok, dan punya 365 pemancar.

Selain itu ada 29 stasiun daerah di luar Jakarta, 360 pemancar di seluruh Indonesia, yang membuat TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi dengan jangkauan coverage paling luas.

“Hanya 5 provinsi baru yg belum ada stasiun tv daerahnya, dan ini akan kita tambah terus,” imbuh Helmy.

Ingin tahu lebih lanjut apa saja lika-liku TVRI dalam meremajakan tampilannya, dan stasiun televisi mana yang menjadi kiblat percontohan. Simak wawancara lengkapnya dalam rubrik Tokoh Bicara di bawah ini, sembari mengingat kembali betapa ikoniknya stasiun tv yang satu ini saat Asian Games 1962 dan 2018.

Pilih BanggaBangga23%
Pilih SedihSedih15%
Pilih SenangSenang31%
Pilih Tak PeduliTak Peduli8%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi23%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Asal Usul Terbentuknya Daratan Pulau Jawa Sebelummnya

Asal Usul Terbentuknya Daratan Pulau Jawa

Mayor Inf Alzaki, Perwira Indonesia Pertama yang Raih Penghargaan US Army Selanjutnya

Mayor Inf Alzaki, Perwira Indonesia Pertama yang Raih Penghargaan US Army

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.