Sipandora yang Membantu Banyak Pihak Melalui Fiturnya

Sipandora yang Membantu Banyak Pihak Melalui Fiturnya

Ilustrasi Citra Satelit © Sumber: Peta Citra Satelit

Kepala Badan Kelautan dan Perikanan Nias Utara, Sabar Jaya Telaumbanua di provinsi Sumatera Utara tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya ketika menyaksikan para nelayan lokal di kabupaten Nias Utara kembali dengan tangkapan besar - jauh lebih besar dari biasanya.

Dalam sebuah video pendek yang ditunjukkan selama pertemuan koordinasi nasional yang diadakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) baru-baru ini, Sabar mengungkapkan bahwa data citra satelit LAPAN telah menyumbang peran penting dalam panen besar tersebut.

“Kami berterima kasih kepada LAPAN karena telah menyediakan data kepada kami karena membantu kami dalam mengidentifikasi area mana yang terdapat sejumlah besar ikan. Ini menghemat waktu dan uang [operasional] kami,” kata Sabar.

LAPAN, yang memperoleh citra dari satelit remote sensing seperti Terrasar-X Jerman dan SPOT Prancis untuk penelitian dan aplikasi operasional, memungkinkan masyarakat sekarang mengakses data secara bebas melalui ponsel aplikasi yang disebut Sipandora.

Aplikasi Sipandora milik LAPAN | Sumber: YouTube
Aplikasi Sipandora milik LAPAN | Sumber: YouTube

Aplikasi tersebut, yang telah tersedia di Google Play app store sejak akhir tahun lalu, secara resmi diluncurkan kepada publik pada hari Rabu selama pertemuan koordinasi nasional.

Wakil kepala divisi remote sensing LAPAN, Orbita Roswintiarti, mengatakan inisiatif untuk mengembangkan aplikasi tersebut datang setelah penerbitan Peraturan Pemerintah PP No. 11/2018, yang memberi mandat lembaga untuk menyebarluaskan data citra satelit kepada publik "untuk mendukung pembangunan nasional."

Pasal 48 dari peraturan tersebut menetapkan bahwa data tersebut dapat digunakan oleh lembaga pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Orbita lebih lanjut mengungkapkan bahwa aplikasi seluler Sipandora menawarkan berbagai informasi terkait sumber daya alam, lingkungan, bencana, dan lainnya. Lembaga atau institusi yang dapat memanfaatkan data termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan, Badan Mitigasi Bencana Nasional, dan Badan Pertanahan Nasional.

"Polisi Nasional bahkan dapat menggunakan data kami untuk mencari ladang ganja dan agen pajak menggunakannya untuk memetakan objek-objek yang dikenakan pajak,” kata Orbita di sela-sela pertemuan.

Ada dua fitur utama di dalam aplikasi tersebut, yaitu sistem pemantauan sumber daya alam (SIPANDA) dan sistem informasi mitigasi bencana (SIMBA).

SIPANDA membuat pengguna dapat memantau berbagai potensi sumber daya alam baik di darat maupun di perairan, seperti sawah, area pertambangan serta area distribusi ikan dan terumbu karang, sedangkan SIMBA, terdapat opsi untuk "peringatan dini bencana", yang meliputi informasi tentang titik panas dan potensi banjir harian, serta "dampak bencana", di mana pengguna dapat memantau keberadaan daerah yang terkena dampak ketika bencana terjadi.

Misalnya, ketika pengguna mengklik menu "Gempa bumi Lombok" pada aplikasi, mereka akan menemukan daerah yang rusak terletak di bagian barat pulau, di kota Mataram, dan bagian timur laut pulau dekat Gili Lawang dan pulau-pulau Gili Sulat.

Seorang pejabat dari Kabupaten Lebong di provinsi Bengkulu, Edi Ramlan, mengakui bahwa aplikasi mobile yang baru diluncurkan ini akan memudahkan pekerjaan berbagai lembaga di pemerintahan Lebong karena datanya hanya butuh satu klik saja untuk bisa diakses.

Sebelumnya, untuk memperoleh citra satelit hanya dari satu kabupaten, pemerintah harus membayar hingga Rp 400 juta (US $ 28.521) kepada pihak ketiga, biasanya konsultan.

“Bayangkan jika satu kabupaten memiliki tujuh hingga delapan kabupaten, mereka akan mengeluarkan biaya tinggi untuk mendapatkan data. Sekarang semua informasi ada di tangan Anda, dan gratis,” kata Edi.


Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ada Senyum Petani Lokal Dibalik Agrowisata Cau Chocolate Bali Sebelummnya

Ada Senyum Petani Lokal Dibalik Agrowisata Cau Chocolate Bali

Kerajaan Islam di Jawa; Kerajaan Cirebon Selanjutnya

Kerajaan Islam di Jawa; Kerajaan Cirebon

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.