Bahkan Saya Baru Tahu Semalam Adalah Hari Bahasa Ibu Internasional...

Bahkan Saya Baru Tahu Semalam Adalah Hari Bahasa Ibu Internasional...

Anak-anak Indonesia © Sumber: MalangTODAY

Adakah di antara bubuhan pian nih nang tahu lamunnya hari semalam tuh tanggal 21 Februari nih diraya'akan Hari Ibu Internasional jar. Lek aku se lagek ngerti iki mau lho dikandani koncoku, lek gak ngono yo gak ngerti. Padahal seharusnya aku merayakannya, as I speak 2 different mother languages.

Kalimat di atas adalah kalimat terdiri dari tiga bahasa; Bahasa Banjar, Bahasa Jawa (ngoko), Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris yang berarti; "Apakah di antara kalian ada yang tau kalau kemarin tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Ibu International? Kalau saya sih tidak tau, baru tau setelah diberitahu teman saya tadi, kalau tidak diberitau ya tidak akan tau. Padahal seharusnya saya merayakannya, karena saya memiliki dua bahasa ibu.

Saya menuliskan kalimat tersebut dalam 4 bahasa berbeda karena ke-empat bahasa tersebut adalah bahasa yang dapat saya gunakan. Meskipun saya faham betul ke-empat bahasa tersebut, tetap terdapat perbedaan. Ibu saya adalah orang asli Jawa dan ayah saya adalah orang asli Banjar dan saya lahir dan besar di Banjarmasin oleh karena itu Bahasa Banjar dan Bahasa Jawa adalah dua bahasa Ibu saya, Bahasa Indonesia -ya sama saja seperti kebanyakan orang Indonesia dimana ini adalah bahasa nasional yang digunakan ketika bertemu kawan dari daerah lain yang berbeda bahasa, Bahasa Inggris adalah subjek favorit saya sejak bahkan sebelum masuk TK.

Sesuatu yang menggelitik adalah, dua bahasa pertama jarang sekali saya gunakan apalagi Bahasa Banjar. Semenjak kuliah di Surabaya, rasa-rasanya Bahasa Banjar saya jadi aneh sekali jika dilafalkan, seperti orang asing yang belajar Bahasa Indonesia. Pernah tahu kan? Di awal-awal mencoba mereka pasti merasa kesulitan.

Saya lebih sering mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris. Terlebih, di akun media sosial saya rasa-rasanya hampir tidak pernah saya menggunakan Bahasa Ibu maupun Bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia yang lebih sering digunakan dibanding dua bahasa Ibu itu saja bukan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan diksi baku sesuai KBBI. Lebih ke bahasa Indonesia slang. Lebih parah, saya seringkali menggunakan jasa dari google translate untuk menerjemahkan sebuah ungkapan atau kata yang saya ketahui dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

Saat diberitau oleh teman mengenai Hari Bahasa Ibu Internasional yang dirayakan semalam, yang saya rasakan adalah... campur aduk.

Kalau saya bisa bilang ke diri saya adalah, "Bodoh, katanya cinta Indonesia. Kalau cinta Indonesia harusnya bisa merayakan Hari Ibu Internasional dengan bangga dong! Kan kamu bisa dua bahasa Ibu." Tapi kenyataannya adalah, selain saya (tadinya) tidak mengetahui bahwa perayaan serupa itu ada, saya juga tidak bisa berpura-pura bangga karena saya sendiri tidak mempraktikannya dengan baik.

Di Indonesia ini, dengan pluralitasnya yang sudah tidak perlu diragukan lagi, terdapat lebih dari 650 bahasa daerah. 11 dari bahasa daerah tersebut telah punah, dan 130 bahasa daerah lainnya terancam menyusul kepunahan 11 bahasa daerah tersebut.

11 bahasa daerah yang terancam punah tersebut adalah Mawes, Nila, Piru, Palumata, Hukumina, Tandia, Sarua, Ternateno, Moksela, Kajeli, dan Hoti. Sayang sekali bahasa-bahasa daerah ini tinggal nama.

Banyak sekali sebenarnya faktor punahnya suatu bahasa, dituturkan oleh Kepala Bidang Perlindungan Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa Jakarta Ganjar Harimansyah penyusutan jumlah penutur, perang, bencana alam yang besar, kawin campur antarsuku, sikap bahasa penutur, dan letak geografis. Dia mencontohkan bahasa-bahasa di Maluku yang jumlah penuturnya hanya 0,76 persen.

misalnya bencana alam, perang, urbanisasi, pernikahan antar suku, dan seperti saya ini -jarang menggunakannya, terlalu nyaman dengan bahasa Inggris.

Kawan, jika kalian membaca tulisan ini dan merasakan apa yang saya rasakan, saya berterimakasih jika kalian merasakan hal serupa, karena itu artinya kalian masih peduli dengan kelestarian Bahasa Ibu. Saya berharap bahwa sama-sama kita harus bisa melestarikan bahasa Ibu apa saja yang kita bisa agar tidak hilang menyusul beberapa bahasa Ibu yang telah hilang tersebut

Namun, jika sebaliknya saat membaca tulisan ini, kalian bisa menjawab bahwa kalian tidak seperti saya, kalian masih mempraktekkan bahasa Ibu kalian, saya sangat bangga. Saya berterimakasih, masih ada orang yang peduli dengan budaya aslinya dengan masih mempraktekkannya.


Sumber: Kompas

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih50%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Satu Purnama Menyambut Ratangga Sebelummnya

Satu Purnama Menyambut Ratangga

Kemeriahan Hari Pertama Jakarta Fair 2019 Selanjutnya

Kemeriahan Hari Pertama Jakarta Fair 2019

0 Komentar

Beri Komentar