• Sebulan lagi MRT akan resmi meluncur di rel-rel khusus ibu kota Indonesia.
  • Adanya MRT di Jakarta dapat menjadi opsi transportasi umum bagi para penduduknya, selain bus BRT, KRL, dan angkutan kota.
  • Pembukaan akan dilakukan bertahap, dan di Tahap 1 yang dibuka adalah jalur Lebak Bulus-Bundaran HI

Sekitar sebulan lagi atau setara dengan lama penantian satu bulan purnama, Jakarta akan meresmikan moda transportasi publik terbarunya. Akhir Maret 2019 antara tanggal 24-31, Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT) Tahap 1 akan resmi meluncur secara komersial, usai uji coba terbatas pada 12 Maret.

Hadirnya MRT di ibu kota Indonesia dapat menambah variasi transportasi publik bagi para penduduknya. Ini penting, karena tingginya mobilitas warga Jakarta membuatnya kudu didukung oleh transportasi umum yang memadai. Dengan adanya MRT, akan menjadi opsi lain di samping bus transJakarta dan kereta Commuter Line.

Harganya pun sangat terjangkau. Tiket sekali jalan MRT belum ditetapkan, tapi diyakini berkisar antara Rp 8.500-10.000. Angka itu termasuk subsidi dari pemerintah DKI Jakarta, karena jika tidak disubsidi, harganya bisa mencapai Rp 20.000-25.000 sekali jalan.

Nantinya jalur-jalur MRT akan dibuka secara bertahap. Untuk tahap pertama rute yang dibuka adalah Lebak Bulus-Bundaran HI, yang membentang sepanjang 16 Km. Prjalanan dari titik awal keberangkatan ke tujuan akhir hanya butuh waktu sekitar 30 menit, dengan kecepatan rata-rata 40-60 Km/jam.

Dalam perjalanannya di Tahap 1, sebanyak 13 stasiun MRT bakal disinggahi oleh kereta bernama Ratangga ini. Tujuh di antaranya adalah stasiun layang yang berada di Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja, sedangkan enam stasiun bawah tanah dapat dijumpai di Senayan, Istora, Bendungan Hilir (Benhil), Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Untuk frekuensi keberangkatannya, kereta MRT di Tahap 1 adalah setiap 10 menit dan 5 menit di jam sibuk. Rangkaian keretanya terdiri dari 6 gerbong, yang dapat mengangkut hingga 1.900 penumpang. Dengan begitu, dalam sehari MRT dapat memiliki daya tampung sekitar 173.400 penumpang.

Foto: transjakarta.co.id

Terintegrasi dengan transJakarta

Peluncuran resmi MRT yang mulai diuji coba pada 12 Maret dan dibuka secara komersial pada akhir Maret, juga akan diikuti penambahan rute bus transJakarta. Ini merupakan upaya untuk membuat dua moda transportasi umum yang dikelola BUMD DKI tersebut saling terintegrasi.

Dilansir dari KOMPAS.com, transJakarta akan membuka enam rute baru bersamaan dengan dimulainya free trial run MRT pada 12 Maret mendatang. Enam rute tersebut adalah Pondok Cabe-Stasiun Lebak Bulus, Cinere-Stasiun Lebak Bulus, Jatijajar-Stasiun Lebak Bulus, Jatijajar-Stasiun Fatmawati, BSD-Stasiun Fatmawati, dan Bintaro-Stasiun Fatmawati.

"Kenapa banyak berada di kawasan dari luar DKI? Karena realitanya memang komuter itu lebih banyak tinggal di kawasan luar DKI," ungkap Direktur Utama PT. transJakarta, Agung Wicaksono, dikutip dari KOMPAS.com.

Khusus untuk rute BSD-Stasiun Fatmawati dan Bintaro-Stasiun Fatmawati akan memakai bus premium transJakarta yang bernama Royaltrans. Harganya lebih tinggi dari transJakarta reguler, sekitar Rp 20.000-25.000, tapi Direktur Operasional PT. transJakarta, Daud Joseph, menilai harga ini lebih murah ketimbang memakai kendaraan pribadi.

“Rute non-BRT risikonya macet, tapi minimal kompensasinya adalah kenyamanan, makanya bus-bus yang saya arahkan ke titik itu adalah bus royal, tarifnya beda,” ucapnya disadur dari KOMPAS.com.

“Kendaraan pribadi dari BSD misalnya, bayar tol, sopir, BBM, cicilan mobil. Ini (Royaltrans) tinggal duduk manis sampai Fatmawati,” imbuh Daud.

Selain penambahan jalur transJakarta, halte dan stasiun pun juga akan langsung tersambung. Ada empat halte dan stasiun yang saling terintegrasi, yaitu halte dan stasiun Bundaran HI, halte Tosari dan stasiun Dukuh Atas, halte CSW dan stasiun Sisingamangaraja, serta halte dan stasiun Lebak Bulus.

Khusus di halte CSW dan stasiun Sisingamangaraja, PT. transJakarta sedang menggelar sayembara desain kawasan. Sementara itu skywalk yang menghubungkan halte dan stasiun sudah mulai dibangun dan diperkirakan selesai pada Juni 2019.

Pembangunan Tahap II segera dimulai

Setelah Tahap I dibuka, selanjutnya MRT Jakarta akan memulai tahapan baru yakni pembangunan Tahap II. Di tahap ini, pembangunan dibagi dua yaitu IIA yang melayani rute Bundaran Hotel Indonesia-Stasiun Kota, dan IIB rute Stasiun Kota-Ancol.

“Untuk tahap ke II bulan depan sudah akan dimulai pembangunan dari HI ke Stasiun kota, sedangkan Stasiun Kota ke Ancol kita studi, kita harapkan keduanya selesai pada tahun 2024,” terang Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dikutip dari TEMPO.co.

Bagaimana, Kawan GNFI? Apakah kamu sudah berencana menjajal moda transportasi baru ini?

Sumber: TEMPO.co, KOMPAS.com, Tribunnews, CNN Indonesia

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu