Boso Walikan Malang dan Sejarah Panjang Para Pejuang

Boso Walikan Malang dan Sejarah Panjang Para Pejuang

Alun-alun Tugu, salah satu ikon kota Malang © Muhammad Ramadhan Bagaskara

  • Boso walikan atau bahasa yang dibalik menjadi ciri khas dialek di Malang, yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.
  • Namun demikian tidak semua kata bisa dibalik dalam boso walikan. Ada aturan-aturan tertentu.
  • Ragam bahasa ini juga terus berkembang, bahkan bahasa Inggris pun juga bisa dibalik.

Nakam ingeb ambek nendes kombet kane lop.

Bagi yang belum pernah ke Malang atau belum pernah mendengar dialek khas di sana, kalimat itu akan terdengar sangat asing di telinga. Padahal, sebenarnya kalimat di atas masih berupa bahasa Jawa, hanya dibalik saja susunan katanya.

Membolak-balikkan susunan kata dari belakang ke depan menjadi salah satu keunikan bahasa Jawa di Malang. Model bahasa ini pun menjadi slang atau bahasa gaul di sana, dan menjadi ciri khas bahasa di kota terbesar kedua provinsi Jawa Timur ini.

Namun tahukah kamu asal mula kenapa bisa muncul boso walikan (kata yang dibalik susunannya) di Malang dan hanya ada di kota tersebut? Kenapa pula hanya beberapa kata saja yang memiliki hak untuk dibalik pengucapannya?

Terciptanya boso walikan bermula sejak zaman penjajahan Belanda. Dalam perjuangan Gerilya Rakyat Kota (GRK), para pejuang khawatir pembicaraan yang mereka lakukan akan bocor ke telinga Belanda, karena saat itu banyak mata-mata Belanda yang berasal dari orang pribumi.

Setelah memutar otak dan menampung aspirasi sana-sini, akhirnya tercetuslah sebuah ide kreatif. Sebagai penanda kalau yang diajak ngomong adalah sesama pejuang GRK, bahasa yang dipakai adalah boso walikan. Caranya dengan melafalkan sebuah kata bukan dari huruf terdepan (kiri ke kanan) seperti biasanya, tapi dibalik dari belakang (kanan ke kiri).

Contoh, makan jadi nakam, rek jadi ker, tidak jadi kadit, mas jadi sam dan lain sebagainya. Kemudian untuk kata yang mengandung pelafalan “ng” seperti Malang, tetap berbunyi “ng” saat dibalik, seperti Ngalam, ingeb (bengi/malam), atau itreng (ngerti). Perkecualian hanya untuk kata “orang” yang dibalik jadi genaro atau gnaro.

Perkembangan, penambahan, dan perkecualian

Seiring berjalannya waktu, budaya boso walikan di Malang terus berkembang. Dari kata-kata yang sudah ada sejak zaman perjuangan kemerdekaan, sampai kata-kata yang muncul usai kemerdekaan diraih.

Kawan GNFI mungkin pernah mendengar kata-kata ini: hailuk, libom, atau adapes rotom yang berarti kuliah, mobil, dan sepeda motor. Kata-kata tersebut belum banyak atau belum muncul saat zaman kolonial Belanda, dan baru lahir atau populer usai Indonesia merdeka.

Perkembangan boso walikan pun tak sebatas itu. Ada kata ebes yang merupakan modifikasi dari bahasa Arab yakni “sebeh” untuk menyebut orang tua laki-laki, yang awalnya digunakan untuk panggilan kehormatan pada pemimpin atau komandan. Lama kelamaan, kata ebes kemudian berubah fungsi menjadi penyebutan untuk ayah atau bapak.

Penambahan kosa kata pun terus terjadi sampai era generasi milenial saat ini. Kalian tentu sudah sangat familiar dengan kata woles, bukan? Betul, itu adalah boso walikan dari slow, bahasa Inggris yang dalam konteks ini artinya santai saja atau pelan-pelan saja (bukan judul lagu band Kotak lho ya).

Selain itu ada pula perkecualian-perkecualian dalam tata aturan boso walikan. Tidak semua kata dibalik dari belakang ke depan sesuai urutan kata, dan tidak semua kata memiliki boso walikan.

Contoh, uklam yang kebalikan dari mlaku (jalan kaki), ublem kebalikan dari mlebu (masuk), ciwe kebalikan dari weci (bakwan), silup atau isilup kebalikan dari polisi, dan adapes kebalikan dari sepeda.

Bagaimana, apakah umak ngisup atau itreng dengan boso walikan khas Ngalam ini? Kalau kamu termasuk di golongan ngisup, coba segera ngalup ke hamur, nakam oges ngerog, sambil nendes kombet.

Sumber: Nganal Kodew, Kanal Malang, Kompasiana

Pilih BanggaBangga82%
Pilih SedihSedih4%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli4%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi4%
Pilih TerpukauTerpukau7%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bvlgari Resort Bali, Wakil Tunggal Indonesia di Forbes Travel Guide Sebelummnya

Bvlgari Resort Bali, Wakil Tunggal Indonesia di Forbes Travel Guide

Kemeriahan Hari Pertama Jakarta Fair 2019 Selanjutnya

Kemeriahan Hari Pertama Jakarta Fair 2019

0 Komentar

Beri Komentar